September 1 2017 Interview with John Piper Founder & Teacher, desiringGod.org
Transkrip Audio
Kapan pernikahan berubah dari sebuah hadiah yang indah dari Allah menjadi ilah atas rasa aman pribadi kita? Itu adalah pertanyaan hari ini yang dikirim oleh Valerie, seorang pendengar podcast yang cerdas yang tinggal di Perancis. “Halo tim desiringGod.org! Terima kasih atas pelayanannya dan sudah mengijinkan banyak orang mendapat manfaat dari semua sumber gratis di situs ini. Pendeta John, pertanyaan saya untuk podcast APJ ini adalah: Saya sangat mencintai suami saya, dan saya sangat bersyukur kepada Allah karena sudah meminjamkan dia sebagai suami saya selama kehidupan saya di bumi ini. Tetapi saya tidak ingin menjadikan dia berhala dalam hidup saya. Apa tanda-tanda bahwa saya sudah menjadikan dia berhala dalam hidup saya dan rasa aman saya? Dan bagaimana saya bisa mencintai suami saya lebih dan lebih lagi tanpa membuat saya menjadi lebih puas dengan relasi ini daripada relasi saya dengan Allah?
Kata-katanya Valerie sendiri cukup mengagumkan dan sudah berada di arah yang benar. Saya tidak mendengar banyak wanita mengatakan hal seperti ini: ”Saya sangat bersyukur kepada Allah karena sudah meminjamkan dia sebagai suami saya selama kehidupan saya di bumi ini.” Itu adalah sebuah langkah yang besar untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
Dia benar ketika mengatakan, ”Suami saya bukan milik saya. Dia adalah milik-Nya Tuhan. Dia dipinjamkan kepada saya dalam kehidupan ini. Sesudah itu, semua akan berakhir. Karena pada masa yang akan datang, Yesus berkata tidak ada orang kawin atau dikawinkan.” Valerie sudah menyiapkan dirinya secara teologis (bagi saya kelihatannya begitu).
Namun, menurut saya, dia sangat bijaksana karena menanyakan dan memikirkan soal penyembahan berhala. Kita semua seharusnya bertanya seperti apa tanda-tandanya. Izinkan saya berbicara sedikit tentang berhala dan lalu memberikan tiga cara sederhana untuk mewaspadai penyembahan berhala dalam relasi dengan pasangan kita atau siapa pun yang kita sayangi.
Jauhilah Penyembahan Berhala
Kalimat terakhir dari Surat 1 Yohanes berbunyi: “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” (1 Yoh. 5:21). Alasan saya menyebutkannya adalah karena hal ini sangat mengejutkan. Mengejutkan, karena Yohanes tidak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang penyembahan berhala dalam suratnya, Dia tidak pernah menyebut kata berhala. Dia tidak pernah menyebut kata penyembahan berhala.
Tiba-tiba, dia seperti menampar wajah Anda dengan bahasa berhala. ”Mengapa tiba-tiba engkau berbicara tentang penyembahan berhala di kalimat terakhirmu? kita bertanya-tanya. Saya menyimpulkan bahwa dia telah berbicara tentang penyembahan berhala tanpa menggunakan kata penyembahan berhala. Kita harus mundur dan membaca ulang serta menemukan seperti apa penyembahan berhala dalam Surat 1 Yohanes.
Ketika saya membaca ulang, perikop yang paling mendekati peringatan itu adalah dalam 1 Yoh. 2:15-17:
Janganlah mencintai dunia ini atau hal-hal yang ada di dalam dunia. Jika seseorang mencintai dunia, kasih Bapa tidak ada di dalam dia. Sebab, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan kesombongan hidup tidak berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dunia ini sedang lenyap bersama dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup selama-lamanya. (1 Yoh. 2:15-17, AYT)
Jadi anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. Rasul Yohanes menyatakan supaya jangan mencintai dunia ini, tetapi kemudian di ayat berikutnya dia menjelaskan bahwa yang dimaksudnya adalah jangan mencintai dunia seperti dunia mencintai dunia. ”Keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya.” Jangan memiliki cinta yang seperti itu. Jangan mencintai dunia seperti dunia mencintai dunia. Atau, seperti keinginan dunia terhadap dunia.
Persoalannya bukan sekadar mencintai dunia; menyukai dunia; menikmati dunia; atau bersyukur untuk dunia. Namun, persoalannya adalah mencintai dunia dengan cara dunia mencintai dunia. Itu adalah penyembahan berhala.
Tiga Pertanyaan
Ketika menyangkut suami atau isteri, persoalannya bukan hanya sekadar, ”Bolehkah mencintai suaminya saya? Bolehkah saya menikmati suaminya saya? Bolehkah saya menghargai suaminya saya?” Persoalannya adalah apakah kita mencintai, menikmati atau menghargai mereka dengan cara dunia atau dengan cara orang Kristen yang dipenuhi Roh Kudus? Berikut ini adalah tiga saran saya bagaimana supaya Valerie tetap waspada terhadap penyembahan berhala dalam relasi dengan suaminya — bagaimana dia bisa mengetahui bahwa dia tidak mencintai dengan cara dunia mencintai.
1. Apakah pikiran itu, tentang adanya kemungkinan akan kehilangan dia, menimbulkan kecemasan yang melemahkan?
Tidak ada isteri yang mau kehilangan suaminya. Karena itu, pikiran tentang kehilangan suaminya semestinya akan menjadi pikiran yang negatif — pikiran yang menyakitkan. Yang saya maksud dengan kecemasan yang melemahkan adalah jenis kekhawatiran, keresahan atau ketakutan yang melemahkan iman seorang isteri atau menghalangi dia melakukan pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada dia di rumah, gereja atau di dunia ini dengan sukacita.
Jika pikiran tentang kehilangan seorang suami menimbulkan kecemasan yang melemahkan dan melumpuhkan, maka alarm seharusnya berbunyi; menandakan bahwa suaminya mungkin sudah menjadi berhala yang menggantikan Allah (yang adalah kedamaian, keamanan, harapan dan sukacita kita).
2. Apakah kasih sayang dan sukacita Anda bersama suami menurunkan atau mengurangi sukacita Anda di dalam firman Allah, umat Allah, dan pelayanan?
Apakah kasih sayang Anda kepadanya, kesukaan Anda bersamanya, memperdalam dan meningkatkan kasih Anda kepada Kristus, kesukaan Anda pada firmanNya dan ikatan Anda dengan umat-Nya?
Dengan kata lain, saran yang pertama, tanyakan mengenai apakah akibat dari kehilangan suami Anda? Saran yang kedua, tanyakan mengenai apakah akibat dari kehadiran dan kesukaan bersamanya sekarang ini? Yesus berkata, ”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:37).
Saya pikir Yesus juga akan mengatakan barangsiapa mengasihi suami atau isterinya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Kita dapat mengukur apakah kasih sayang kita kepada Yesus lebih tinggi dengan bertanya apakah yang akan terjadi jika kita kehilangan kekasih dunia terbaik kita atau apakah yang terjadi saat kita menikmati kekasih duniawi terbaik kita.
3. Apakah relasi Anda dengan suami diatur oleh firman Allah?
Di sini saya tidak berbicara tentang seberapa baik Anda mengatur relasi Anda berdasarkan Kitab Suci, tetapi apakah itu menjadi kerinduan hati Anda untuk membawa relasi Anda di bawah firman Allah dan mengukur keindahan serta keberhasilannya berdasarkan standar Alkitab — bukan standar dunia atau standar Anda sendiri? Satu tanda yang baik yang menunjukkan bahwa kita sedang bergerak menuju penyembahan berhala adalah ketika kita mengabaikan firman Allah dan memutuskan bahwa kita akan mendefinisikan arti cinta; arti kesetiaan; dan arti relasi yang baik dengan istilah kita sendiri (atau istilah yang kita dapat dari buku atau film yang kita tonton). Namun, kita tidak mempelajari Kitab Suci dan memohon kepada Allah untuk membentuk relasi-relasi kita dengan kebenaran yang sudah dinyatakan-Nya.
Jadi, tiga saran saya — untuk menjawab pertanyaan apakah tanda-tanda jika saya sudah menjadikan suami saya menjadi berhala? — adalah (1) Apakah pikiran tentang adanya kemungkinan kehilangan dia akan menimbulkan kecemasan yang melemahkan? (2) Apakah kasih sayang dan sukacita Anda bersama suami menurunkan atau mengurangi sukacita Anda di dalam firman Allah, umat Allah, dan pelayanan? (3) Apakah relasi Anda dengan suami Anda dipimpin oleh firman Allah atau oleh gagasan Anda sendiri atau gagasan dari dunia ini?
Berbahagialah suami dan berbahagialah isteri, yang saling mencintai dengan cinta yang kedua sesudah cinta mereka kepada Kristus. Ketika kita lebih mencintai Kristus, kita akan saling mencintai dengan lebih baik.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "HAS MARRIAGE BECOME MY IDOL."