Terlahir sebagai Budak – Bab Satu – Argumen 1

BAB 1

Apa yang Alkitab Ajarkan


Kitab Suci itu ibarat pasukan yang siap memberantas pemikiran kalau manusia memiliki ”kehendak-bebas” untuk bisa memilih-dan-menerima keselamatan. Rasanya cukup bagi saya untuk membawa dua orang jenderal saja ke dalam pertempuran ini – yaitu Paulus dan Yohanes, dengan diikuti sejumlah pasukannya.

 

Argumen 1:   

Bahwa seluruh manusia berdosa di hadapan Allah membuktikan kalau pemikiran mengenai ”kehendak-bebas” itu salah.

 

Di Surat Roma 1:18, Paulus mengajarkan kalau semua manusia tanpa terkecuali pantas untuk dihukum Allah. ”Sebab murka Allah nyata dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman”. Jika manusia memang memiliki ”kehendak-bebas”, tetapi tanpa terkecuali dimurkai Allah, maka ”kehendak-bebas” hanya bisa  menuntun manusia ke satu tujuan – kefasikan dan kelaliman. Lantas, di mana kuasa ”kehendak-bebas” dalam membantu manusia untuk melakukan yang baik? Jika ”kehendak-bebas” memang ada, maka ”kehendak-bebas” tidak bisa menuntun manusia pada keselamatan karena hanya menuntun mereka untuk dimurkai Allah.

 

Beberapa orang menuduh saya tidak memahami tulisan Paulus dengan baik. Mereka menyatakan kalau pernyataan Paulus bahwa ”atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman” tidak berarti kalau setiap orang tanpa terkecuali berdosa di hadapan Allah. Mereka berpendapat kalau pernyataan ini bisa dimaknai kalau ada beberapa orang yang tidak ”menindas kebenaran dengan kelaliman”. Namun, Paulus menggunakan kata Ibrani yang dengan jelas menyatakan kalau maksud pernyataannya itu mencakup semua manusia.

 

Lebih jauh, perhatikan apa yang ditulis Paulus sebelum bagian ini. Di ayat 16, Paulus menyatakan kalau Injil adalah ”kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”. Ini berarti terlepas dari kekuatan Allah dalam Injil, tidak seorang pun memiliki kekuatan untuk berpaling pada Allah. Paulus melanjutkan dengan menyatakan kalau hal ini berlaku pada orang Yahudi dan Yunani. Orang Yahudi mengenal Hukum Taurat dengan baik, namun tetap saja tidak menyelamatkan mereka dari murka Allah. Orang Yunani memiliki kekayaan kebudayaan, namun hal ini juga tidak membawa mereka mendekat pada Allah.  Baik orang Yahudi dan Yunani berusaha memperdamaikan diri mereka dengan Allah. Namun, terlepas dari semua kelebihan dan ”kehendak-bebas” mereka, mereka gagal total. Paulus tidak sungkan-sungkan untuk menyatakan kalau mereka semua dimurkai Allah.

 

Perhatikan ayat 17, Paulus menyatakan kalau ”nyata kebenaran Allah”. Allah memang menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia. Namun, Allah tidak bodoh. Jika manusia memang tidak membutuhkan bantuan-Nya, Ia tidak akan membuang waktu-Nya dengan berusaha membantu mereka. Setiap kali manusia bisa bertobat itu semata-mata karena Allah yang mencari mereka dan membuat mereka berbalik dengan menyatakan Injil kepada mereka. Tanpa ini semua, mereka tidak pernah mungkin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun dalam sejarah manusia yang memahami murka Allah seperti yang dinyatakan di Kitab Suci. Tidak ada seorang pun yang membayangkan dirinya diperdamaikan dengan Allah melalui hidup dan karya seorang Juruselamat yang unik, yang sungguh-sungguh adalah Allah dan sungguh-sungguh adalah manusia (the God-Man), Yesus Kristus. Bahkan, orang Yahudi menolak Kristus yang dinubuatkan oleh para nabi mereka. Kelihatannya, semua hal baik yang dimiliki orang Yahudi dan non-Yahudi malahan membuat mereka berhenti mencari Allah dengan cara-Nya karena mereka ingin melakukannya dengan cara mereka sendiri. Jadi, semakin giat ”kehendak-bebas” berusaha, semakin buruk hasilnya.

Tidak ada kelompok ketiga di antara kelompok yang percaya dan tidak percaya – yaitu kelompok yang sanggup menyelamatkan diri mereka dengan usaha sendiri. Orang Yahudi dan non-Yahudi sudah berusaha dan mereka tetap berada di bawah murka Allah. Tidak ada seorang pun yang sanggup berbalik kepada Allah dengan usahanya sendiri. Allah harus menyatakan diri-Nya terlebih dahulu kepada mereka. Jika ”kehendak-bebas” memang sanggup menemukan kebenaran, sudah pasti ada satu orang Yahudi yang akan melakukannya! Mereka yang paling berakal budi dari bangsa non-Yahudi dan mereka yang paling saleh melakukan hukum Taurat dari bangsa Yahudi (Rom. 1:21; 2:23, 28, dan 29) tidak bisa beriman percaya pada Kristus. Mereka dimurkai Allah seperti halnya para pendosa lainnya. Jika semua manusia memiliki ”kehendak-bebas”, tetapi semua manusia tetap bersalah dan dimurkai Allah, maka ”kehendak-bebas” ini tidak memiliki kekuatan untuk membawa mereka beriman percaya pada Kristus. Jadi, kehendak mereka pada akhirnya tidak bebas.

 


 

TERLAHIR SEBAGAI BUDAK

Sebuah versi sederhana dan ringkas dari buku klasik “Belenggu Kehendak” yang ditulis oleh Martin Luther, diterbitkan pertama kali pada tahun 1525.

Versi Inggris
Dikerjakan oleh:
Clifford Pond
Diedit oleh:
J.P. Arthur M.A
H.J. Appleby
Versi Indonesia
Diterjemahkan oleh:
Yonghan
Diedit oleh:
Suriawan Surna

You may also like...

Tinggalkan Balasan