Penemuan yang Paling Memerdekakan

Sukacita Surga
30 September


Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org

”Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan…”

(Fil. 3:1)

Tidak ada seorang pun yang pernah mengajarkan kepada saya bahwa Allah dimuliakan oleh sukacita kita di dalam Dia — bahwa sukacita di dalam Allah adalah hal yang membuat pujian kita menjadi sebuah penghormatan bagi Allah; bukan suatu kemunafikan.

Namun, Jonathan Edwards menyatakannya dengan begitu jelas dan kuat:

Allah memuliakan diri-Nya terhadap para makhluk-ciptaan juga [dalam] dua cara: (1) dengan muncul ke dalam… pemahaman mereka; (2) melalui usaha mengkomunikasikan diri-Nya ke dalam hati mereka; dan dalam kegembiraan dan kesenangan mereka; dan dalam menikmati manifestasi yang Dia buat dari diri-Nya sendiri… Allah dimuliakan tidak hanya dengan melihat kemuliaan-Nya, tetapi dengan bersukacita di dalam-Nya…
Ketika mereka yang melihat-Nya bersukacita karena-Nya: Allah lebih dimuliakan daripada jika mereka hanya melihat-Nya… Orang yang memberi kesaksian tentang kemuliaan-Nya Allah [tidaklah] memuliakan Allah sebanyak orang yang memberi kesaksian tentang penerimaannya terhadap kemuliaan tersebut; dan kesukaannya akan kemuliaan itu.

Ini adalah penemuan yang menakjubkan bagi saya. Saya harus mengejar sukacita di dalam Allah jika saya ingin memuliakan-Nya sebagai Sang Realitas yang sangat berharga di alam semesta. Sukacita bukanlah sekadar pilihan dalam penyembahan. Sukacita adalah bagian penting dari penyembahan. Sungguh merupakan suatu esensi dari penyembahan — bersukacita dalam kemuliaan-Nya Allah.  Kita memiliki sebutan bagi mereka yang mengucapkan puji-pujian kepada Allah ketika mereka tidak menemukan kenikmatan dalam apa yang mereka puji-pujikan tersebut. Kita menyebut mereka sebagai orang-orang yang munafik. Yesus berkata, ”Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: ’Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku’” (Mat. 15:7-8). Fakta ini — bahwa pujian yang sejati berarti kenikmatan yang sempurna; dan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah meminum kenikmatan ini secara mendalam demi kemuliaan-Nya Allah — mungkin merupakan penemuan yang paling memerdekakan yang pernah saya temukan.


Artikel ini diterjemahkan dari "The Most Liberating Discovery."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *