20 April 2021 Artikel Oleh: Scott Hubbard Editor, desiringGod.org
Dari 10 perintah yang diberikan Allah kepada bangsa Israel, mungkin tidak ada yang lebih menimbulkan kontroversi dan perdebatan dibandingkan perintah yang keempat: ”Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8). Apakah perintah memelihara hari Sabat masih berlaku sampai sekarang?
Tak satu pun dari mereka yang menjawab ”tidak” untuk pertanyaan di atas menganggap Sabat adalah perintah sekunder dalam Dekalog; sebagai sebuah ide yang bagus, tetapi tidak bersifat mewajibkan. Tidak, hari Sabat berfungsi sebagai tanda perjanjian antara bangsa Israel dan Allahnya; mengungkap peristiwa dalam seminggu yang menyatakan Allah sebagai Sang Pencipta yang perkasa (Kel. 20:11) dan Sang Penebus yang penuh dengan belas kasihan (Ula. 5:15). Pada hari Sabat, Israel menyatakan ketergantungan total mereka pada Tuhan yang mengikat perjanjian dengan mereka; pada Tuhan yang lebih dari sanggup menopang umat-Nya meskipun satu dalam tujuh hari mereka menggantungkan sekop mereka; mengesampingkan bajak mereka; dan beristirahat dari pekerjaan mereka.
Pertanyaannya bukan apakah Israel seharusnya memelihara hari Sabat di bawah Perjanjian Lama (PL), tetapi apakah orang Kristen semestinya berada di bawah aturan yang baru. Haruskah orang Kristen memelihara hari Sabat? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang. Kita menaati perintah satu sampai tiga; lima sampai sepuluh bukan? Jadi, mengapa kita mengabaikan yang keempat?
Namun, apa yang dinyatakan dalam seluruh isi Perjanjian Baru (PB) menunjukkan bukti bahwa, di-dalam-Kristus dan perjanjian-yang-baru, hari Sabat telah menemukan penggenapannya.
Yesus: ’Aku akan memberikan kelegaan’
Para pembaca Injil segera menemukan betapa pentingnya hari Sabat bagi orang-orang Yahudi pada zaman Yesus. Hari ketujuh menandai terjadinya begitu banyak bentrokan antara Yesus dan orang-orang Farisi sehingga ketika kita membaca pernyataan yang berbunyi, ”… adalah hari Sabat ” (Yoh. 9:14), maka segera akan ada masalah.
Sebenarnya, satu-satunya perintah yang dilanggar Yesus pada hari Sabat adalah tradisi Yahudi, bukan hukum ilahi. Dalam kesungguhan mereka untuk mendefinisikan dengan tepat apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan seseorang pada hari Sabat, para pemimpin Yahudi meletakkan beban rohani yang lebih berat daripada beban fisik apa pun di atas bahu orang-orang (Mat. 23:4). Yesus menentang berbagai tradisi semacam itu dengan keras karena Ia melihat lebih jelas bahwa ”Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk. 2:27).
Namun, meskipun Yesus tidak pernah melanggar perintah keempat, Dia memang mengisyaratkan bahwa perubahan pada hari Sabat mungkin akan terjadi. Jika kita dapat menghapus jeda pasal antara Matius 11 dan 12, kita mungkin melihat (dalam konteks sebelum kontroversi Sabat dalam Matius 12:1–14) kata-kata yang memikat ini: ”Datanglah kepada-Ku, semua yang berjerih lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Istirahat yang ditawarkan pada hari Sabat sekarang sedang ditawarkan di-dalam-Kristus.
Sebuah klaim besar terletak di balik janji besar ini: ”Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Mat. 12:8). D.A. Carson menyatakan,
Bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan atas hari Sabat bukan hanya klaim mesianik dalam bagian besar, tetapi juga membangkitkan kemungkinan perubahan di masa depan atau penafsiran kembali akan hari Sabat, dengan cara yang sama persis bahwa pengakuan superioritas-Nya atas Bait Suci yang memunculkan berbagai kemungkinan tertentu tentang hukum peribadahan. (From Sabbath to Lord’s Day, 66)
Di dalam Yesus, ada sesuatu yang lebih besar dibandingkan hari Sabat.
Paulus: ‘janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu’
Dua perikop khusus dari tulisannya Rasul Paulus menjelaskan implikasi Yesus sebagai Tuhan atas hari Sabat. Yang pertama adalah Kolose 2:16–17:
Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
”Apa yang dinyatakan Paulus di bagian ini luar biasa,” tulis Tom Schreiner, ”karena dia menggabungkan Sabat dengan aturan makanan, perayaan seperti Paskah, dan bulan baru. Semua ini merupakan bayangan yang mendahului kedatangan Kristus” (40 Questions About Christians and Biblical Law, 212). Karena Kristus sekarang telah datang, memelihara hari Sabat bukan lagi soal ketaatan atau ketidaktaatan. Sebaliknya, Paulus berkata, ”Janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu.”
Roma 14:5 memiliki klaim yang sama mencoloknya. Pikirkan kata-kata Paulus di sini di samping pernyataan PL yang khas tentang hari Sabat.
Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu, pastilah ia dihukum mati, (Kel. 31:14)
Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (Rom. 14:5)
Jika orang Israel PL menganggap ”semua hari sama saja”, dia mungkin akan dilempari batu sampai mati (Bil. 15:32-36). Namun, tampaknya Paulus merasa tidak perlu memaksakan perintah Sabat pada orang Kristen non-Yahudi. Beberapa orang di Roma tampaknya, ingin memelihara hari Sabat (dan menghargai ”suatu hari lebih baik dari hari lainnya”) — mungkin orang Kristen Yahudi yang ingin mempertahankan tradisi nenek moyang mereka. Paulus tidak mempermasalahkan orang-orang Kristen yang seperti itu selama mereka menahan diri untuk tidak menekan orang lain untuk meniru mereka; atau menyarankan bahwa keselamatan bergantung pada ketaatan pada hari Sabat (bandingkan dengan Gal. 4:8-11).
Demi kemerdekaannya orang Kristen dan kasih bersama, Paulus berkata dengan sederhana dan luar biasa, ”Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri.” (Rom. 14:5).
Surat Ibrani: ’kita yang telah percaya, kita sedang masuk ke dalam perhentian’
Penulis Surat Ibrani membawa kita lebih dekat ke inti mengapa PB tidak memerlukan istirahat pada hari ketujuh secara harfiah. Kedatangan Kristus yang pertama tidak menghapuskan istirahat. Lebih tepatnya, kedatangan-Nya mengantarkan pada jenis istirahat yang lebih dalam daripada yang bisa ditawarkan hari Sabat.
Menurut Surat Ibrani pasal 4, hari Sabat Israel selalu merujuk ke depan; ke hari yang jauh lebih besar: hari yang masih akan datang ketika semua ciptaan akan masuk sepenuhnya ke dalam perhentian yang dinubuatkan dan dijanjikan dalam Kejadian 2:2–3, yaitu pada hari ketujuh yang pertama. ”Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.” (Ibr. 4:9). Perhentian akhir dari hari Sabat akan tiba ketika umat Allah menikmati pekerjaannya tanpa kerja keras; hati tanpa dosa; dan bumi tanpa semak durinya.
Namun, bahkan pada masa sekarang, Kitab Ibrani menyiratkan kalau kita sudah merasakan gelombang pertama dari perhentian yang akan datang tersebut. Di dalam Kristus, kita ”yang mengecap… karunia-karunia dunia yang akan datang” (Ibr. 6:5), termasuk urusan istirahat ini. Penulis Ibrani menyatakan, ”kita yang telah percaya, kita sedang masuk ke dalam perhentian” (Ibr. 4:3, ILT) — bukan ”akan masuk”, tetapi ”sedang masuk”: sepenuhnya nanti, tetapi sudah benar-benar masuk pada saat ini.
Bagaimana kita memasuki perhentian itu? Bukan dengan mengesampingkan pekerjaan mingguan kita selama satu hari dalam tujuh hari, tetapi dengan percaya: ”kita yang telah percaya, kita sedang masuk ke dalam perhentian” Iman kepada Yesus Kristus membawa peristirahatan hari ketujuh ke dalam setiap hari.
Yohanes: ”Aku dikuasai Roh pada hari Tuhan.”
Tentu saja, ketika orang Kristen pada hari ini berbicara tentang Sabat, mereka hampir tidak pernah merujuk hari ketujuh, tetapi hari pertama: bukan pada hari Sabtu, melainkan pada hari Minggu. Namun, yang mengejutkan, tidak ada penulis PB yang pernah menyebut hari Minggu sebagai hari Sabat. Ketika orang Kristen Yahudi (dan mungkin beberapa non-Yahudi) merayakan hari Sabat, mereka akan melakukannya pada hari Sabtu, seperti yang telah dilakukan bangsa Israel selama berabad-abad. Namun, itu tidak berarti hari Minggu tidak memiliki tempat khusus dalam gereja mula-mula. Kitab Suci menunjukkan bahwa Minggu memang memiliki tempat khusus, tetapi dengan nama yang berbeda: Hari Tuhan.
Ungkapan ”Hari Tuhan” hanya muncul dalam Kitab Wahyu ketika Rasul Yohanes menulis, ”Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh” (Why. 1:10). Namun, bagian-bagian lain menyiratkan bahwa ”Hari Tuhan” hanya merujuk pada kebiasaan umum Gereja untuk berkumpul pada hari Minggu. Di Efesus, Paulus bertemu dengan jemaat ”pada hari pertama dalam minggu itu… untuk memecahkan roti” (Kis. 20:7). Demikian pula, Paulus menginstruksikan jemaat Korintus untuk menyisihkan sejumlah uang ”pada hari pertama dari tiap-tiap minggu” (1 Kor. 16:2).
Tak satu pun dari bagian-bagian ini menunjukkan perhentian-nya gereja mula-mula; seolah-olah mereka menganggap hari Minggu sebagai Sabat yang baru bagi mereka. Richard Bauckham melangkah lebih jauh dengan menulis, ”Bagi orang Kristen mula-mula, Minggu bukan pengganti hari Sabat, atau hari istirahat, atau berhubungan dengan cara apa pun dengan perintah keempat” (From Sabbath to Lord’s Day, 240). Mayoritas orang Kristen masa awal ini mungkin perlu bekerja pada hari pertama dalam seminggu. (Minggu dinyatakan sebagai hari perhentian resmi di seluruh Kekaisaran Romawi hanya di bawah Konstantinus pada 321 M).
Bagaimana pun, bagian-bagian itu menyarankan bahwa orang-orang Kristen beribadah pada Hari Tuhan. Mungkin di pagi hari sebelum mereka bekerja (atau mungkin pada malam hari sesudah bekerja), mereka berkumpul untuk memuji Dia yang bangkit pada ”pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu” (Mrk. 16:2; Mat. 28:1; Luk. 24:1; Yoh. 20:19). Ketika batu itu terguling dari makam Yesus pada paginya Paskah, maka perhentian Sabat yang sejati tersebut telah tiba. Hari baru telah tiba.
Tuhan atas Hari-hari Kita
Jadi, haruskah orang Kristen memelihara hari Sabat?
Di satu sisi, tidak. Di bawah PB, tidak ada orang Kristen yang terikat pada perintah keempat seperti itu. Kita mungkin memutuskan untuk beristirahat satu hari dalam tujuh hari — dan memang hikmat tampaknya mendukung praktik meniru pola 6-dan-1 dari Allah sendiri (Kej. 1:1–2:3). Terutama di hari ketika banyak orang dapat bekerja kapan saja dan di mana saja — menjawab email setelah makan malam, menerima telepon di akhir pekan — bahkan untuk satu hari dalam tujuh hari, mungkin baik untuk kita bisa mengatakan, ”Saya bekerja kemarin dan akan bekerja besok. Namun, hari ini saya akan beristirahat dan beribadah.”
Akan tetapi, dalam pengertian lain, orang Kristen harus selalu memelihara hari Sabat. Kita menemukan hubungan antara Sabatnya Yahudi dan Hari Tuhannya Kristen. Andrew Lincoln menulis,
Dalam PL, istirahat fisik secara harfiah pada hari Sabat menunjuk pada istirahat di masa depan; tetapi karena Kristus telah membawa penggenapan dalam hal perhentian keselamatan, kenikmatan saat ini dari perhentian inilah yang bertindak sebagai pendahuluan dari perwujudan perhentian yang akan datang. Dengan kata lain, perayaan pada hari Tuhan dari perhentian yang sudah kita miliki melalui kebangkitan Kristus yang sekarang mendahului dan menjamin perhentian yang belum tiba. (From Sabbath to Lord’s Day, 399)
Setiap tibanya Hari Tuhan, kita datang kembali pada Yesus dengan letih lesu dan berbeban berat (Mat. 11:28). Kita menemukan bayangan hari Sabat sampai ke penggenapannya (Kol. 2:17). Kita mendengar lagi dari kejauhan suara perayaan Sabat yang akan datang. Dengan iman, kita kembali melihat pancaran ”beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah” (Ibr. 12:22). Kita melihat lagi ke dalam kubur yang kosong dan mendengar Kristus berkata, ”Damai sejahtera bagimu!” (Luk. 24:36). Dengan kata lain, kita menemukan perhentian — jenis perhentian yang tersisa lama setelah hari Minggu berlalu.
Tanpa secara teratur mengalami perhentian semacam ini — dan dengan kuasa khusus pada setiap Hari Tuhan — tidaklah penting seberapa banyak istirahat yang kita berikan pada tubuh kita, maka istirahat kita akan gelisah. Pekerjaan kita akan menjadi usaha yang sia-sia untuk mengamankan bagi diri kita sendiri perhentian yang belum kita temukan di dalam Kristus. Baik si pemalas (yang tidak bekerja pada akhir pekan) maupun si gila kerja (yang tidak memiliki akhir pekan) belum belajar untuk menikmati peristirahatan dari Sabat yang sejati.
Tidak demikian halnya dengan mereka yang telah mendengar-dan-menerima ajakan Yesus untuk ”pikullah kuk yang Kupasang… dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:28-29). Dunia dan Iblis akan membuat kita bekerja bahkan ketika kita beristirahat. Namun, Yesus ingin kita beristirahat bahkan ketika kita bekerja. Dalam istirahat dan pekerjaan yang dipenuhi Kristus ini, kita menjalani hari Sabat pada hari ini.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Should Christians Keep the Sabbath?."