6 September 2017 Artikel oleh Marshall Segal Staf Penulis, desiringGod.org
Orangtua memiliki banyak pengaruh terhadap hidupnya kita, tetapi tentunya tidak akan pernah melebihi pengaruh-Nya Allah. Seperti apa pun orangtuanya Saudara – saleh atau tidak; bijaksana atau tidak; baik hati atau tidak – Saudara dapat berdamai dengan masa lalunya Saudara.
Raja-raja yang berkuasa selama zaman Yesaya adalah garis keturunan dari keluarga yang kacau balau: Uzia memperanakkan Yotam; Yotam memperanakkan Ahaz; Ahaz memperanakkan Hizkia (Yes. 1:1). Empat penguasa yang sangat berbeda, tetapi mereka masing-masing adalah seorang ayah; seorang putra; dan orang berdosa dengan caranya masing-masing. Yang menggelitik saya ketika membaca Kitab 2 Tawarikh baru-baru ini adalah hubungan di antara mereka. Bagaimana seorang ayah mempengaruhi putranya? Bagaimana anak-anak ini menanggapi kesuksesan-dan-kegagalan ayahnya mereka?
Transisi kekuasaan di antara mereka menyoroti satu tema yang berlaku sampai hari ini: ”Secara biologis atau sosial, kita mungkin akan cenderung terjatuh ke dalam pola dosa yang sama seperti orangtua kita, tetapi kita tidak ditakdirkan untuk mengulangi kegagalannya mereka – atau kesalehannya mereka.”
Kegagalan Moral Seorang Ayah
Uzia menjadi raja saat berusia enam belas tahun, pada usia yang sama ketika anak-anak pada zaman ini diperbolehkan memiliki SIM. Dua tahun sebelum umur seseorang pada zaman ini bisa mengikuti Pilpres, Uzia sudah dipercaya untuk memerintah umat pilihan-Nya Allah. Meskipun naik takhta lebih cepat dibandingkan bintang pop remaja pada zaman ini, Alkitab menyatakan kalau ”dia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, sesuai dengan semua yang telah dilakukan Amazia oleh ayahnya” (2 Taw. 26:4).
Ayahnya, bagaimanapun, tidak selalu melakukan yang benar dengan segenap hati (2 Taw. 25:2). Sebenarnya, Amazia yang membawa dewa-dewa asing ke Yehuda dan menyembah mereka (2 Taw. 25:14). Karena melakukan hal tersebut, Allah membuatnya kalah dalam pertempuran melawan Kerajaan Israel (Utara). Mereka kemudian menangkapnya dan merubuhkan tembok Yerusalem (2 Taw. 25: 21-23).
Ketika ayahnya Uzia memilih apa yang salah di mata Allah, orang-orang bersekongkol melawannya sehingga dia kemudian melarikan diri (2 Taw. 25:27). Bangsanya sendiri yang memburu dan kemudian mengeksekusinya. Amazia mati menggenaskan; sebagai seorang pengkhianat-dan-penyembah berhala yang melawan Allah sendiri. Diasingkan dengan cara dihukum mati menjadi sesuatu yang diwariskan Amazia bagi Uzia.
Meniru Orangtua yang Cacat
Rakyat membunuh raja mereka sendiri, lalu menjadikan anaknya yang baru berumur 16 tahun sebagai penggantinya. Bagaimana Uzia hidup dan melayani dengan menyadari dosa-dosa yang dilakukan ayahnya memiliki hubungan dengan bagaimana kita seharusnya hidup dan melayani dalam bayang-bayang kegagalan orangtuanya kita.
Kembali mengingatkan, Alkitab menyatakan kalau ”ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, sesuai dengan apa yang telah dilakukan Amazia, ayahnya” (2 Taw. 26: 4). Uzia tidak membuang semua hal yang pernah dilakukan ayahnya hanya karena ayahnya terjatuh di akhir kehidupannya. Uzia meniru apa yang baik dan tidak melakukan apa yang salah.
Uzia memerintah selama 52 tahun. ”Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil (2 Taw. 26:5). Dengan bantuan Allah, dia menaklukkan orang-orang Filistin dan orang-orang Arab (26:7), membangun menara-menara yang kuat di Yerusalem (26:9), dan mengumpulkan tentara yang dipersiapkan dengan baik (26:11-15).
Dia tidak hanya mencari Allah-yang-sejati, seperti yang pernah dilakukan ayahnya (meskipun terjatuh di kemudian hari), Uzia segera memperbaiki apa yang salah atau hilang selama masa pemerintahan ayahnya. Dengan pertolongan Allah, dia melakukan berbagai hal untuk memulihkan tanah yang hilang dalam peperangan; untuk membangun kembali tembok di Yerusalem; dan untuk membangun kembali umat Allah melawan musuh-musuhnya – bukan sebagai usaha perbaikan atas dosa ayahnya, namun sebagai pembaharuan setelah dosa. Dia mengambil abu kegagalan ayahnya dan meminta Allah untuk menghembuskan kehidupan baru ke dalamnya.
Penulis Kitab 2 Tawarikh menyatakan, ”Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat” (26:15).
Ayah Lain yang Terjatuh
Ayat berikutnya menyatakan: ”Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan” (26:16). Raja muda yang saleh ini akhirnya mengikuti godaan yang sama yang dialami ayahnya. Seperti ayahnya, ia mengikuti Allah selama bertahun-tahun, tetapi kemudian terjatuh ke dalam kegagalan moral yang mengerikan.
Delapan puluh imam datang menegur Uzia atas dosanya. Uzia ”menjadi marah” (26:19). Dia menggandakan pelanggaran tersebut dengan menolak nasihat yang bijak-dan-saleh; menambahkan amarah yang tidak benar pada kebanggaannya yang dipertahankan dengan keras kepala. Allah menghukumnya dengan penyakit kusta. Dia tinggal dalam sebuah rumah pengasingan karena penyakit kustanya (26:21).
Dia memang tidak mengulangi kegagalan ayahnya (dengan tidak menyembah berhala), tetapi dia menciptakan kegagalannya sendiri. Uzia membuktikan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk selalu mengulangi dosa orangtuanya kita. Setiap manusia rentan terhadap dosa di dalam dirinya masing-masing.
Putra yang Lain Kemudian Muncul
Bagaimana Yotam memikirkan kusta yang dialami ayahnya – diasingkan dari semua orang karena menghina Tuhan – atau eksekusi mati yang dialami kakeknya (dibunuh karena telah menggantikan Sang Pencipta dengan patung-patung konyol dan buatan manusia)? Apakah dia terbebani karena semuanya itu? Apakah dia menyalahkan kelemahan dan dosanya karena berbagai teladan buruk dari para leluhurnya?
Yotam menjadi raja pada umur 25. Kitab 2 Tawarikh menyatakan: ”Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Uzia, ayahnya, hanya ia tidak memasuki Bait TUHAN” (2 Taw. 27:1-2). Tidak seperti ayahnya, dia merendahkan dirinya di hadapan Allah dan bait-Nya. Seperti ayahnya, dia mengikuti teladan ayahnya dengan hidup saleh dan menolak untuk mengulangi kegagalan ayahnya. Dia memperkuat Yerusalem dengan tembok, gerbang, benteng, dan menara (2 Taw. 27:3-4). ”Yotam menjadi kuat, karena ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Allahnya” (2 Taw. 27:6).
Anak-anak yang Tidak Sempurna dari Ayah yang Terjatuh
Yotam juga bergumul dengan dosa, seperti apa yang terjadi pada kita semua. Dia tidak meruntuhkan tempat-tempat penyembahan berhala (2 Raj. 15:35), sebuah dosa yang telah dilakukan ayahnya juga (15:4). Berarti, Yotam tidak kebal terhadap pengaruh buruk ayahnya. Kita semua lebih mungkin untuk melakukan dosa yang sama yang dilakukan orangtuanya kita. Namun, Yotam membuktikan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk terjatuh di lubang yang sama. Dia meneladani-dan-meniru kesetiaan ayahnya, tetapi menolak melakukan kesalahan ayahnya (meskipun tidak dengan sempurna).
Kisah mengenai dirinya adalah pasal terpendek dalam Kitab 2 Tawarikh (hanya sembilan ayat), namun mungkin merupakan contoh terbesar – bagaimana ia bisa mengatasi kelemahan-dan-kegagalan yang dialami keluarganya, Meskipun tidak memerintah secara sempurna, namun ia adalah seorang raja yang teguh. Dia tetap memilih apa yang benar di mata TUHAN, meskipun dia melihat ayah dan kakeknya memilih untuk melakukan apa yang salah di mata TUHAN.
Jika Saudara adalah anak dari orangtua yang hidupnya berantakan, janganlah berkecil hati. Seperti Uzia, kita bisa menolak ilah sesembahan leluhurnya kita. Seperti Yotam, kita bisa menolak dosa orangtuanya kita. Dibandingkan orang lain, mungkin lebih besar kemungkinannya bagi kita untuk mengulangi kesalahan orangtuanya kita karena kita banyak belajar dari mereka. Namun, firman Tuhan dan Roh-Nya selalu sanggup mencegah kita untuk melakukan apa yang salah di mata Tuhan, sekalipun kejahatan tersebut sudah tertanam begitu kuat dalam hidup kita.
Jangan sampai kita mengabaikan bukti dari kasih karunia dan bagaimana kita bisa tetap hidup dalam ketaatan hanya karena ayah atau ibunya kita gagal melakukannya. Sampai pada tingkat di mana mereka masih ”melakukan apa yang benar di mata Tuhan”, kita bisa belajar-dan-meniru teladannya mereka untuk diterapkan dalam keseharian kita; pernikahan kita; maupun pola pengasuhan anak kita.
Sebaliknya, terkait dengan ”melakukan apa yang salah di mata Tuhan”, kita berduka atas dosa orangtuanya kita dan rasa sakit yang ditimbulkannya bagi kita dan orang lain. Kemudian, kita bisa memilih untuk bertobat dan berbalik dari dosanya kita sendiri.
Kita tidak bisa menghapus dosa mereka ataupun menebusnya. Namun, kita bisa mematikan dosa yang sama tersebut sebelum dosa itu menghabisi kita. Setelah memahami kesalahan mereka, hargailah anugerah Allah yang bisa mencegah kita melakukan kesalahan yang sama dan terjatuh ke dalam kegagalan yang sama.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'You Are Not Destined To Be Your Parents.'