
27 Agustus 2021
Artikel oleh Dane Ortlund
Pandemi masih berlanjut. Kehadiran jemaat secara fisik di banyak gereja masih sedikit – atau setidaknya lebih sedikit dari sebelumnya. Karena berbagai alasan, beberapa orang perlu tetap tinggal di rumah. Namun, jemaat yang beresiko rendah atau sudah divaksin penuh tampaknya lebih menyukai ibadah on-line jauh lebih lama dari yang kita perkirakan.
Di tengah berbagai keadaan dan ketidakpastian, kita perlu memimpin jemaat dengan baik. Sebagian dari hal itu berarti kita perlu mengingatkan jemaat tentang apa yang hilang ketika kita tidak berkumpul secara fisik dalam ibadah. Di bawah ini, saya sudah menuliskan 15 refleksi tentang semua yang hilang ketika kita memilih untuk beribadah dari sofa; bukan dari bangku gereja.
- Seperti yang Bonhoeffer katakan dalam Life Together, ”Kehadiran orang-percaya yang lain secara fisik adalah sumber sukacita dan kekuatan yang tidak ada bandingannya bagi orang-percaya.” Kehadiran orang Kristen yang lain memberikan efek yang menguatkan jiwa kita; setidaknya di bawah alam sadar dari apa yang bisa kita kenali secara sadar. Itu salah satu alasan mengapa Alkitab mendorong kita untuk bertemu satu sama lainnya. Kita adalah tubuh Kristus yang sesungguhnya yang secara organik terhubung satu sama lain; hidup-dan-kuasa-Nya Kristus sendiri yang mengalir ke dalam kita melalui satu sama lain.
- Sebuah pertemuan ibadah on-line adalah partisipasi satu-arah, bukan dua-arah. Anda menerima, tetapi Anda tidak bisa memberi. Anda melihat mereka yang memimpin pujian, berkhotbah, berdoa – tetapi mereka tidak bisa melihat Anda. Mereka tidak melihat matanya Anda; tubuhnya Anda; dukungannya Anda. Paling-paling, Anda hanyalah sebuah angka yang muncul dalam sebuah siaran langsung.
- Kita memakai layar alat elektroniknya kita untuk bekerja dan menikmati hiburan. Namun, ibadah bersama bukanlah mengenai kedua hal tersebut. Menonton ibadah di layar kita secara perlahan-lahan akan melemahkan keistimewaan dari ibadah on-site karena cara ini cenderung meleburkannya menjadi realita sehari-hari yang biasa seperti halnya ketika kita bekerja dan menikmati hiburan.
- Menghadiri ibadah memerlukan lebih banyak usaha. Anda harus melepaskan piyama dan memakai celana jins. Anda harus masuk ke dalam mobil. Jika Anda memiliki anak, maka Anda harus menjalankan semua proses untuk menyiapkan mereka agar mereka berpenampilan baik dan masuk ke dalam mobil. Di atas sini di bagian utara, Anda masih harus menghadapi salju, es dan udara dingin. Mantap. Kita mengajar anak kita, dan kita melatih jiwa kita, untuk menghargai ibadah on-site. Usaha untuk datang beribadah melatih kita untuk berjalan menuju ke arah yang sehat; menguatkan nilai yang tak tergantikan dari berkumpul dengan sesama orang Kristen lainnya.
- Bukan hanya dalam kebaktian itu sendiri, melainkan juga ada momen ketika kita bertemu di lorong; saling berbincang; adanya lambaian tangan di tempat ibadah; senyuman di tempat parkir; sapaan ketika Anda sedang mencuci tangan di kamar mandi. Semua itu hilang dalam ibadah on-line dari rumah. Alih-alih masuk ke dalam mobil jam 9.10 untuk kebaktian jam 9.30, tiba jam 9.25, dan memiliki beberapa menit persekutuan – juga persekutuan dan sapaan yang tidak terburu-buru sesudah ibadah – Anda membuka laptop Anda pada jam 9:29 dan menutupnya satu detik sesudah doa berkat. Periode ibadah on-line yang berkepanjangan akan melemahkan hubungan kita.
- Ada hal lain yang sulit diungkapkan meskipun itu berhubungan dengan poin di atas. Secara mental dan psikologis, ada sebuah ”peningkatan” ketika Anda sedang menyetir ke gereja; berjalan di taman; berjalan ke gedung gereja; duduk di kursi atau bangku gereja. Ada sebuah refleksi ”penurunan” ketika Anda sedang meninggalkan tempat ibadah; menyetir pulang; dan melakukan refleksi atas apa yang baru terjadi. Semuanya itu hilang ketika peningkatan-dan-penurunan ini digantikan dengan membuka-dan-menutup laptop. Ibadah on-site harus dipersiapkan dan kemudian dinikmati. Menghadirinya secara fisik menolong untuk memfasilitasi hal tersebut dengan cara yang hampir pasti dilemahkan jika seseorang beribadah dari sofanya.
- Doa. Dengan siapa kita berdoa jika kita tinggal di rumah? Mungkin dengan pasangan kita. Namun, kita perlu orang Kristen yang lain untuk berdoa Bersama-sama. Kita perlu orang Kristen yang lain untuk didoakan. Kita ingin terus belajar bagaimana menjalani hidup seperti Allah seolah-olah memang benar-benar ada di sini karena memang Dia ada. Pertumbuhan yang seperti itu terhenti dalam isolasi yang berlarut-larut.
- Dorongan. Kita sering meremehkan kekuatan spiritual dari memberi semangat, baik bagi si pemberi semangat maupun yang diberi semangat. Salah satu alasan mengapa kita berkumpul adalah untuk memberi semangat, yaitu untuk saling memberi semangat. Saya menyapa seorang teman. Dia bertanya bagaimana minggunya saya. Saya menyebutkan tantangan yang sedang saya hadapi. Dia kemudian berkata, ”Bertahanlah, Allah bersamamu.” Percakapan selama 30 detik, datang dan pergi begitu saja- dan jiwa saya baru saja dikuatkan.
- Akan lebih sulit bagi pengkhotbah jika Anda berada di rumah. Dia tidak dapat melihat Anda. Dia tahu sebagian dari Anda berada di luar sana. Dia mencoba untuk mengenali Anda dari mimbar sambil melirik ke kamera siaran langsung dari waktu ke waktu. Namun, dia tidak tahu apakah Anda sedang mengangguk atau tertidur. Dia tidak mendapat umpan balik dari Anda. Anda bisa saja melompat-lompat kegirangan dan dia tidak tahu. Khotbah yang sehat bersifat dua arah – pengkhotbah mendapat umpan balik dari matanya Anda; anggukannya Anda; perhatiannya Anda ketika ia berkhotbah. Dia perlu melihat Anda.
- Memahami khotbah akan lebih sulit bagi Anda jika Anda berada di rumah. Duduk di sofa sambil melihat pengkhotbah hanya pada bagian kepalanya saja melalui layar alat elektroniknya Anda tidaklah sama menyenangkannya ketika seseorang duduk sejauh 6 meter dari si pengkhotbah; dalam sebuah ruangan dengan akustik yang lebih baik; dikelilingi oleh lusinan orang Kristen yang lain yang juga sedang mendengarkan khotbah tersebut bersama-sama dengan Anda. Perhatian terhadap pengkhotbah dua-dimensi tentu saja berkurang dibandingkan dengan pengkhotbah tiga-dimensi.
- Dalam ibadah on-site di gerejanya Anda, tidak semuanya sudah diatur. Anda akan menyapa seseorang yang tidak Anda duga-duga. Seorang jemaat-tamu mungkin duduk di dekatnya Anda dan Anda akan berkesempatan untuk menyambut mereka. Anda bahkan mungkin berperan dalam memimpin seseorang kepada Kristus. Dari sofanya Anda, semuanya itu tidak akan terjadi. Semuanya sudah diatur. Hampir tidak mungkin terjadi interaksi yang tidak disengaja.
- Ketika Anda berada di tempat ibadah, Anda tidak bisa memencet tombol mute. Anda tidak bisa memencet tombol pause untuk mengambil segelas kopi. Anda tidak bisa membesarkan atau mengecilkan volume. Anda tidak terlalu tergoda untuk mengeluarkan ponselnya Anda untuk melihat siapa saja yang barusan mengirim pesan. Ketika Anda sedang berada di dalam gereja, maka Anda tertangkap oleh sekeliling Anda dengan indahnya. Anda terperangkap dengan orang Kristen lainnya; di hadapan-Nya Allah. Itu hal yang bagus.
- Menyanyi. Mungkin Anda dapat mendengar jemaat bernyanyi melalui speaker-nya Anda di rumah, tetapi kita semua tahu bahwa hal itu tidak sama dengan mendengar suara yang sebenarnya di sekelilingnya Anda. Hal yang sama berlaku untuk aktivitas membaca Kitab Suci secara bersama-sama; atau melakukan pengakuan dosa secara serempak meskipun sambil memakai masker. Ada hal yang tidak alami yang perlu dibangun ketika berbagai hal ini dilakukan hanya dengan Anda dan keluarganya Anda di ruang keluarga. Sesama anggota keluarganya Anda perlu mendengar Anda bernyanyi. Anda menguatkan mereka ketika mereka mendengar suaranya Anda. Tidak masalah jika Anda tidak bisa bernyanyi. Entah mereka menyadarinya atau tidak, maka Anda meneguhkan teologi mereka dengan suaranya Anda.
- Sakramen. Kita kehilangan kesempatan untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus jika kita berada di rumah. Padahal, kita percaya bahwa ini adalah sebuah sumber yang penting bagi penguatan rohani – bukan sekadar sebuah tindakan peringatan.
- Waktu. Semakin lama waktu berlalu, dan semakin nyaman kita melakukan ibadah on-line dari rumah, maka kita menjadi semakin ”tidak bugar”. Kita tidak melatih otot-otot ibadah on site-nya kita. Semakin lama kita menunggu, maka semakin normal rasanya bagi kita untuk melakukan ibadah on-line dari rumah. Untuk berbagai alasan di atas, hal itu kuranglah ideal.
Hal ini memang tidak mudah bagi kita semua. Mari kita bersabar satu dengan yang lainnya. Mari kita saling mengasihi; memahami; dan menunjukkan kasih-karunia. Namun, dengan melakukan prokes yang diperlukan, marilah kita dengan berani mendorong satu sama lain untuk datang berkumpul dalam ibadah on-site bersama-sama.
Virus ini ganas. Saya mengerti. Mari melindungi tubuh kita, tetapi janganlah sampai mengorbankan jiwa kita.
Artikel ini diterjemahkan dari “15 Reasons Your Soul Needs Gathered Worship, Not Just a Livestream.”
Puji Tuhan, kami telah 100% kembali beribadah on-site sekeluarga. Indahnya bertemu saudara-saudari seiman dalam Tuhan
Puji nama TUHAN!