Apakah Kasih Kita Berbeda?

Referensi : berita

Rom. 13:9 (AYT)
Sebab, “Jangan berzina, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini,” dan jika ada perintah lain, semuanya sudah terangkum dalam perkataan ini, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”


Ketika kita sedang berada dalam situasi dilema, apakah sebaiknya melakukan/mengatakan ini atau tidak pada seseorang, kekristenan mengajarkan kita prinsip untuk bertukar peran/posisi dengan orang itu saja. Andai orang lain melakukan/mengatakan itu pada kita, akankah kita responi dengan baik? Jika ya, maka silakan melakukan/mengatakannya.

Alkitab dengan gamblang menyatakan kalau manusia terlahir jahat adanya. Tidak ada yang baik, seorang pun tidak.  Secara alami, kita pasti lebih memilih mengasihi diri kita sendiri.

Memenuhi kepentingan diri sendiri lebih utama dibandingkan orang lain. Semua adalah tentang “aku, saya, dan diriku”. Karena itu, manusia tidak perlu diajari berbuat jahat sudah bisa dengan sendirinya pintar untuk berbuat jahat dan egois. Kuasa dosa sudah merusak dan mencemari kehendak, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita.

Ketika kita dilahirbarukan Roh Kudus, natur ini yang diubah. Manusia lama yang egois (self-oriented) sudah berlalu. Yang baru sudah tiba (God-oriented). Namun, walaupun sudah diubah naturnya, kecenderungan hati kita akan tetap memilih hal-hal yang self-oriented karena kita masih ingat “nikmat”nya hidup sebagai orang yang egois.

Lantas, apa beda perbuatan baik/kasih yang dilakukan orang Kristen dan orang dunia? Bukankah banyak orang dunia yang dikenal sebagai dermawan? Perbedaan utamanya pada motivasi hati mereka yang terdalam.

Natur hati mereka tidak pernah diubah. Sambil memberi, sambil berdosa. Orang dunia berbuat baik untuk merasa baik dan terlihat baik. Orang Kristen berbuat baik semata-mata karena ia ingin mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mrk 12:28-33).

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *