Allah Membelah Lautan bagi Anda

23 September 2018
Artikel oleh Marshall Segal
Staf penulis, desiringGod.org

“TUHAN adalah kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku… Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu,  menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur,  Engkau pembuat keajaiban?  (Kel. 15:2,11)

Jika saja kita bisa melihat lautan yang ditahan Allah untuk membebaskan kita dari dosa, seberapa besar kemungkinannya kita akan berhenti lalu memazmurkan keagungan-Nya?

Kita hanya bisa memahami sebagian kecil kekuatan Iblis, kengerian dosa kita; dan murka neraka. Sebelum Kristus menarik kita dari gelombang badai, Iblis menguasai setiap serat dan saraf dalam diri kita; menuntun kita di jalan kematian dengan jejak kebohongannya. Sebelum Allah mengirimkan Anak-Nya mati di kayu salib, dan memasuki kehidupan kita melalui Roh-Nya, dosa memenuhi jiwa kita seperti air dalam sebuah kapal yang tenggelam; menenggelamkan harapan kita dengan kekotoran kita sendiri. Sebelum kita menerima karunia iman – dan melalui iman pengampunan, sukacita dan hidup kekal – neraka berdiri lebih tinggi dari gelombang tertinggi dalam badai terburuk, mengancam dengan rasa sakit yang tidak dapat kita bayangkan dan yang setiap hari menjadi semakin buruk selamanya.

Namun, Allah membelah laut, menenangkan ombak, dan mengangkat kapal kita yang tenggelam untuk kembali ke kehidupan. Dia menaruh kita di tanah yang aman.

Terjepit di Antara Kematian

Dalam Kitab Keluaran 15, Musa bernyanyi karena Allah sudah melakukan keajaiban; menyelamatkan umat-Nya dari musuh yang jauh lebih besar-dan-kuat dari mereka; membelah Laut Merah untuk mereka; dan kemudian menghancurkan tentara Mesir tepat ketika orang Israel berjalan dengan aman. Musa memuji-muji, ”Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering  dari tengah-tengah laut” (Kel. 15:19).

Pernahkah ada gambaran yang lebih menakjubkan tentang keselamatan kita? Tentara dan keretanya mendesak umat Allah dari belakang sementara lautan mengamuk di depan mereka. Mereka terjepit di antara kematian. Mendadak mereka semakin menyadari kelemahan dan keputusasaan mereka. Melarikan diri tidak mungkin. Tertangkap tidak mungkin dihindari. Kemenangan tidak terbayangkan.

Kemudian, Allah menarik mundur ombaknya seperti tirai linen. Dia telah membawa mereka ke jurang keputusasaan untuk menunjukkan kepada mereka betapa kecilnya para tentara dan lautan itu dibandingkan dengan-Nya. ”Karena nafas hidung-Mu,” Musa bermazmur, ”segala air naik bertimbun-timbun;  segala aliran berdiri tegak seperti bendungan;  air bah membeku di tengah-tengah laut” (Kel. 15:8). Ombak tidak bertimbun-timbun. Aliran air tidak tertahan. Laut tidak diam. Kecuali karena nafas hidung Allah. Dia menarik mundur bermil-mil air yang mengamuk dengan nafas hidung-Nya. Tuhan adalah keselamatan mereka.

Dia adalah KeselamatanKu

Sebelum Yesus menjadi Tuhan, Penyelamat dan Harta Terbesarnya kita, maka kita berada di dalam bahaya yang lebih besar; melawan musuh yang lebih besar dan lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Mendesak di belakang kita adalah gerombolan setan yang menggoda, menuduh, dan menyesatkan. Di hadapan kita, lautan dosa dan semua konsekuensinya – siksaan abadi terpisah dari Allah. Kita tidak memiliki senjata untuk berperang. Kita tidak bisa berenang. Kita terjepit di antara kematian. 

Sampai kemudian Tuhan terjun dan tenggelam bagi kita.  Yesaya menggambarkannya untuk kita: ”Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan  kita yang dipikulnya… Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita… Kita sekalian sesat  seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya  sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan  kita sekalian (Yes. 53:4-6).  Dia mati untuk memberi Anda tanah yang kering.

Ada gambaran yang lebih menakjubkan tentang keselamatan kita: di mana seorangpria terjepit di antara dua palang kematian, membawa kengerian dosa kita dan menghadapi murka neraka. Ketika Allah menarik mundur lautan untuk kita, Dia menancapkan paku ke tangan-dan-kaki-Nya Yesus. Dia tidak lemah seperti kita, tetapi dia menjadi lemah bagi kita. Dia tidak berdosa seperti kita, tetapi dia menjadi berdosa karena kita. Dia tidak dihukum seperti kita, tetapi Dia menggantikan tempat terkutuk kita di kayu salib. Bahkan Laut Merah terlihat kecil dan tidak berarti dibandingkan dengan Kalvari.

Lebih dari Keselamatanku

Tetapi Allah lebih dari keselamatan kita. Sebetulnya, jika Dia tidak menjadi mazmur bagi kita juga, maka Dia bukanlah keselamatan kita. ”TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.” (Kel. 15:2).  Jika kita berdiri di hadapan salib, dengan tanah yang kering dan aman di bawah kaki kita, sungguhlah keterlaluan jika kita tetap diam saja.

Ketika Allah memimpin umat-Nya keluar dari Mesir, Dia ingin mereka berpawai seperti kelompok paduan suara. Dia ingin sukacita mengalir dari nyanyian mereka yang menceritakan kekuatan-Nya, kemurahan-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan keadilan-Nya pada siapapun yang mendengarnya. Maka, mereka bernyanyi, ”Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?” (Kel. 15:11).

Mereka diselamatkan dari Firaun sementara kita diselamatkan dari api neraka. Mereka diberi Kanaan sementara kita diberi surga. Mereka dipercayakan sebuah janji sementara kita sudah bertemu sang Mesias. Maka, apa yang akan kita nyanyikan?

Kemuliaan bagi Allah Bapa.
Kemuliaan bagi Allah Anak.
Kemuliaan bagi Allah Roh.
Tuhan adalah keselamatan kita.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "God Parted The Seas for You."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *