7 Juli 2015 Artikel oleh Jon Bloom Staf penulis desiringGod.org
Allah tidak ingin Anda merencanakan segalanya.
Jangan salah paham. Perencanaan adalah sebuah hal yang indah. Allah adalah Sang Perencana yang luar biasa – ketika Ia merencanakan hal yang sebesar alam semesta dan hal yang sekecil molekul. Banyak hal dalam kehidupan ini yang tidak akan ada tanpa perencanaan. Stadion tidak akan dibangun. Sistem saluran pembuangan tidak akan terpasang. Jaringan listrik tidak akan terpelihara. Anak-anak tidak akan terdidik. Buku tidak akan kelar ditulis. Gereja tidak akan kelar didirikan. Berat badan tidak akan turun. Bahkan seringkali berdoa tidak akan terjadi tanpa sebuah rencana.
Sebagian Besar Pelayanan Yesus Tidak Diprogram
Namun, pelayanan yang paling berdampak yang tercatat dalam kehidupan Yesus tampaknya terjadi dalam suasana yang tidak terduga; informal; tidak deprogram sebelumnya. Jika Anda menelusuri Injil Yohanes, Anda akan mengerti apa yang saya maksudkan. Sebagian besar pelayanan Yesus yang dicatat Rasul Yohanes – dari pembaptisan-Nya hingga penampakan-Nya sesudah kebangkitan – dialami oleh para pengikutnya dan para pengamat sebagai peristiwa yang tidak deprogram sebelumnya; sebuah peristiwa spontan.
Dengan kata lain, gambaran yang kita dapat tentang strategi pelayanan Yesus selama di dunia ini bukanlah program tiga tahunan yang sangat terstruktur dengan jadwal perjalanan dan khotbah yang terperinci dan dijalankan secara efisien. Sebaliknya, apa yang kita lihat adalah Yesus yang terus menerus berdoa; percaya pada rencana Bapa; memperhatikan inisiatif Bapa-Nya (Yoh. 5:19). Sebagai respon atas inisiatif tersebut, Ia kemudian membuat keputusan untuk tetap tinggal, pindah, berkhotbah, menyembuhkan – keputusan yang dari sudut pandang manusia tampak spontan.
Bukan dengan Keperkasaan Atau Kekuatan, Melainkan dengan Roh
Maka, sebaliknya, apa artinya ini bagi orang Kristen abad 21 yang hidup dalam budaya teknologi yang sangat kompleks yang sangat menghargai perencanaan strategis dalam hampir setiap segi kehidupannya – mulai dari olahraga, sekolah, pengasuhan anak, berkebun, hingga jam kantor kita? Kita harus tetap waspada dan kritis mengevaluasi nilai-nilai budaya kita. Kita belajar dari budaya pada zaman ini bahwa kesuksesan terjadi karena adanya perencanaan dan pelaksanaan yang efektif. Kita menyerap semua nilai itu hanya dengan hidup di dunia ini.
Namun, berbagai contoh dalam Injil dan Kitab Kisah Para Rasul (KPR) menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dibangun menurut “maksud dan rencana-Nya” (Kis. 2:23); bukan menurut maksud dan rencana kita (Yes. 58:8-9). Kita tidak bisa membangun Kerajaan Allah seperti sedang membangun stadion baru bernilai miliaran dolar di Minneapolis. Bagi kita, kesuksesan bukan hanya kombinasi dari tujuan yang tepat; cetak biru yang tepat; anggaran yang tepat; sumber daya yang tepat; waktu yang tepat; bakat yang tepat; dan materi yang tepat. Alasannya adalah karena kita sering tidak tahu apa faktor kunci dari sebuah pelayanan – seperti apa kesetiaan dan keberhasilannya dalam sebuah situasi atau relasi tertentu.
Allah dengan sengaja memang berencana untuk membangun Kerajaan-Nya melalui Roh-Nya yang berdaulat; bukan melalui keperkasaan dan kekuatan manusia (Zak. 4:6). Allah dengan sengaja memilih untuk membangun Kerajaan-Nya menggunakan sarana dan orang-orang yang lemah-dan-bodoh menurut pandangan dunia ini (1 Kor. 1:22-29). Allah dengan sengaja membangun Kerajaan-Nya dengan cara yang berbeda dari cara dunia pada umumnya karena Kerajaan-Nya adalah ciptaan baru, bukan bagian dari yang lama (2 Kor. 5:17). Ini adalah tatanan dunia yang baru (Yes. 65:17). Karena itu, sangat penting bagi Allah bahwa kita, sebagai warga negara tanah air surgawi-Nya yang lebih baik (Ibr. 11:16), tidak menaruh iman kita ”pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1 Kor. 2:5).
Beberapa Pertanyaan Diagnostik
Ini adalah alasan penting mengapa Allah memilih untuk bergerak dengan cara seperti yang dilakukan-Nya dalam Injil dan Kitab KPR. Dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Dia ada dan memberi upah pada orang yang mencari-Nya (Ibr. 11:6). Dia ingin supaya umat-Nya tidak bergantung pada hikmat mereka sendiri, tetapi terus menerus berdoa, waspada, dan responsive-dalam-iman ketika Allah bekerja melalui berbagai cara yang tidak terduga.
Alasan-alasan ini belum berubah.
Mengingat asumsi dalam budaya kita, kita harus bertanya pada diri kita sendiri, seberapa sungguh kita mendoakan rencana dan program kita? Maksud saya sungguh-sungguh mendoakannya.
Apakah kita sungguh-sungguh memohon kepada Allah tentang hal-hal yang spesifik?
Apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan? Apakah kita sungguh-sungguh memperhatikan?
Apakah kita fleksible dan bersedia merespon tindakan Allah yang tidak terduga dan tidak terprogram?
Apakah struktur yang kita bangun dalam kehidupan dan pelayanan kita memungkinkan hal itu?
Apakah kita ingin Allah bertindak dengan cara tersebut?
Itu pertanyaan-pertanyaannya. Saya baru-baru ini menanyakan hal tersebut kepada diri saya sendiri sehingga saya menanyakannya juga pada Anda. Ini adalah latihan diagnostik. Kita yang sering terpikat dengan rencana dan program harus mempertanyakan asumsi dalam budaya kita. Kita harus meletakkan hidup kita di samping Yesus dan gereja mula-mula serta membiarkan mereka berbicara kepada kita dan strategi kita.
Allah tidak menentang rencana dan program pelayanan. Penyembahan di Bait Suci yang sangat terstruktur yang digambarkan di dalam Kitab Imamat merupakan suatu administrasi multi dimensi yang kompleks yang diperlukan untuk memerintah Israel. Pola normatif ibadah dan hidup bersama yang kita temukan di dalam Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita akan hal ini. Allah dimuliakan dalam perencanaan yang baik. Namun, Allah tidak ingin atau bermaksud agar kita merencanakan segalanya. Dia sedang mengerjakan sebuah rencana yang sangat detail dan Dia ingin kita mengikuti pimpinan-Nya – mungkin lebih dari yang kita lakukan sekarang. Mari kita menanyakan kepada diri kita sendiri apakah dan dalam hal apa kita terlalu bersandar pada pengertian kita sendiri dalam mengejar kemajuan Kerajaan Allah.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "YOU DON’T HAVE TO PLAN EVERYTHING."