Sukacita Surga
23 Juli
Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org
”Oleh iman, Musa, setelah bertumbuh dewasa, menolak dikatakan sebagai anak putri Firaun. Ia lebih memilih menderita bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan dosa yang hanya sementara, Ia menganggap kehinaan Kristus lebih berharga daripada seluruh kekayaan Mesir sebab Musa mengarahkan pandangannya kepada pahala”
(Ibr. 11:24-26, AYT)
Atau, jika kita meringkas [ayat tersebut] menjadi penggalan-penggalan penting: ”Oleh iman, Musa… [meninggalkan] kesenangan dosa yang hanya sementara… sebab Musa mengarahkan pandangannya kepada pahala” (Ibr. 11:24-26, AYT).
Iman tidaklah merasa puas dengan ”kesenangan dosa yang hanya sementara”. Iman sangat lapar akan sukacita. Sukacita yang bertahan lama. Untuk selama-lamanya. Firman Allah menyatakan, ”Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Maz. 16:11). Jadi, iman tidak akan teralihkan ke dalam berbagai kesenangan-dosa yang menipu. Ia tidak akan menyerah begitu saja dalam pencariannya akan sukacita-yang-maksimal.
Peran firman-Nya Allah adalah untuk memenuhi hasrat iman akan Allah. Dengan melakukan ini, iman menyapih hatinya saya dari rasa hawa nafsu yang menipu.
Awalnya, hawa nafsu mulai menipu saya untuk merasa bahwa saya akan benar-benar kehilangan kepuasan yang hebat jika saya mengikuti jalan kesalehan. Namun, saya kemudian mengambil pedang Roh dan mulai bertarung.
- Saya membaca bahwa lebih baik mencungkil mata saya daripada menjadi bernafsu (Mat. 5:29).
- Saya membaca bahwa jika saya memikirkan semua hal yang suci, yang manis, dan yang disebut kebajikan, maka damai sejahtera Allah akan menyertai saya (Fil. 4:8-9).
- Saya membaca bahwa menaruh pikiran pada daging adalah maut, tetapi menaruh pikiran pada Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Rom. 8:6, AYT).
- Saya membaca bahwa keinginan hawa nafsu duniawi yang berperang melawan jiwanya saya (1 Pet. 2:11, AYT); dan berbagai kesenangan dalam hidup ini mencekik kehidupan Roh (Luk. 8:14, AYT).
- Namun, yang terbaik dari semuanya, saya membaca bahwa Allah tidak menahan kebaikan dari orang yang hidupnya tidak bercela (Maz. 84:12); dan bahwa orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat. 5:8).
Ketika saya berdoa agar imannya saya dipuaskan dengan kehidupan dan damai sejahtera-Nya Allah, maka pedang Roh mengikis habis lapisan gula dari racun hawa nafsu. Saya melihat hawa nafsu itu seperti apa adanya. Oleh anugerah-Nya Allah, maka kuasa dari hawa nafsu yang memikat itu bisa dipatahkan.
Artikel ini diterjemahkan dari "How to Defy Sinful Desire."