Jika Allah Berkenan, Biarkan Manusia Mengutuk: Berbagai Pelajaran dari Spurgeon Mengenai Kontroversi

22 Juli 2020
Artikel oleh Greg Morse
Staf penulis
, desiringGod.org

Sekilas pandang, mungkin tampak aneh teks yang tergantung di atas ranjang tempat tidurmu menyatakan: 

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu (Mat. 5:11-12).

Orang lain mungkin lebih memilih kutipan yang lain, tetapi Susannah Spurgeon justru membingkai perkataan-Nya Yesus, dengan perspektif Yesus yang menjungkirbalikkan tersebut, untuk mewanti-wanti suaminya (Charles). Ketika murid-murid-Nya Yesus menghadapi berbagai hal yang menyakitkan karena nama-Nya, respon yang tepat haruslah menghadapinya dengan bersukacita.

Ketika memperhatikan tokoh dari aliran Baptis ini; ketika membaca berbagai khotbahnya yang menggugah; ketika mengingat buah pelayanannya yang mungkin setara dengan buah pelayanan seratus ribu orang; ketika membaca kebangkitan rohani yang digerakkannya dan jiwa-jiwa tak terhitung yang dimenangkannnya bagi Kristus, kita bisa melihat bagaimana Pangeran Pengkhotbah ini berhasil dalam pelayanannya. Dibandingkan dengan pelayanannya kita, pelayanannya tampak membubung tinggi ke langit. Kita jarang berpikir, seperti yang dinyatakan Iain Murray, Spurgeon-yang-terlupakan adalah Spurgeon yang memerlukan Matius 5:11-12 tetap tergantung di dinding kamarnya. 

Pangeran-yang-Terlupakan 

Spurgeon-yang-terlupakan tersebut berdiri menghadapi beberapa badai kontroversi pada zamannya. Perlawanannya terhadap Arminianisme; kejijikannya terhadap ajaran mengenai baptisan-yang-bisa-melahirbarukan; dan perlawanannya terhadap kesatuan kelompok Injili terhadap sejumlah doktrin Kristen yang menyimpang (yang dikenal sebagai Kontroversi-Turun-Tingkat/ Downgrade Controversy) membuatnya menjadi sasaran serangan dari banyak orang.

Spurgeon yang ini, terutama pada awal dan akhir pelayanannya, memiliki alasan untuk menyebut dirinya sebagai ”kotorannya bumi” (24-25). Nama ”Spurgeon”, yang kita kasihi, malahan dianggap oleh pemilik nama tersebut sebagai nama yang ”disepak di jalan seperti halnya bola sepak” (28). Dia biasanya menyinggung dalam khotbahnya, ”Sering terlintas di benak saya mengenai pelecehan paling kasar, fitnah paling menakutkan, yang ditujukan pada saya secara pribadi dari surat kabar. Setiap sarana digunakan untuk menjatuhkan hamba Allah – setiap dusta diciptakan untuk ditimpakan pada saya” (63).

Spurgeon yang ini difitnah oleh berbagai surat kabar, dilecehkan oleh lawannya, dan dikecam oleh banyak hamba Tuhan dari kalangan Injili yang ia anggap sebagai sekutunya. Spurgeon yang ini adalah contoh hidup mengenai sukacita – namun yang sering dihindari – dari seorang hamba Tuhan yang dimaksud Yesus dalam Khotbah-di-Atas-Bukit .

Menghindari Sikap Kompromi

Apa yang kita bisa pelajari dari Spurgeon-yang-terlupakan ini? 

Spurgeon yang ini bisa mengajari kita bagaimana menangani kontroversi dengan baik dan tidak perlu sampai berkompromi. Keyakinannya, yang dipegangnya hingga meninggal, memang membuatnya menderita. Dia tidak melakukan hal ini supaya bisa dengan jelas berkhotbah: ”Saya pikir tidak ada pria-atau-wanita Kristen yang sanggup berjalan menuju surga dan dengan diam-diam bersembunyi dan lari dari satu semak ke semak yang lain, mengendap-ngendap menuju kemuliaan. Kekristenan dan kepengecutan? Itu adalah dua istilah yang saling bertentangan!” (“Speak for Yourself — a Challenge”).

Jika kita membuang godaan untuk berjalan mengendap-endap menuju kemuliaan, dan bisa memuliakan nama Kristus di tengah-tengah dunia ini, Spurgeon dengan baik mengajari kita supaya jangan sampai mencintai nama baik kita sendiri; merasa nyaman sebagai minoritas; mengenali (serta menolak) kesatuan-yang-palsu. 

1. Jangan jatuh cinta dengan namamu sendiri. 

”Kiranya namaku binasa, tetapi kiranya nama Kristus bertahan selamanya! Yesus! Yesus! Yesus! Mahkotai Dia sebagai Tuan di atas segalanya!” (43)

Spurgeon mewanti-wanti kita supaya tidak jatuh cinta dengan reputasi-dan-pengaruhnya kita sendiri. Dia melihat kasih-yang-berpusat-pada-diri-sendiri ini adalah bahan baku utama untuk menghalangi yang terbaik keluar dari dalam kita. Dia menunjukkan berbagai langkah dari orang yang dipakai Tuhan hingga akhirnya bersedia berkompromi:

Godaan datang pada orang yang sudah memiliki posisi tertentu sehingga mereka tidak bersedia melakukan sesuatu yang membuatnya bisa kehilangan posisi tersebut. Orang tersebut, yang tadinya adalah hamba Tuhan yang setia, mulai berkompromi dengan berbagai hal duniawi dan membisukan hati nuraninya sendiri dengan menciptakan teori yang membuat komprominya tersebut bisa dibenarkan dan bahkan diterima. Dia menerima pujian sebagai ”orang yang bijaksana”, padahal sebenarnya ia sudah berpaling ke pihak musuh. Seluruh kuasa dalam hidupnya kini telah berkarya dari sisi yang salah (170).  

Berapa kali kita melihat atau mengalami hal seperti ini?

Pertama-tama, entah bagaimana kita ditinggikan untuk tujuan khusus tertentu. Kemudian, kita diam-diam menyadari dan menikmati perhatian yang diperoleh dari posisi tersebut. Jatuh cinta dengan pengakuan orang-orang, kita mulai memegang erat-erat posisi tersebut karena takut kehilangan. Kita mulai menimbang-nimbang apa yang akan dikatakan, menyaring apa pun yang bisa melemahkan pengaruh kita – termasuk berbagai kebenaran Alkitab yang tidak menguntungkan kita. Akhirnya, berhadapan dengan hal yang kita sebut sebagai kompromi, kita menciptakan berbagai alasan untuk mendukung posisi kita – mengapa kita sampai mengubah pedang menjadi bajak. 

Kasih-yang-mendalam terhadap berbagai objek-yang-tidak-berharga telah membentuk orang Kristen menjadi pengecut. Jika kita mulai mengasihi musik ciptaan kita, menata merk kita, atau menganggap popularitas sebagai hal yang diperlukan untuk kemajuan Kerajaan Allah, maka kita sudah mulai membangun kerajaan kita sendiri. Kiranya kita bisa menyatakan hal yang sama dengan Spurgeon, ”Saya menganggap karakter, popularitas, dan kebergunaannya saya sebagai debu kecil dibandingkan kesetiaan-Nya Tuhan Yesus (219). Kristuslah yang kita beritakan, bukan diri kita sendiri (2 Kor. 4:5). 

2. Merasa nyaman sebagai minoritas. 

”Sudah lama saya berhenti menghitung jumlah. Kebenaran biasa akan menjadi minoritas dalam dunia yang jahat ini. Saya beriman pada Tuhan Yesus untuk diri saya sendiri. Iman ini membakar saya seperti halnya setrika yang panas. Saya bersyukur pada Allah, apa yang harus saya percaya akan saya percayai, meskipun saya harus mempercayainya sendirian.” (146)

Pernahkah Anda merasakan godaan untuk menghitung jumlah – baik jumlah followers, likes, dan shares – untuk melihat apa yang-seharusnya dan yang-tidak-seharusnya Anda katakan? Saya sudah.

Ketika kita mulai memberitakan kebenaran dengan mempertimbangkan seberapa baik orang-orang akan menerimanya, kita sudah setengah jalan untuk berkompromi. Spurgeon menasihati kita untuk mengingat harga yang harus dibayar, yaitu kebenaran sering kali menjadi yang minoritas. Setia memberitakan kebenaran bisa berarti kita harus sendirian memberitakannya.  

Namun, mereka yang berdiri untuk kebenaran-Nya Kristus tidak akan pernah sungguh-sungguh berdiri sendirian. Anda mungkin harus berangkat seperti Ester yang menghadap raja tanpa ada kerabat di samping Anda; bertekad untuk binasa jika memang harus binasa. Anda mungkin harus berkhotbah seperti Stefanus ketika kerumunan di sekitar Anda menutup telinganya dan mulai melempari Anda dengan batu. Anda mungkin harus menegur perzinahan Raja Herodes atau mungkin harus berkata seperti Paulus, ”Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku” (2 Tim. 4:16) – namun Kristus akan bersama dengan Anda bahkan hingga akhir zaman (Mat. 28:20). Jika alasan Anda benar, seperti Elia, Anda akan mendapati kalau bukan hanya Anda sendiri yang tidak berlutut menyembah Baal (1 Raj. 19:14, 18). 

3. Kenalilah kesatuan yang palsu. 

Tentu saja, lebih mudah bagi darah-dan-daging untuk berurusan dengan generalisasi; menolak sektarian; dan mengaku memiliki jiwa-yang-am. Namun, meskipun susah-dan-sukar, setiap hamba Tuhan Yesus dituntut untuk mempertahankan haknya untuk dimahkotai; membela setiap hukum-hukum-Nya. Kawan menegur dan musuh membenci ketika kita menjadi sangat cemburu karena Tuhan Allah Israel. Namun, apa arti semuanya ini jika Tuan kita memang berkenan?” (18)

Penyimpangan menyukai ketidakjelasan.

Seperti halnya pada masa Spurgeon, ada godaan yang kuat untuk menolerir semua posisi dan menerima semua perspektif kebenaran di dalam kita. Kita dianggap berprasangka, berpikiran sempit, dan bahkan bukan orang Kristen ketika membuat berbagai batasan yang jelas. Namun, bagi Spurgeon, menekankan ”kesatuan Kristen” ketika denominasi utama telah tenggelam lebih dalam ketimbang orang Kristen sejati adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Kesatuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi bisa terjadi karena darah Kristus. Kesatuan antara Injil kebenaran dan injil-yang-lain bisa terjadi karena Iblis.  

Spurgeon berargumen kalau Kristen-yang-benar memang harus berbeda. Tidak semua pandangan bisa benar. Jika satu-satunya standar yang digunakan hanyalah mengenai berkaki empat atau tidak, maka para serigala dan kambing akan berdiri bersama-sama dengan kita. Kecenderungan untuk tidak memegang teguh doktrin, tidak teologis, injili yang tak berbentuk, sudah dimulai pada masa Spurgeon dan tampak sangat nyata pada masa kita. Semua hal tersebut menjadi salah satu cara tercepat bagi kita untuk mengkompromikan kesetiaan kita pada Kristus dan kesaksian kita di dunia.

Dengan menyatakan ini, Spurgeon tidak bermaksud memecah belah setiap perbedaan pandangan teologis – sehingga setiap orang menjadi berdiri sendiri-sendiri. Namun, Spurgeon terganggu dengan adanya usaha untuk meminimalkan kesalehan-dan-kebenaran Kristen demi terciptanya kesatuan sehingga bersedia menerima berbagai teologi yang sebenarnya saling bertentangan; mencampurkan liberalisme dengan Kristen sejati. Kita memang bisa dianggap sebagai orang yang dogmatik, tetapi apa peduli kita kalau memang kebenaran-Nya Tuan kita yang diberitakan?

Meskipun Langit Lenyap 

”Kamu dan saya harus melakukan yang benar meskipun langit lenyap; melakukan perintah Kristus apa pun konsekuensinya. ’Itu hal yang sukar,’, katamu? Jadilah laki-laki dan hadapilah itu semua” (171).

Setelah Spurgeon meninggal di umur 57 tahun, istrinya (yang menggantung Matius 5:11-12 di kamar tidur mereka) berkata, ”Dia berjuang untuk iman… membayar dengan hidupnya.” Spurgeon telah mengakhiri pertandingan yang baik; telah mencapai garis akhir; dan telah memelihara iman (2 Tim. 4:7). Sebelum meninggal, Spurgeon berkata, ”Tugas saya sudah selesai” (173). Dia telah hidup untuk Tuannya. Kini, Spurgeon sedang menikmati kehadiran-Nya. 

Bagi kita yang hidup terpisah jauh dengan zamannya Spurgeon (kita yang menghadapi masa kini dengan setiap tantangan dan kesempatannya sendiri; godaan dan susah payahnya sendiri), dalam melanjutkan pertandingan imannya kita, mari kita mengingat himne yang biasa dikutip Spurgeon:

Haruskah saya diangkat ke langit
dalam hamparan bunga,
Sementara orang lain berjuang untuk upahnya
dan harus berlayar mengarungi lautan darah?

Karena saya harus berjuang supaya kelak bisa memerintah,
tambahkan semangatku, Tuhan!
Saya akan bersusah payah, bertahan dalam rasa sakit, 
dikuatkan oleh Firman-Mu.

Meskipun langit lenyap; meskipun bumi berlalu; meskipun ada berbagai kontroversi dan godaan untuk melakukan kompromi rohani di hadapan kita, maka kiranya kita memperhatikan Spurgeon-yang-terlupakan ini; menggantung Matius 5:11-12 dalam hati kita; dan hidup di hadapan manusia-dan-setan dengan semangat dan pengharapan yang diberikan oleh Sang Kristus.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "If God Approves, Let Men Condemn: LESSONS FROM SPURGEON ON CONTROVERSY"

You may also like...

Tinggalkan Balasan