Tuhan, Sumber Hikmat

Yak. 1:5 (AYT)
Akan tetapi, jika di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, yang dengan murah hati memberi kepada semua orang tanpa mencela, dan itu akan diberikan kepadanya.



Orang Kristen adalah domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Kita diselamatkan dari dunia, tetapi diutus ke dunia. Kita bukan dari dunia, tetapi tetap harus hidup di tengah-tengah dunia. Tidak heran jika nilai-nilai Kristen yang kita pegang akan bertentangan dengan nilai-nilai dunia secara tajam. 

Karena itu, kita memerlukan hikmat Allah dalam semua hal. Kapan kita harus diam, kapan kita harus berbicara. Kapan kita harus maju, kapan kita harus mundur. 

Kita bisa belajar dari Tuhan Yesus bagaimana hidup berhikmat. 1001 orang diperlakukan dengan 1001 cara. Ada yang perlu didekati dengan pembicaraan sehari-hari, misalnya dengan cara meminta air minum terlebih dahulu (Yoh. 4:5-7). Ada yang perlu diresponi dengan keras tanpa basa-basi meskipun orang itu datang dengan puja-puji (Yoh. 3:1-3).

Ada yang perlu disindir dengan perumpamaan (Mat. 21:45). Ada yang perlu ditegur dengan keras dan dilakukan di depan umum (Mat. pasal 23). Bahkan, ada yang perlu diusir dengan cambuk dari tali (Yoh. 2:15).

Tuhan kita adalah Allah yang murah hati (Luk. 6:36). Ia paham kalau kita dikepung oleh nilai-nilai dunia yang berusaha menyesatkan kita. Kita perlu hikmat Allah supaya kita bisa lebih teliti memperhatikan apa yang sudah kita dengar supaya kita tidak terseret arus (Ibr. 2:1). Karena itu, Yakobus meyakinkan kita untuk “memintanya kepada Allah, yang dengan murah hati memberi kepada semua orang tanpa mencela”. 

Mengenal Kitab Suci dapat memberi hikmat (2 Tim. 3:15). Merenungkan Taurat Tuhan membuat kita berhikmat. Perintah-Nya membuat kita lebih bijaksana dari pada musuh-musuh kita. Hikmat dari Allah bahkan bisa membuat kita lebih berakal budi dari pada semua pengajar dan dari para orang tua (Mzm. 119:97-100).

Namun, perlu dipahami kalau hikmat dari Allah seringkali membuat kita harus melawan arus. Waktu dan cara-Nya Tuhan berbeda dengan waktu dan caranya dunia. Orang dunia inginnya “lebih cepat lebih baik”, orang Kristen bisa diminta menunggu bertahun-tahun (Ul. 8:2-18). Orang dunia inginnya “makin banyak makin baik”, orang Kristen bisa diminta yang sebaliknya (Hak. 7:2).

Kalau keseharian kita sudah mirip sekali dengan orang dunia, kita harus jujur menguji diri sendiri apakah kita masih melakukan segala sesuatu dengan hikmat Allah atau sudah berkompromi dengan nilai-nilai dunia ini. Domba dan serigala tidak mungkin bisa mirip.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *