Sukacitanya Dunia

Sebuah Tragedi

30 Agustus 2014
Artikel oleh Tony Reinke
Penulis Senior, desiringGod.org


Dalam buku klasiknya, Mere Christianity, C.S. Lewis memberikan wawasan yang mendalam tentang mesin psikologis yang menarik dalam panggung drama sejarah. ”Semua yang kita sebut sebagai sejarah manusia — uang, kemiskinan, ambisi, perang, pelacuran, golongan, kerajaan, perbudakan — adalah kisah panjang yang mengerikan tentang manusia yang mencoba menemukan sesuatu selain Allah yang akan membuatnya bahagia.”

Ya. Atau untuk menyatakan ini secara lebih jelas: motivasi yang menggerakkan segala sesuatu dalam alur sejarah adalah hasrat-ingin-bahagia. Renungkanlah mengenai ini. Mulai dari perbudakan, pelacuran, rasisme, terorisme, pemerasan, aborsi, hingga penyulut perang dunia — semuanya didorong oleh hasrat-ingin-bahagia selain dari Allah.

Pada bagian ini, Lewis menusuk bor gigi ke saraf ateisme yang tidak diobati. Masalah seriusnya ateisme bukanlah ateisme intelektual yang menyangkal mengenai keberadaan Allah. Masalah mereka yang sebenarnya adalah ateisme afektif, yaitu ateisme yang merasa Allah sebagai penghalang jalan bagi sukacita pribadi. Ateisme yang praktis ini merupakan akar masalah kemanusiaan yang paling mendasar. Hal ini mengganggu hatinya para ateis, agnostik, dan bahkan para deis.

Ateis Sampai ke Akarnya

Kanker dalam hatinya manusia seperti itu hanya akan membawa konsekuensi sosial yang sangat besar. Dengan berpaling dari Allah, pengejaran kita akan sukacita-yang-tak-bertuhan harus mengorbankan orang lain (Maz. 14:1-4). Masalahnya bukanlah tentang adanya ateis di dunia.  Masalahnya adalah kita semua secara universal mengidentifikasikan diri dengan ateisme ini sebagai inti dari motivasi kita. Kita masing-masing dilahirkan dengan hasrat-ingin-bahagia yang membelit kita. Hasrat itu kemudian sampai harus mengorbankan orang lain.

Jadi, apa yang terjadi ketika kita mencari sukacita dan harus memanfaatkan seseorang untuk mendapatkannya? Anda harus menindas. Anda harus menginjak jari kakinya orang lain. Anda harus melukai dan menyinggung perasaan. Anda saling bertatap muka-dengan-muka dan mata-dengan-mata dengan ateis lainnya yang mencari kebahagiaan pribadinya melalui pengorbanan Anda.

Anda terbiasa. Sisi paradoksnya, keinginan ini justru menarik kita satu sama lain; membuat dampaknya lebih kuat, seperti halnya tabrakan langsung yang tak terhindarkan antar kereta barang.

Pria lajang yang mengilahkan seks termotivasi untuk berkencan karena itu. Wanita lajang yang mengilahkan perhatiannya-para-pria untuk merasa berharga juga termotivasi untuk berkencan. Saat mereka bertemu, mereka akan memanfaatkan satu sama lain untuk tujuan egois mereka masing-masing. Motivasi itu akan membuat si pria memberikan sanjungan dan membuat si wanita menyerahkan tubuhnya. Namun, pada saat inilah kedua hal ini tampaknya menjadi harga yang murah dalam memberi makan berhalanya mereka masing-masing. Sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja.

Namun, urusan memberi-makan-berhala ini tidak bisa berlangsung terus menerus. Akhirnya, mata si pria itu tertuju pada tubuh wanita lain. Ia tidak lagi tertarik pada wanita yang duduk di hadapannya pada saat ini. Sanjungan pada akhirnya akan terungkap sebagai tipuan. Tubuhnya si wanita terbukti hanya menjadi objek nafsunya si pria. Jika Anda melihat lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan, dalam hubungan ini, Anda akan menemukan dua orang berdosa yang terisolasi; ateis yang afeksinya terputus dari Allah; yang memanfaatkan satu sama lain untuk mengisi celah tersebut. Itu akan berakhir dengan perang.

Klub Pertarungan

Memanfaatkan satu sama lain untuk kebahagiaan pribadi, betapapun halusnya kelihatannya, pada akhirnya mengarah pada konflik pribadi yang kejam dalam semua aspek kehidupan kita. Surat Yakobus 4:1–12 membantu kita memahami mengapa hal ini terjadi dengan menanyakan kepada kita secara langsung. Apakah yang menyebabkan pertarungan dan pertengkaran dalam hidup kita? Apakah yang menyulut api amarah, kepahitan, dan murka yang Anda rasakan dalam hati Anda?

Jawabannya tidak rumit. Kita berperang satu sama lain karena nafsu kita menggaruk-garuk dan berseru-seru menuntut sukacita-yang-tanpa-Allah ini. Kita menginginkan kesenangan yang menurut kita akan memberi kebahagiaan, tetapi kita tidak dapat memiliki keinginan itu. Jadi, kita membunuh. Kita mengidam-idamkan dan mendewakan kesenangan yang menurut kita akan memuaskan jiwa — seks, kekuasaan, kekayaan, ketenaran, apa saja — tetapi kita tidak mendapatkannya. Semuanya itu tetap sukar untuk digenggam. Karena itu, kita saling membunuh. Kita memanfaatkan. Kita dimanfaatkan. Kita menjadi pengen. Kita bermusuhan satu sama lain. Kita menjadi musuh Allah. Kita menolak persediaan berlimpah yang ditawarkan Allah kepada kita untuk kepuasan pribadi. Selamat datang di klub pertarungan.

Salah satu Puritan, Richard Sibbes, menjelaskan alasan sederhana mengapa semua ini benar adanya: ”Sebelum hati diubah, penilaian mengenai apa yang menjadi tujuan akhirnya kita sudah rusak. Kita mencari kebahagiaan kita di tempat yang tidak bisa ditemukan.” Dalam hidup kita, inilah akar masalah yang tragis di balik berbagai konflik. Kita buta terhadap apa yang akan membawa kepuasan yang dirindukan hati kita. Kita tidak bisa melihat keindahan-Nya Allah atau menikmati kesenangan-Nya Allah. Jadi, kita berusaha menggantinya dengan kesenangan daging. Hati kita begitu jahat, bahkan mati. Pada akhirnya, kita mengejar ujung yang salah dari ujung yang salah.

Namun, kita semua mengejar sesuatu. Itu poinnya Lewis.

Jadi, apa yang dimaksud dengan ”tujuan akhir”? Apa ”tujuan akhir”-nya saya? Puritan lain, Richard Baxter, menjelaskan. Tujuan akhirnya kita adalah kesenangan kita; harta kita; kebaikan utama kita; mengenai apa yang digunakan untuk mendapatkan segala sesuatu dalam hidup kita.

”Tujuan akhir”-nya kita adalah mengenai apa pun yang dianggap sebagai hal terbaik di dunia ini; apa pun yang pada prinsipnya dicari dalam hidup; apa pun yang akan membuat kita merasa paling berbahagia; apa pun yang akan membuat kita sangat bersedih ketika sampai terlewatkan. Bisa jadi itu adalah seks, perhatian, kekuasaan, ketenaran, atau kekayaan — masing-masing dari tujuan akhir ini memperlihatkan ateisme-yang-praktis dalam hati kita. Oleh karena itu, Baxter menjelaskan, ”Bagian utama dari kebobrokan manusia dalam keadaan alaminya yang rusak terdiri dari kebaikan utama yang salah, harta yang salah, dan jaminan yang salah.”

Tidak ada pertanyaan diagnostik yang begitu mengena: Apa hal yang membuat saya tidak bisa hidup tanpanya? Pada dasarnya, dosa bukanlah melakukan hal yang salah, melainkan menyembah hal yang salah. Dosa memikat hati kita pada harta atau jaminan apa pun yang menggantikan harta dan jaminan yang hanya dapat ditemukan dalam Allah.

Berhala-Berhala

Pada dasarnya, karena kita semua adalah ateis (buta terhadap kesenangan Allah yang melimpah), mata kita dengan mudah diarahkan dari satu berhala ke berhala lainnya dalam mengejar perzinaan rohani. John Calvin menjelaskan, ”Para pezina dengan pandangan mereka yang berkeluyuran, membangkitkan api nafsu, dan dengan demikian hati mereka berkobar-kobar” (Yeh. 6:9). Begitulah cara kerjanya hati. Dengan mengabaikan Allah yang tidak kelihatan, kita mengarahkan pandangan kita untuk mengejar apa pun yang bisa dilihat di dunia yang kelihatan ini. Apa yang kita lihat di sekitar kita, kita kejar. Apa yang kita kejar tersebut kemudian mengobarkan hawa nafsu di hati kita untuk mengejar apa yang bisa dilihat.

Ini menjelaskan mengapa berhala mengambil begitu banyak bentuk yang berbeda pada setiap abad atau budaya. Berhala terkadang berupa pohon yang diukir menjadi kadal; emas yang  dibentuk menjadi anak sapi; gading yang dibentuk menjadi perabot rumah tangga; atau sampul majalah yang dicetak dengan model airbrush. Seperti pemanjat tebing, mata kita melihat sekeliling untuk menemukan pegangan berikutnya yang berada dalam jangkauan kita. Setiap pegangan yang baru semakin mengobarkan hawa nafsu dalam hati kita dan mendorong kita menuju puncak kepuasan-tanpa-Allah yang ingin kita kejar. Namun, semuanya itu tidak akan pernah benar-benar ditemukan. Pendakian itu sia-sia karena pada akhirnya kita tidak akan pernah sampai. Tujuannya sudah salah sejak semula — itu adalah gunung yang salah. Sementara itu, melalui setiap langkah, kita hanya berjalan semakin tinggi hingga pada akhirnya kita terjatuh. 

Di sini kita menemukan siklus dosa yang tak berkesudahan. Pada akhirnya, ini adalah kematian dan kebutaan. Kita mencari kesenangan duniawi yang ternyata sia-sia. Ini hanya mengarah pada keputusasaan yang lebih mendalam terkait usaha kita mencari janji yang baru mengenai kepuasan seksual; memiliki lebih banyak uang; memiliki gadget yang terbaru.

Kebobrokan Total

Jiwa yang mati mencakar-cakar untuk mendapatkan kepuasan dalam kesenangan daging ini, di mana kesenangan abadi tidak dapat ditemukan, adalah apa yang dimaksudkan Calvinis sebagai ”kebobrokan total” (total depravity); yang menjadi huruf pertama dalam akronim TULIP. Definisi yang dipahami melalui Alkitab oleh Calvin sendiri dan banyak orang sebelumnya; sejak dari masa Puritan, Princetonian, dan hingga Calvinis pada zaman ini. Seperti yang dikatakan John Piper, ”Kebobrokan total bukan hanya kejahatan, tetapi kebutaan-terhadap-keindahan dan kematian-terhadap-sukacita.”

Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk menjadi Adolf Hitler. Bagi sebagian besar dari kita, kekuatan kita terlalu kecil untuk memberi makan kesenangan-kita-yang-egois yang dapat diperas dari suatu bangsa. Tingkat kebobrokannya kita diekspresikan secara berbeda-beda. Dalam banyak kasus, kebobrokan dalam perasaan ini lebih mengarah pada pikiran-dan-impian yang tidak teratur daripada perilaku yang sebenarnya. Skala kehancurannya berbeda, tetapi hati kita sama.

Menjadi buruk itu satu hal. Buta terhadap kebaikan adalah hal yang sama sekali berbeda. Kita semua mengalaminya. Ini merupakan inti dari kebobrokan total — itulah yang membuat kebobrokan begitu total secara menyeluruh — kita tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya kesenangan atau sukacita-yang-nyata dapat ditemukan dalam Allah!

Sekali lagi, kembali ke kaum Puritan yang memahami cara kerjanya kebobrokan. Mereka menyatakan bahwa kita memiliki keinginan hati yang ”rusak” — cara misterius untuk menyatakan bahwa perasaannya manusia itu sudah kacau balau. Kebobrokan memanjakan hati-yang-rusak. Itu seperti orang yang sedang haus meminum air asin. Hati-yang-rusak hanya menginginkan hal-hal yang tidak menghormati Allah dan yang pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri.

Kesedihan terbesarnya orang berdosa adalah ”ia tidak dapat memuaskan keinginan jahatnya atau perasaan kedagingannya.” Ketika dunia-yang-jahat ini tidak lagi bisa menawarkan kesenangan, berbagai hal yang tidak wajar sekalipun akan dikejar (Rom 1:18-32). Hawa nafsunya tidak akan pernah terpuaskan. Keinginannya yang berdosa tidak akan pernah terpuaskan.

Dengan demikian, realitas mengenai kebobrokan total mendaratkan kita di sini. Kita menyukai apa yang menghancurkan kita. Kita buta terhadap apa yang memuaskan kita. Kebobrokan total adalah kekacauan sepenuhnya dari perasaan jiwa. Itu adalah kebutaan sepenuhnya akan keindahan Allah. Itu adalah perlawanan sepenuhnya atas sukacita di dalam Allah. Itu adalah inti dari semua dosa.

Kesenangan Dosa

Tragedi sebenarnya adalah semuanya itu hanyalah mengenai pilihan. ”Pria lebih suka permen duniawi alih-alih persekutuan dengan Allah,” tulis William Bates tentang kebobrokan. Ini bukanlah hal yang sepele. Menjadi orang yang bobrok total bukanlah menjadi korbannya  kuasa dosa yang tidak bersalah. Itu bukan hanya sekadar mengenai melupakan Allah; sekadar sebuah masalah yang bisa diatasi dengan alarm iPhone atau hadir dalam Kebaktian Minggu. Kebobrokan adalah mengabaikan dan memberontak terhadap Allah secara sadar dan sengaja. Karena itu,  penghakiman Allah pasti terjadi. Menikmati kesenangan daging daripada kesenangan yang berasal dari Allah adalah ”dosa kesalahan yang mencengangkan, yang menjijikkan bagi Allah, dan mendatangkan hukuman”.

Meraih segenggam kesenangan daging ”adalah maut” (Rom. 8:6). Hanya ada satu obat untuk kebobrokan-tanpa-harapan ini. Daripada mengejar tuntunan alami kedagingan kita, kita harus mengejar janji sukacita kekal dalam persekutuan dengan Allah (Ibr. 11: 24–26).

Dosa adalah sukacita-yang-diracuni. Kekudusan adalah sukacita yang ditentukan-dan-dikejar. Jika saya ingin melarikan diri dari kesesatan, Allah harus menjadi harta terbesar saya.

Sekarang Apa?

”Calvinis selama berabad-abad tahu kalau untuk menemukan sukacita, seseorang harus mengalahkan hati saya dan menaklukkan perasaan saya.”

Di situlah alur cerita kita akan berhenti. Untuk saat ini, kita harus menyadari bahwa ateisme yang praktis ini adalah pasir hisap. Kita semua pasti ingin bahagia. Bagi orang berdosa, kita memilih dosa alih-alih Allah. Kebobrokan total adalah mengenai ketidakberdayaan yang putus asa ini.

Namun, ”Tuhan tidak berbicara tentang dosa Anda supaya Anda mengira diri Anda sebagai sampah,” tulis seorang Calvinis pada zaman modern. ”Tuhan membicarakannya hanya karena Anda tidak membicarakannya. Dia membicarakannya karena Dia membuat Anda menurut gambar-Nya sendiri, dengan rencana yang jauh lebih tinggi-dan-cerah untuk Anda daripada yang Anda pilih untuk diri Anda sendiri. ”

Ini adalah alur ceritanya. Allah mengungkapkan kebobrokan untuk menghancurkan orang-orang yang dipimpin-Nya supaya bisa berjalan menuju sukacita-yang-sejati. Namun, dalam terang tragedi kemanusiaan yang disebut kebobrokan total ini, rencana yang lebih cerah ini tampaknya agak mustahil terlepas dari semacam campur tangan ilahi yang tegas. Jika saya ingin hidup, maka sesuatu atau seseorang harus mengalahkan saya. Seseorang harus menaklukkan saya.

Calvinis selama berabad-abad tahu kalau untuk menemukan sukacita, seseorang harus mengalahkan hati saya dan menaklukkan perasaan saya. Seseorang harus mengalihkan pandangan saya dari berhala dan melimpahkan saya dengan keindahan yang lebih besar.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul The World’s Joy-Tragedy.

You may also like...

Tinggalkan Balasan