Siapakah Dia Menurut Anda?

Berbagai Legenda Mengenai Maria Magdalena

13 Oktober 2020
Artikel oleh Jon Bloom
Staf penulis
, desiringGod.org

Saya menganggap Maria Magdalena adalah pengikut Yesus, yang tercatat dalam Perjanjian Baru (PB), yang paling salah dipahami dan salah digambarkan oleh sejarah. Coba perhatikan fakta berikut ini. 

Maria hanya disebutkan namanya dalam PB sebanyak dua belas kali (oleh keempat penulis Injil). Sebelas dari total dua belas kali itu terkait dengan kesaksiannya akan penyaliban dan kebangkitan Yesus. Hanya sekali saja dia disebutkan pada peristiwa lain. Hanya ada penjelasan sekilas mengenai kisah hidupnya. Kitab Suci menyatakan kalau Maria telah dibebaskan dari tujuh roh jahat (berdasarkan konteks yang ada, kita mengasumsikan kalau Yesus yang membebaskannya) dan kemudian bersama para perempuan lain melayani Yesus dan rombongan. Ia juga mungkin ikut melayani dengan kekayaannya (Luk. 8:2-3). Hanya itu saja informasi mengenai dirinya. 

Namun, halaman Wikipedia yang menjelaskan mengenai Maria Magdalena malahan lebih banyak dibandingkan Rasul Petrus, Rasul Paulus, ataupun Bunda Maria. Wikipedia memang bukanlah sarana untuk mengukur penting tidaknya seorang karakter dalam Alkitab. Namun, mengingat betapa minimnya informasi mengenai Maria Magdalena dalam Alkitab, adalah hal yang tidak lazim ketika kita melihat adanya berbagai fenomena sejarah mengenai dirinya – lebih tepatnya berbagai legenda mengenai Maria Magdalena. 

Masa Lalu yang Terkait Dosa Seksual? 

Berbagai tradisi dalam banyak gereja Barat, terkait masa lalunya, entah bagaimana menggambarkan Maria sebagai mantan pelacur atau orang yang memiliki perilaku seksual yang menyimpang. Tradisi dalam gereja Timur tidak pernah menggambarkannya seperti itu. Karena informasi ini tidak pernah dinyatakan dalam Alkitab, dari mana munculnya penggambaran ini? Meskipun mungkin sudah muncul jauh-jauh hari sebelumnya, gagasan ini sepertinya timbul setelah khotbahnya Paus Gregorius I (Gregorius Agung) pada tahun 591 M. Ia menyatakan kalau si perempuan berdosa dalam Injil Lukas 7:36-50 (yang diasumsikannya terkait dosa seksual) dan Maria dari Betania (yang mengurapi kaki Yesus dalam Injil Yohanes 12:3-7) adalah orang yang sama, yaitu Maria Magdalena. Meskipun tidak memiliki dukungan teks untuk kesimpulan ini, penafsiran ini diterima secara umum selama berabad-abad melalui narasi mengenai Maria yang digambarkan seperti itu. 

Lantas, pada Abad Pertengahan, gambaran ini diperkuat oleh berbagai tulisan mengenai kisah hidupnya Maria yang sangat fantastis, terperinci, dan sepenuhnya fiktif. Ada berbagai variasi. Kebanyakan menggambarkannya sebagai orang yang tadinya melakukan berbagai tindakan seksual yang menyimpang sebelum akhirnya bertobat. Setelah Yesus naik ke surga, beberapa tulisan menyatakan kalau Maria hidup selibat, asketis, dan kudus di padang gurun. Beberapa tulisan bahkan menyatakan ia menikahi Rasul Yohanes (bahkan sampai menyatakan perkawinan di Kana ketika Yesus mengubah air menjadi anggur adalah pesta perkawinannya mereka). Beberapa tulisan menyatakan kalau Maria tinggal dengan ibunya Yesus di Efesus. 

Semua penafsiran ini – berdasarkan penggalian Alkitab yang spekulatif dan sebuah kisah hidup yang tak berdasar – digambarkan melalui berbagai lukisan dan pahatan akan Maria dari berbagai seniman terkenal masa Pertengahan, Renaissance, Baroque, dan bahkan hingga Modern. Semuanya ini hanya semakin memperkuat gambaran yang populer mengenai Maria Magdalena sebagai wanita yang tadinya hidup dalam dosa seksual. 

Menikah Dengan Sang Mesias? 

Pada tahun 2003, penulis Dan Brown menimbulkan kegemparan dengan karya ”sejarah” fiktifnya, yaitu The Da Vinci Code. Alur cerita misteri-thriller yang ditulisnya ini terkait rahasia yang diyakininya telah disembunyikan Gereja Roma Katolik selama berabad-abad. Dikisahkan kalau Maria Magdalena menikah dengan Yesus; sedang mengandung ketika Yesus disalibkan; melahirkan seorang putri bernama Sara dan pindah ke wilayah selatannya Perancis pada zaman ini. Sara kemudian menikah dengan keturunan raja Perancis sehingga keturunannya (yang berarti termasuk keturunannya Yesus) terus berlanjut hingga hari ini. Menurut kisah ini, legenda mengenai ”cawan suci” bukan merujuk pada cawan yang digunakan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir, melainkan pada pribadi Maria Magdalena. Brown meyakini kalau kisah fiktifnya ini ditulis berdasarkan fakta sejarah. Namun, kebanyakan pakar, baik mereka yang religius maupun tidak, secara umum tidak mengakui berbagai klaim yang dibuatnya.

Pertanyaannya: ”Dari mana dunia memperoleh gagasan mengenai pernikahannya Yesus dengan Maria Magdalena?” Jika kita menelusuri berbagai legenda Magdalena yang fantastis-dan-gelap ini, kita akan sampai pada tulisan-tulisan Gnostik yang ditulis jauh-jauh hari setelah masa penulisan PB (dan masa kehidupan Maria); antara abad kedua hingga kelima. Meskipun berbagai tulisan ini tidak menyediakan informasi yang akurat mengenai Maria Magdalena (atau Yesus dan para rasul), tulisan-tulisan ini menyediakan sekilas pandang mengenai berbagai legenda yang beredar pada saat itu. Dari berbagai tulisan Gnostik yang telah ditemukan, Maria ditampilkan secara berbeda-beda melalui lima naskah, yaitu: Dialogue of the Savior, Pistis Sophia, Injil Tomas, Injil Filipus, dan Injil Maria (kebanyakan pakar percaya kalau isinya merujuk pada Magdalena).

Mereka menggambarkan Maria memiliki tempat yang terhormat di antara para rasul. Beberapa dari mereka bahkan mengakuinya sebagai favoritnya Yesus. Injil Filipus merujuk status khususnya sebagai pendampingnya (koinônos) Yesus. Kata ini merupakan istilah yang ambigu karena bisa merujuk pada hubungan asmara atau sekadar persahabatan. Kitab ini juga menyatakan kalau Yesus sering berciuman dengan Maria (yang kemungkinan besar merujuk pada berciuman bibir). 

Gabungkanlah berbagai tulisan Gnostik ini dengan berbagai kisah hidup yang sudah jauh melenceng pada zaman Pertengahan. Kemudian, tambahkanlah kecenderungannya manusia-yang-sudah-terjatuh-dalam-dosa untuk memperdaya, tertarik pada hal yang cabul, dan berminat dengan skandal, maka tidak mengherankan jika ”cawan suci” kemudian bisa merujuk pada Magdalena (seperti yang dinyatakan Dan Brown dalam novelnya yang terjual puluhan juta eksemplar ini). Ini merupakan penyimpangan yang sangat jauh dari gambaran Maria Magdalena yang sebenarnya hingga akhirnya menjadi topik pembicaraan yang cabul dalam budaya pop pada abad ke-20.  

Apa yang Kita Ketahui

Sebenarnya, kita tidak memiliki dasar sejarah untuk percaya pada apa pun yang dikatakan mengenai Maria Magdalena selain berdasarkan pada data yang minim, tetapi sangat penting, yang dinyatakan Alkitab mengenai dirinya. Berikut ini adalah siapa Maria sesungguhnya menurut Alkitab. 

Kita tahu kalau Maria berasal dari kota Magdala, yang terletak di Barat Lautnya Danau Galilea. Kota ini terkenal akan industri perikanannya (meskipun beberapa pakar juga percaya kalau kota ini terkenal dengan prostitusinya). Kita tahu dengan pasti kalau Maria memiliki masa lalu yang bermasalah karena tujuh roh jahat telah diusir darinya (Luk. 8:2). Kita tidak tahu mengapa dia sampai bisa dirasuki tujuh roh jahat. Apakah itu disebabkan prostitusi atau perbuatan seksual lainnya? Atau karena penindasan seksual? Mungkin-mungkin saja. Namun, pada akhirnya semua jawaban mengenai penyebab hal itu tidak penting. Roh Kudus hanya membuka masa lalunya Maria secara samar-samar. Terlalu banyak berspekulasi akan membuat kita kehilangan makna pentingnya. 

Apa yang dinyatakan Roh Kudus dengan jelas mengenai Maria Magdalena dalam keempat Injil (sebuah kehormatan yang langka) adalah: Maria hadir pada peristiwa penyaliban (Mat. 27:55–56; Mar. 15:40–41; Yoh. 19:25–27) dan pemakaman-Nya Yesus (Mat. 27:57–61; Mar. 15:42–47). Kemudian, Maria adalah pengikut Yesus yang pertama-tama melihat kubur yang kosong; yang terdahulu melihat-dan-berbicara pada Yesus yang telah bangkit; dan yang pertama-tama bersaksi mengenai kebangkitan-Nya (Mat. 28:1–10; Mar. 16:1–8; Luk. 24:10–12; Yoh. 20:1–18).

Salah satu kebenaran penting yang saya percaya diinginkan Roh Kudus untuk kita lihat adalah: ”Seorang perempuan dengan masa lalu yang bermasalah, yang mungkin memiliki masalah yang sama seperti yang kita miliki, telah diberikan kehormatan yang besar untuk menjadi yang terdahulu.” 

Siapakah Dia Menurut Anda? 

Pada abad pertama di Palestina, seorang perempuan yang memiliki masa lalu yang bermasalah akan menjadi orang terakhir yang mungkin dipilih untuk jadi ”yang terdahulu”. Saya yakin Maria sama terkejutnya dengan orang-orang. Namun, Yesus sudah menyatakan kalau orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dalam Kerajaan Surga (Mat. 20:16). Yesus tidak menunda-nunda untuk mulai menggenapi nubuat tersebut pada hari pertama kebangkitan-Nya. 

Maria memang memiliki masa lalu yang tercela, namun ia mengasihi dan percaya pada Yesus. Melalui imannya tersebut, ia dianugerahi berbagai karunia yang tidak pantas didapatkannya (menjadi yang terdahulu pada Minggu Paskah hanyalah contoh kecil mengenai karunia yang tidak pantas didapatkannya). Maria mendapatkan sesuatu yang jauh-jauh lebih baik dalam kekekalan ketimbang menikahi Yesus yang berada di bumi. Ia diberi hak istimewa yang tidak bisa dipahami dengan menjadi bagian dari Mempelai Perempuan-Nya Yesus, yaitu Gereja (Why. 21:9). Maria telah menerima sesuatu yang jauh-jauh lebih baik dalam kekekalan ketimbang melahirkan seorang putri bagi Yesus. Maria diberi hak istimewa yang tidak bisa dipahami dengan menjadi putri-Nya Allah melalui Yesus (Efe. 1:5). 

Ada hal-hal yang lebih indah untuk dilihat dalam bagian Alkitab yang berbicara mengenai Maria Magdalena ketimbang semua buku yang telah ditulis selama berabad-abad yang isinya hanyalah berupa spekulasi yang menyimpang dan kesalahan yang konyol. Maria Magdalena adalah gambaran yang indah mengenai kasih karunia-Nya Allah yang begitu luar biasa, yang telah dianugerahi pada orang-orang yang tidak pantas, seperti kita semua.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'Who Do You Say That She Was?
 The Legends of Mary Magdalene.'

You may also like...

Tinggalkan Balasan