23 Februari 2023
Artikel oleh Scott Hubbard
Editor, desiringGod.org
Dalam misinya Gereja melawan alam maut, salah satu dari senjata utama kita adalah melalui tindakan pengajaran; yang familiar bagi kita; seringkali tampak biasa-biasa saja; dan menjadi sesuatu yang mudah dianggap kurang penting.
Yesus mengajar (Mat. 4:23; 9:35) dan memanggil para murid-Nya untuk mengajar (Mat 28:19-20). Para rasul mengajar (Kis 5:28; 28:31) dan mereka memperlengkapi para gembala setempat untuk mengajar (1 Tim. 3:2; 4:13). Para gembala mengajar (2 Tim. 4:2) dan mereka meneguhkan orang-orang beriman (2 Tim. 2:2). Begitu juga setiap orang kudus (Kol. 3:16) yang melanjutkan tugas pengajaran. Melalui pengajaran, Allah menerangi kegelapan dan meninggikan Kristus. Dia melepaskan para tawanannya Iblis dan menjadikan mereka sebagai anak-anak-Nya. Dia menghancurkan pintu alam maut dan memenangkan kembali dunia ini.
Namun, semuanya itu tidak melalui sembarang pengajaran. Secara menyeluruh, pengajaran Kristen adalah tugas yang lebih besar-dan-luas ketimbang yang dipikirkan banyak orang, terutama dalam zaman konten online yang melimpah. Di sepanjang Perjanjian Baru (PB), pengajaran Yesus dan para rasul, dan kemudian Gereja, mengambil konteks tertentu, mengalir dari karakter tertentu, hadir dengan konten tertentu, dan mengarah pada penyelesaian tertentu.
Mungkin, di mana pun kita tidak akan melihat ciri-ciri yang lebih jelas selain dalam pidato perpisahan Paulus pada para penatua di Efesus (Kis. 20:18-35). Bagaimana Paulus mengajar jemaat Efesus untuk ”membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah”? (Kis 26:18). Bagaimana pada zaman ini para pendeta, misionaris, dan pengajar lain meneladani Paulus?
Konteks: Seluruh Kehidupan
Kata pengajaran, untuk kita, kemungkinan memunculkan gambaran yang akademis: ruangan kelas dan meja; mengajar dan mencatat. Paulus jelas memiliki kategori untuk pengajaran formal di muka umum seperti halnya ketika dia mengajar di sinagoge di Efesus atau bertanya jawab di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:8-10). Namun, bagi sang rasul, pengajaran juga terkait ke dalam seluruh kehidupan.
Paulus ”tinggal bersama” orang-orang Efesus selama tiga tahun; ”murid-muridnya” adalah mereka ”yang telah kukunjungi” (Kis. 20:18, 25). Paulus sangat mengenal orang-orang Efesus dan mereka juga mengenal Paulus. Dia mengajar tidak hanya di muka umum, tetapi ”dari perkumpulan-perkumpulan di rumah” (Kis. 20:20). Mereka tidak hanya melihat perkataannya, tetapi juga cucuran air matanya (Kis. 20:31). Dalam pengajarannya, Paulus membungkus prinsip yang abstrak dengan contoh hidupnya. Dia tidak hanya memberitahu pada mereka perkataan Tuhan Yesus bahwa ”adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima”, tetapi dia menunjukkan hal itu pada mereka (Kis. 20:35).
Andrew Clarke, dalam ulasan studi dari Claire Smith, Pauline Communities as ‘Scholastic Communities’, mendeskripsikan metode pengajaran Paulus seperti berikut: ”Kedekatan, hubungan yang berwibawa mengundang untuk mencontoh model kehidupannya, dan tidak hanya dalam pelayanan khotbah formal saja.” Paulus mengerti bahwa pemuridan bukan seperti halnya belajar fisika, melainkan lebih seperti belajar pertukangan kayu. Para murid tidak seperti murid-murid sekolah, tetapi lebih seperti anak magang. Karena itu, Paulus berbicara pada seluruh kehidupan gereja dengan seluruh kehidupannya; menggabungkan doktrin dan ketaatan; mengombinasikan aturan dan teladan.
Maka, bisa dipahami bahwa Paulus tidak puas dengan pengajaran jarak jauh dan tanpa adanya kehadiran fisik – setidaknya bukan sebagai cara pengajaran utamanya. Bahkan ketika Paulus menulis surat, dia mendambakan dapat mengubah pena-dan-tinta menjadi daging-dan-darah (Gal. 4:20; 1 Es. 2:17-17; 2 Tim. 1:4). Dia seringkali mengirimkan surat pengajarannya dengan orang-orang yang dapat menjadi contoh ”hidup yang kuturuti dalam Kristus Yesus” (1 Kor. 4:17).
Hari ini, kita berhak memanfaatkan teknologi digital untuk mengajar (seperti yang saya lakukan sekarang). Namun, ketika kita beralih dari internet menuju fakta kehidupan gereja kita (idealnya adalah mengenai konteks utama pengajaran kita), dapatkah kita berkata seperti Paulus, ”Kamu tahu bagaimana aku hidup diantara kamu” (Kis. 20:18) – karena kita memang telah menyelaraskan pengajaran kita dengan kehidupan sehari-hari?
Karakter: Keutuhan Kristus
Dengan konteks seluruh-kehidupan ini, pengajaran Paulus memerlukan karakter yang khusus. Jika pengajaran termasuk meneladani dan bukan hanya mengenai informasi, seorang pengajar memerlukan lebih dari sekadar gagasan yang benar. Dia perlu menjalani hidup-yang-kudus. Jadi, ketika Paulus mengingatkan para penatua di Efesus tentang pelayanannya di antara mereka, dia banyak menjelaskan tentang sikapnya sebanyak pesannya.
Paulus melayani dengan kerendahan hati; mengajar dengan cucuran air mata; dan menderita dengan kesabaran (Kis. 20:19). Dia memberitakan Kristus yang layak dihormati dan menunjukkan kesediaannya untuk mati demi nama-Nya (Kis. 20:24). Dia mengajar seluruh maksud Allah dengan berani (Kis. 20:27). Dia menunjukkan kalau dirinya tidak serakah-dan-malas ketika pada saat bersamaan sedang meninggikan Sang Hamba-Juru Selamat (Kis. 20:33-35). Ketika dia mengajar dengan menjadi teladan dalam seluruh bagian kehidupannya, dia memberi contoh (sebanyak mungkin yang dapat dilakukan oleh orang kudus yang tidak sempurna) mengenai keutuhan Kristus.
Perkataan-dan-perbuatan tidak dapat dipisahkan dari pemikirannya si rasul. Pengajaran yang sungguh-sungguh setia menuntut hidup yang sungguh-sungguh setia – bukan hanya karena hidup yang setia akan menggambarkan-dan-mewujudkan pengajarannya, melainkan juga karena akan menjaga kebenaran di dalam hati sang pengajar. ”Jagalah dirimu,” Paulus berpesan pada para penatua gereja. Mengapa? Karena ”dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka” (Kis 20:28, 30). Sebelum seorang pengajar memberitakan ”ajaran palsu”, keinginan supaya orang-orang mengikutinya telah menguasai hatinya. Ajaran palsu berasal dari jiwa yang palsu; hidup yang palsu.
Bapa Gereja Gregory Nazianzen pernah berkata pada Basil, temannya, bahwa ”perkataannya seperti guntur karena hidupnya seperti kilat petir” (Pia Desideria, 104). Demikian juga halnya dengan Paulus. Jadi, ketika si rasul memerintahkan Timotius untuk menyiapkan lebih banyak pengajar, Paulus berkata untuk tidak hanya melihat pada orang-orang yang cakap – orang yang dapat dan ingin untuk mengajar – tetapi melihat pada orang yang beriman (2 Tim. 2:2); orang yang perkataannya bergemuruh karena hidupnya berkobar.
Isi: Seluruh Kitab Suci
Jika konteks pengajaran Paulus adalah mengenai seluruh kehidupan, dan karakternya adalah keutuhan Kristus, maka isinya adalah seluruh Kitab Suci yang terfokus khusus pada pribadi Yesus dan pekerjaan-Nya. Paulus mengajarkan keutuhan Kristus dari seluruh perintah Allah.
Dua kali, Paulus menyebutkan penolakannya untuk memilih-milih Firman Tuhan:
- ”Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajakan kepada kamu….” (Kis. 20:20)
- ”Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu” (Kis. 20:27).
Betapa menggodanya untuk ”menciut” di hadapan beberapa ayat firman yang tidak menyenangkan dari Allah alih-alih seperti Paulus yang justru ”memberitakan” hal itu. Betapa menggodanya untuk meremehkan, mengelak, meredupkan, mengabaikan, atau memelintir teks ayat yang paling keras. Namun, Paulus tahu bahwa semua firman Allah ”berguna”; tidak peduli betapa menyakitkannya firman itu pada awalnya. Dia juga tahu kalau ia sebagai pelayan Allah akan dinilai dari seberapa setia dia mengajarkan pesan dari Tuannya (Kis. 20:26–27). Jadi, dia tidak takut untuk memberitakan setiap janji; menceritakan setiap kisah; bersaksi untuk setiap teguran; dan menyatakan setiap perintah.
Pada saat bersamaan, secara khusus dia berbicara tentang ”supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:21) atau apa yang disebutnya ”firman kasih karunia-Nya” (Kis. 20:32). Dari semua yang berguna, Injil adalah yang paling berguna. Di antara semua nasihat Allah, Kristus menjadi puncaknya. Setiap janji mengarah pada pribadi dan pekerjaan-Nya. Setiap perintah mengalir dari salib-Nya.
Penyelesaian: Semua yang Diperintahkan-Nya
Akhirnya, seperti yang diajarkan Paulus, dia mengarah pada ambisi besar dari Amanat Agung: ”…ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Akhir dari pengajaran Kristen bukanlah pemahaman, melainkan ketaatan – yang juga disebut Paulus dengan ketaatan iman (Rom. 1:5).
Paulus rindu untuk melihat firman dari anugerah Allah ”membangun” orang percaya dalam pemuridan yang mengasihi Kristus; menaati firman; dan membenci Iblis (Kis. 20:32). Jadi, dia tidak hanya menjelaskan dan mempraktekkan firman Allah, tetapi bahkan ”menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata” (Kis. 20:31). Oh, betapa indahnya bila pengajaran kita dibasuh dalam air mata dari kasih yang kudus. Bersama dengan Paulus, para pemimpin seperti itu hidup, bercucuran air mata, dan mengajar untuk mematikan amarah dan melahirkan kelemahlembutan; menutupi mereka yang angkuh dengan kerendahan hati; menutupu mereka yang berduka dengan pujian; membawa keluar orang yang tertutup dan membukakan dunia baru yang luas pada mereka; memulihkan hubungan yang retak; dan menciptakan komunitas yang begitu menyenangkan di dalam Kristus sehingga mereka mengacaukan kerajaan Iblis.
Tentu saja, misi ini mustahil dilakukan tanpa Allah. Siapa yang dapat mencelikkan mata orang buta; atau mematahkan rantai besi yang membelenggu kehendak seseorang; atau membebaskan mereka yang diperbudak oleh kebohongan sejak dahulu kala? Hanya Roh dari Allah yang hidup yang sanggup. Paulus mengetahui hal itu sehingga ”sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua” (Kis. 20:36).
Pengajaran mungkin merupakan pedang bagi Gereja, namun pedang ini hanya dapat memotong ketika diayunkan oleh Roh Kudus. Tanpa Dia, perkataan terbaik kita adalah pedang yang tumpul-dan-rusak. Jadi, sebelum kita mengajar (dan setelah kita mengajar dan mungkin bahkan ketika kita mengajar), kita berdoa: ”Bapa, terimalah perkataan yang lemah ini, pengajaran yang kecil ini, menangkan kembali dunia-Mu dan lebih banyak lagi.”
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Four Marks of Faithful Teaching."