Sedikit Teologi Mengenai Gula
22 Maret 2021
Artikel oleh David Mathis
Editor Eksekutif, desiringGod.org
Matanya menjadi terang lagi. Yonatan memasukkan tangannya yang berlapis gula ke mulutnya dan menunjukkan kuasa dari salah satu karunia Allah yang baik di dunia ciptaan-Nya. Ini adalah khasiat yang kita semua tahu, sungguh-sungguh kita rasakan, namun banyak dari kita telah terbiasa dengannya sehingga hampir tidak mengenalinya lagi.
Pada saat itu, yang dibutuhkan tentara Israel yang lelah-dan-lapar adalah sumber energi yang cepat. Mereka ”terdesak pada hari itu” ketika sedang mengejar musuh yang melarikan diri. Namun, raja mereka, Saul (ayah Yonatan) bersumpah dengan gegabah: ”Terkutuklah orang yang memakan sesuatu sebelum matahari terbenam dan sebelum aku membalas dendam terhadap musuhku” (1 Sam. 14:24). Dalam upaya mengejar musuh, orang-orang itu memasuki hutan dan menemukan diri mereka dikelilingi oleh penyediaan yang berasal dari Allah: ”di sana ada madu di tanah” (1 Sam 14:25). Keemasan, kental, cairan gula — seperti manna (yang rasanya seperti madu) yang menutupi tanah setiap pagi bagi umat Allah di padang gurun (Kel. 16:14). Allah telah menyediakan. Namun, Saul telanjur membuat sumpahnya yang bodoh.
Akan tetapi, Yonatan tidak mendengar sumpah ayahnya. Jadi, dia berjalan ke hutan; menerima karunia ilahi; dan “matanya menjadi terang lagi” (1 Sam. 14:27). Sumber energi cepat yang persis dibutuhkannya untuk menghabisi musuh. Hal yang persis dibutuhkan seluruh tentara.
Pasukan Saul memang menangkap musuh dan mengalahkan mereka. Namun, karena sumpah Saul yang gegabah untuk tidak makan sehingga ”rakyat sudah sangat letih lesu”. Dalam kemenangan, mereka menjadi kehilangan kendali diri dan ”menyambar jarahan; mereka mengambil kambing domba, lembu dan anak lembu, menyembelihnya begitu saja di atas tanah, dan memakannya dengan darahnya” (1 Sam. 14:31-32). Mereka akan terhindar dari kesakitan dan penderitaan jika saja (seperti Yonatan) mereka ”merasai sedikit dari madu” (1 Sam. 14:29, 43) untuk membuat mata mereka terang dan menghidupkan kembali kekuatan mereka.
Pada akhirnya, kemenangan mereka harus termasuk kesulitan besar dan yang sebenarnya tidak perlu ada. Orang-orang membebaskan Yonatan dari menjadi korban sumpah. Yonatan menyatakan kebodohan ayahnya:
Ayahku mencelakakan negeri; coba lihat, bagaimana terangnya mataku, setelah aku merasai sedikit dari madu ini. Apalagi, jika sekiranya rakyat pada hari ini boleh makan dengan bebas dari jarahan musuhnya, yang telah didapatnya! Tetapi sekarang tidaklah besar kekalahan di antara orang Filistin. (1 Sam 14:29–30)
Dua kali Yonatan mengatakan “sedikit dari madu ini”. Hanya ”sedikit” menjadi kata kuncinya. Terlalu banyak madu malah akan membuatnya buruk dalam berperang. Namun, pada bagian ini, dalam episode yang tampaknya sepele dalam sejarah Israel ini, kita melihat apa yang mungkin menjadi kilasan mengerikan dalam dunia modern ketika kita dikelilingi oleh madu dan mengalami kesulitan yang besar untuk membatasi diri kita agar hanya bisa merasai sedikit saja.
Sesendok Penuh Gula
Dari perspektif sejarah, sungguh menakjubkan betapa banyak gula yang kita konsumsi pada zaman ini. Apa yang tersaji dalam bentuk cairan keemasan dan lengket pada zaman Alkitab menghampiri kita pada zaman ini sebagai gula pasir yang halus; putih; sudah dipanggang dan direbus dalam proporsi yang berlebihan dalam banyak makanan dan minuman yang biasa kita konsumsi. Menurut Jay Richards, ”Pada tahun 1700, orang Barat mengonsumsi sangat sedikit gula — katakanlah, empat pon per tahun. Bahkan pada 1850, rata-rata kita hanya mengonsumsi beberapa pon per orang per tahun. Sekarang, masing-masing dari kita rata-rata mengonsumsi lebih dari seratus pon gula per tahun… sebagian besar dalam bentuk makanan olahan yang bahkan tidak terasa manis bagi kita” (Eat, Fast, Feast, 42–43).
Perkiraan ini memang bervariasi. ”Orang Amerika mengonsumsi sebanyak 77,1 pon gula dan pemanis per orang per tahun, menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat” — tetapi tetap saja — ”Itu hampir dua kali lipat dari batas yang direkomendasikan departemen, berdasarkan diet 2.000 kalori” (”The Barbaric History of Sugar in America”). Namun, tidak ada yang mempertanyakan bahwa secara objektif, dapat dibuktikan, dan hampir tanpa kecuali, kita mengonsumsi jauh lebih banyak gula hari ini ketimbang yang dikonsumsi manusia sepanjang sejarah; terkecuali dalam satu abad terakhir.
Obesitas di antara orang Amerika Serikat (AS) telah meningkat hampir sebanyak 30 persen hanya dalam tiga dekade terakhir sementara tingkat diabetes hampir tiga kali lipat. Akan naif untuk menganggap gula sebagai satu-satunya penyebab. Juga, mungkin sama naifnya untuk tidak menganggap konsumsi gula yang berlebihan telah memainkan peran yang signifikan; jika bukan yang utama. Tentu saja, tidak seorang pun dari kita ingin mendengarnya karena rasanya sangat enak.
Lebih Berat, Lebih Lambat, Lebih Tidak Sehat
Bagi banyak pembaca, ini bukanlah informasi baru. Selama lebih dari satu generasi, semakin banyak suara yang mencurigai bahwa ”kita mengonsumsi gula jauh lebih banyak daripada yang dapat ditangani oleh tubuh kita yang telah diperlengkapi” (”What’s Wrong with the Modern Diet?”). ”Diperlengkapi” – jangan lewatkan kata itu. Oleh siapa?
Ketika berhadapan dengan tubuh manusia, sulit bagi para evolusionis yang paling bersemangat sekalipun untuk menghindari kata-kata seperti ”diperlengkapi”, ”dibangun”, dan ”dirancang”. Tubuh dan otak manusia, dengan kemampuannya untuk bergerak dan beradaptasi, adalah mahakarya yang paling mengesankan dalam semua ciptaan fisik (hal yang terpenting dan puncak dari Penciptaan), dari enam hari pertama tersebut (Kej. 1:26-31).
Rancangan Allah yang baik diperlengkapi untuk menangani gula — baik pelepasan glukosa yang lambat ketika pencernaan memecah karbohidrat-yang-kompleks dan pelepasannya yang cepat dari karbohidrat-yang-sederhana (tidak ada yang lebih cepat, dan lebih sulit untuk ditangani, daripada ketika kita minum air bergula — seperti misalnya soft drinks dan jus).
Glukosa (dari gula) dapat menjadi sumber energi yang dibutuhkan untuk otot, tetapi menjadi racun dalam aliran darah. Otak kita memanggil insulin sebagai penyelamat untuk mengeluarkannya dari darah kita dan ketika otot (yang memiliki sedikit penyimpanan) sudah disuplai dengan baik, maka gula diubah menjadi lemak dan disimpan di lokasi sentral yang bagus – yaitu di pinggang dan pinggul. Terlepas dari mitos populer bahwa makanan berlemak membuat tubuh kita gemuk, konsumsi gula yang berlebihan (bagi sebagian besar dari kita yang menjalani diet modern) berkontribusi jauh lebih banyak pada simpanan lemak yang tidak diinginkan.Tragisnya, dari generasi ke generasi, mereka yang ditugaskan untuk menjadi gambar dan rupa Allah di dunia ciptaan-Nya ini menjadi lebih gemuk, lambat, malas, dan tidak sehat. Sementara itu, rangkaian penyakit yang semakin meningkat seperti misalnya kegemukan, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, stroke, dan kanker akan memperpendek dan membebani nafas kehidupan kita bahkan lebih dari sebelumnya.
Sedikit Teologi tentang Madu
Banyak orang pada zaman ini mungkin terkejut menemukan bahwa Kitab Suci berisi tentang kebenaran abadi yang berbicara tentang kegelisahan modern kita akan gula.
Tebu jarang ditemukan di Timur Tengah pada zaman Alkitab meskipun ada referensi yang tidak jelas dalam satu atau dua teks (”tebu wangi” atau ”tebu yang baik” dalam Yes. 43:24; Yer. 6:20). Namun, apa yang jelas, (yang merupakan salah satu sumber glukosa yang terkonsentrasi) dengan rasa manis yang sama seperti gula, adalah madu. Ada ”sedikit teologi tentang madu” dalam Kitab Suci – dan kita yang hari ini bingung tentang apa yang harus dilakukan (dan tidak dilakukan) untuk diri kita sendiri dan untuk anak-anak kita mungkin mendapatkan bantuan dan pengarahan yang baru dari berbagai prinsip alkitabiah.
Baik: Makan Madu
Amsal memberi dua kata kunci yang dapat memandu kita. Yang pertama adalah Amsal 24:13:
Anakku, makanlah madu, sebab itu baik; dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu.
Gula, rasanya yang “manis untuk langit-langit mulutmu”, adalah ide-dan-rancangan Allah yang baik. Kita tidak hanya memiliki kisah tentang mata Yonatan yang menjadi terang — digambarkan sebagai hal yang baik — tetapi berulang kali, dimulai dari semak yang terbakar (Kel 3:8), Allah berjanji untuk memberi umat-Nya suatu negeri, yang kata-Nya, ”berlimpah-limpah susu dan madunya” — yang secara tegas dan nyata merupakan karunia yang baik.
Madu diidentikkan dengan manisnya; kenikmatan rasanya (Yeh. 3:3; Why. 10:9, 10); lebih kuat dari singa (Hak. 14:18). Allah tidak hanya menyediakan makanan bagi umat-Nya di padang gurun, tetapi manna yang rasanya enak — ”rasanya seperti rasa kue madu” (Kel. 16:31).
Umat perjanjian pertama-Nya Allah memperlakukan madu sebagai produk dan sumber daya yang berharga: di antara “hasil yang terbaik dari negeri ini” (Kej. 43:11); cocok untuk dipersembahkan kepada seorang raja (2 Sam. 17:29) atau nabi (1 Raj. 14:3) atau Allah sendiri sebagai buah sulung dalam penyembahan (2 Taw. 31:5). Madu bisa menjadi tanda kemakmuran dan kelimpahan (Yes. 7:15, 22), bahkan kebangsawanan (Yeh. 16:13). ”Madu” bahkan menjadi nama yang menawan yang mungkin digunakan sebagai panggilan oleh suami istri satu sama lainnya; seperti yang dilakukan para kekasih dalam Kidung Agung (4:11; 5:1) dan yang masih dilakukan sampai sekarang.
Tidak Baik: Makan Banyak Madu
Namun, madu cukup berbahaya sehingga ada peringatan bagi penggunanya. Ini seharusnya tidak mengejutkan bagi orang Kristen yang telah belajar di dalam aspek lain — dengan keintiman perkawinan, misalnya — bahwa karunia Allah yang paling berharga, dan paling manis, dapat menjadi target utama dunia dan kedagingan kita yang penuh dosa dan Iblis. Sekali lagi, Amsal memberikan petunjuk:
Tidaklah baik makan banyak madu; sebab itu biarlah jarang kata-kata pujianmu. Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya. (Ams 25:27–28).
Tidaklah baik makan banyak madu. Untuk mendapatkan kebaikan dari madu dibutuhkan pengendalian diri. Tanpa ada pengendalian diri, manfaatnya akan segera rusak. Demikian juga, peringatan lain muncul sebelumnya di pasal yang sama: ”Kalau engkau mendapat madu, makanlah secukupnya, jangan sampai engkau terlalu kenyang dengan itu, lalu memuntahkannya” (Ams. 25:16).
Peringatan Profesor Slughorn kepada murid-muridnya di Hogwarts tentang ramuan “Cairan Keberuntungan” mungkin juga diterapkan pada gula: ”Hal-yang-baik jika terlalu banyak bisa menjadi sangat beracun dalam jumlah besar. Namun, jika dikonsumsi dengan hemat, dan sangat jarang…”
Bertambah Gemuk, Berlapis Gula
Sama seperti Yonatan berhasil dengan baik di hutan untuk mendapatkan ”sedikit dari madu” dan tidak banyak, demikian juga kita hari ini dikelilingi oleh hutan gula yang merupakan kehidupan modern. Seperti halnya seks dan alkohol, kita belajar untuk berhati-hati dengan karunia terbesar dari Allah karena mereka begitu kuat. Madu itu baik – sangat enak sehingga tidak baik untuk memakannya dalam jumlah banyak.
Renungkan tentang apa yang dilambangkan oleh rasa manis sesaat di mulut, baik itu madu atau gula, dalam percakapan umum. Omongan yang ”dilapisi gula” bukanlah pujian. Gula telah menjadi simbol untuk “kalori kosong”; untuk merujuk pada kesenangan sesaat yang diikuti dengan “kehancuran” yang segera menyusul. Amsal 5:3 bahkan memperingatkan bahwa ”bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu”. Ada sebuah paradigma di sini: merasa senang pada saat ini, dengan penyesalan yang besar dan rasa jijik yang mengikutinya (Ams 9:17; 20:17; Ayub 20:12).
Bahkan sebelum Allah membawa umat-Nya ke ”tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya”, Dia memperingatkan tentang apa yang akan dihasilkan oleh kemewahan seperti itu karena dosa mereka — peringatan yang juga harus kita tanggapi dengan serius hari ini. Seiring waktu, mereka akan lupa untuk menangani karunia-Nya tersebut dengan hati-hati:
Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya; mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka. (Ul 31:20)
Dalam dosa, umat Allah datang untuk menerima karunia-Nya dan pada akhirnya meninggalkan-Nya. Bahkan ”madu dari bukit batu” yang disediakan-Nya untuk membuat mereka tetap hidup di padang gurun (Ul. 32:13; Maz. 81:16) dianggap enteng: ”Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, –bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun–dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya” (Ula. 32:15).
Apa yang Kita Pelajari dari Gula
Madu memang merupakan ciptaan dan karunia ilahi. Gula memang baik jika ditangani dengan hati-hati. Karunia dari Allah untuk menyenangkan selera kita — dan mengajari kita tentang Dia sendiri. Makanlah madu, firman-Nya. Rasakan betapa nikmatnya itu, dan renungkan bagaimana Dia yang menciptakannya sungguh sangat baik; dan jauh lebih baik.
Allah kita tidak hanya menyediakan madu bagi umat-Nya di padang gurun (sesuatu yang manis di tengah-tengah masa sulit kita), tetapi firman-Nya ”lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Maz. 19:10). ”Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku,” sorak Mazmur 119:103, ”lebih dari pada madu bagi mulutku.”
Tidak seperti madu dan gula, Anda tidak bisa terlalu banyak menikmati manisnya Allah. Keinginan kita untuk lebih menikmati Dia mungkin membantu dengan kecenderungan kita hari ini untuk beralih dari konsumsi yang berlebihan ke reaksi yang berlebihan dan kembali lagi.
Teologi alkitabiah tentang madu memberikan teguran bagi kedua belah pihak yang berdebat soal gula pada zaman ini. Terlepas dari bimbingan dari firman Allah, kita cenderung condong kepada sisi yang ekstrem: menyalahgunakan pemberian Allah yang baik melalui anggapan-dan-konsumsi yang berlebihan; atau melakukan penghindaran yang salah arah dan reaksi berlebihan yang memperlakukan gula sebagai kejahatan (atau sebagai racun) atas apa yang telah diberikan-Nya sebagai kebaikan.
Menikmati ”sedikit dari madu” — itu baik — begitu baik sehingga tidak baik untuk makan terlalu banyak.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "What Is Sweeter Than honey."