Rom. 8:35-39 (AYT)
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Apakah penindasan, atau kesulitan, atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Seperti ada tertulis, ‘Demi Engkau, kami berada dalam bahaya maut sepanjang waktu; kami dianggap sebagai domba-domba sembelihan.’ Akan tetapi, dalam semuanya ini, kita lebih daripada para pemenang oleh Dia yang mengasihi kita.
Sebab, aku diyakinkan bahwa bukan kematian maupun kehidupan, bukan juga malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, bukan juga hal-hal yang sekarang maupun yang akan datang, kekuasaan, bukan pula yang ada di atas maupun yang ada di bawah, ataupun suatu ciptaan lainnya, mampu memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Bayangkan Saudara membaca bagian ini sebagai jemaat Tuhan Yesus di Korea Utara ataupun Afganistan. Tidakkah hati Saudara akan menjadi berkobar-kobar?
Paulus, orang yang menulis ini, sudah mengalami semua derita dan aniaya yang diutarakannya di bagian ini. Ini bukan tulisan seorang pujangga. Ini merupakan kesaksian dari seseorang yang sudah setia menjadi pengikut Tuhan Yesus. Inilah kesimpulannya.
Karena Allah yang memilih kita, bukan kita yang memilih-Nya, maka tidak mungkin salah pilih. Karena Allah yang memegang tangan kita, bukan kita yang memegang tangan-Nya, maka tidak mungkin kita bisa terlepas dari-Nya.
Oh, betapa pemahaman ini seharusnya membuat kita tidak bisa henti-hentinya untuk bersyukur dan memuliakan nama-Nya. Sungguh tak bisa dipahami mengapa Allah memilih kita untuk dikasihi sedemikian rupa. Sungguh tak paham.
Mzm. 27:1
TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?