Berkhotbah Pada Diri Sendiri

Sukacita Surga
22 Juli


Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org

”Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

(Maz. 42:12)

Kita harus belajar melawan rasa putus asa — semangat yang patah. Pertarungan tersebut adalah sebuah pertarungan iman dalam anugerah-masa-depan. Keputusasaan dapat diatasi dengan memberitakan kebenaran tentang Allah dan masa depan yang dijanjikan-Nya pada diri kita sendiri.

Inilah yang dilakukan si pemazmur dalam Mazmur 42. Dia berkhotbah kepada jiwanya yang sedang gundah. Dia menegur dirinya sendiri; berdebat dengan dirinya sendiri. Argumen utamanya adalah mengenai anugerah-masa-depan: Berharaplah kepada Allah! Percayalah kepada apa yang Allah akan berikan bagimu di masa depan. Hari pujian akan datang. Kehadiran Tuhan akan menjadi pertolongan yang engkau perlukan. Ia telah berjanji untuk bersama kita selamanya.

Martyn Lloyd-Jones percaya bahwa perkara mengkhotbahkan kebenaran mengenai anugerah-masa-depan-Nya Allah ini pada diri kita sendiri adalah hal yang sangat penting dalam mengatasi depresi rohani. Dalam bukunya yang sangat menolong, Spiritual Depression, dia menulis,

Pernahkah Anda menyadari bahwa sebagian besar ketidakbahagiaannya Anda dalam hidup disebabkan oleh kenyataan bahwa Anda mendengarkan diri sendiri alih-alih berbicara pada diri sendiri? Contohnya, berbagai pikiran yang datang kepada Anda saat bangun pada pagi hari. Anda belum sempat mengatur berbagai pikiran ini, tetapi mereka sudah mulai berbicara kepada Anda. Mereka membawa kembali berbagai masalah yang terjadi kemarin; dan lain sebagainya. Seseorang sedang berbicara… Dirinya Anda sendiri sedang berbicara kepada Anda. Sekarang perlakuannya si pemazmur [dalam Mazmur 42] adalah sebagai berikut. Alih-alih membiarkan ”diri” ini berbicara kepadanya, dia malah mulai berbicara kepada dirinya sendiri. ”Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?” tanyanya. Jiwanya telah menekannya, meremukkannya. Jadi, dia berdiri dan berkata, ”Diriku, dengarkan saya sebentar. Saya akan berbicara dengan engkau” (20-21).

Pertempuran melawan rasa putus asa adalah pertempuran untuk memercayai berbagai janji-Nya Allah. Kepercayaan akan anugerah-masa-depan-Nya Allah datang melalui pendengaran akan firman. Karena itu, memberitakan firman Allah kepada diri kita sendiri menjadi inti dari pertempuran ini.


Artikel ini diterjemahkan dari "Preach to Yourself."

You may also like...

Tinggalkan Balasan