Sukacita Surga
25 Januari
oleh Yonghan
Mat. 1:6 (AYT)
“Isai adalah ayah dari Raja Daud. Daud adalah ayah dari Salomo, dari bekas istri Uria.”
Mungkin untuk menghindari terjadinya kerancuan bagi para pembacanya, terjemahan versi Alkitab Yang Terbuka (AYT), karyanya Yayasan Lembaga Sabda (YLSA), menambahkan kata ”bekas” dalam Mat. 1:6. Masalahnya, teks aslinya dalam bahasa Yunani tidak mengandung arti ”bekas”/ ”mantan” sama sekali.
Mungkin untuk alasan serupa, beberapa versi bahasa Inggris yang terkemuka juga menambahkan frasa yang sejenis ini. Misalnya, New American Standard Bible (NASB) juga menerjemahkan bagian ini sebagai ”David fathered Solomon by her who had been the wife of Uriah”. Sementara itu, New King James Version (NKJV) menerjemahkannya sebagai ”David fathered Solomon by her who had been the wife of Uriah”.
Terjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang sudah sesuai dengan teks Yunaninya, yaitu: ”… Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria” (Mat. 1:6). Saya berasumsi Matius justru sengaja menampilkan fakta dan kenyataan itu apa adanya. Bahwa apa pun dinamika yang terjadi, Batsyua binti Amiel, Batsyeba tetap adalah istrinya Uria.
Batsyeba sewaktu masih menjadi istrinya Uria berzinah dengan Daud hingga mengandung (2 Sam. 11:1-5). Bersekongkol dengan Daud, akhirnya Uria dibunuh untuk menutupi perzinahan itu. Pencitraan apa pun yang berusaha mereka kerjakan, di mata Tuhan, Batsyeba tetaplah bukan istrinya Daud. Berdasarkan hukum Taurat, Daud sudah jelas adalah seorang pencuri dan perampas istri dari sesamanya manusia yang pantas dihukum mati (Ima. 20:10).
Ada beberapa teolog yang menyatakan Batsyeba diperkosa Daud. Namun, dari pengamatan teks, saya menganggap tidak ada tanda-tanda sama sekali yang menunjukkan adanya upaya perlawanan dari Batsyeba sehingga lebih tepat jika dikatakan perzinahan itu terjadi atas dasar suka sama suka. Karena itu, Batsyeba sama jahatnya dengan Daud. Dia bukanlah seorang korban, melainkan seorang pelaku. Pelakor bertemu dengan pebinor, jadilah itu barang.
Walaupun Batsyeba kemudian secara resmi dinikahi Daud setelah semua peristiwa itu, di bawah pengilhaman Roh Kudus, Matius tetap menyatakan Batsyeba sebagai istrinya Uria. Setelah dinikahi Daud, ia memang melahirkan empat anak bagi Daud, yaitu Simea, Sobab, Natan, dan Salomo (1 Taw. 3:5). Jika Matius mengurutkan silsilah-Nya Yesus dari Salomo, maka Lukas melakukannya dari Natan. Keduanya sama-sama adalah anaknya Daud dari Batsyeba, istrinya Uria; bukan istrinya Daud.
Mengingat Kekristenan sebagai kelompok yang sangat minoritas di antara orang Yahudi pada saat itu (bahkan hingga sampai hari ini), cara Matius menggambarkan Batsyeba dan Daud adalah hal yang sangat tidak masuk akal jika seseorang ingin tulisannya laku untuk diterima. Daud adalah raja yang begitu agung bagi orang Yahudi. Namun, hal itu tidak membuat Matius memoles kebenaran. Ia tetap menampilkannya sesuai fakta dan kenyataan.
Di mata-Nya Tuhan, meskipun ratusan tahun sudah berlalu dan dosa-dosa mereka sudah diampuni, pezinah tetaplah pezinah; pelakor tetaplah pelakor; pebinor tetaplah pebinor.
Keberanian dan keterusterangan Matius menuliskan hal ini menunjukkan para penulis Perjanjian Baru (PB) memang bukan orang-orang yang suka mencari perkenanan manusia (Gal. 1:10). Kalau ya, mereka nyatakan ya. Kalau tidak, mereka nyatakan tidak. Lebih dari itu, pasti berasal dari si jahat (Mat. 5:37).
Mari kita mengikuti teladannya para rasul. Apa yang hitam, kita nyatakan hitam. Apa yang putih, kita nyatakan putih. Demi kebenaran, tambah seribu musuh dalam hidup kita sebenarnya sangatlah sedikit. Terhadap mereka yang memusuhi Anda karena sudah berani menyatakan kebenaran seperti Matius, cukuplah bertanya padanya: ”Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?” (Gal. 4:16).