Sukacita yang Dirancang

 


20 September 2014
Artikel oleh Tony Reinke
Penulis Senior, desiringGod.org

Jika terserah pada kita, maka kita akan terjebak dalam lumpur kebobrokan total kita – kasih sayang kita yang terbungkus sentripetal hanya pada diri kita sendiri. Kita berpaling dari Allah demi sukacita kita sendiri. Kita mencekik diri kita sendiri dengan perbudakan dari kemuliaan diri sendiri. Bagaikan air laut yang panas yang menimbulkan badai permusuhan di dunia, maka kebobrokan kita melahirkan kebohongan satu sama lain; rasa iri yang pahit; perpecahan dari hubungan yang memanas; tindakan teror yang jahat; dan berbagai perang dunia.

Pertanyaan besarnya: Apakah Allah akan diam saja dan membiarkan semua kebobrokan ini berubah menjadi kekacauan yang semakin dalam? Apakah Dia akan menbinasakan ciptaan tersebut dengan air bah dan membuang manusia ke selokan kosmik dan menghabisi semuanya? Atau, akankah Dia menerobos masuk untuk memperbaiki kekacauan ini? Dia punya kuasa untuk campur tangan, tetapi apakah Dia mau melakukannya? Akankah Dia merasa tidak nyaman untuk turun tangan dan menghentikan kejatuhan umat manusia yang sedang mencelakai diri sendiri; yang sedang menghancurkan diri sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita berhenti sejenak dari drama manusia yang terjadi di bumi untuk melihat ke surga dan kembali pada kekekalan-masa-lalu. Kebobrokan hati manusia tidak mengejutkan Allah. Sebelum memberi Adam perintah untuk tidak makan dari satu pohon, Allah sudah tahu apa yang akan terjadi. Ini sungguh tragis dan mengerikan, namun hal itu bukan di luar rencana-Nya.

Dengan latar belakang ini, kita sekarang membahas anugerah-Nya Allah dalam strategi kosmik-Nya. Allah terlibat dalam drama yang kita sebut sejarah manusia untuk memilih bagi diri-Nya suatu umat yang tidak akan dibiarkan untuk menghancurkan diri mereka sendiri. Dia menggunakan satu metafora manusia yang umum untuk membantu kita memahami isi hati dan karya-Nya.

Hosea

Hosea adalah kitab yang menakjubkan; penuh dengan segala kebobrokan yang bergejolak dalam jiwa bahkan orang yang paling religius sekalipun – hawa nafsu; pemberontakan; penyembahan berhala, semuanya ada di sana. Namun, kitab dalam Perjanjian Lama (PL) ini bukan sekadar alat untuk mendiagnosis hati, dan bukan hanya sebuah kisah tragis tentang tidak memadainya klaim keanggotaan dalam suatu kelompok agama yang tepat, namun juga mengenai sebuah kisah relasional tentang seorang suami (Hosea) dalam pernikahannya dengan seorang istri yang melakukan hubungan seks bebas (Gomer); dan anak-anak mereka yang bandel.

Kitab Hosea akan mematahkan hatinya Anda seperti pensil. Istri yang suka berganti-ganti pasangan, yang Anda harap akan menjadi istri yang bereputasi baik, malah kembali melakukan perzinahan dan mencari kesenangan yang tidak senonoh. Apa yang bisa lebih menyakitkan? Ini bukanlah drama televisi yang ditayangkan pada jam tayang utama, namun sebuah metafora dari apa yang telah dilakukan bangsa Israel terhadap Allah mereka yang pengasih. Ini adalah sebuah perumpamaan yang diperankan manusia. Hubungan-Nya Allah dengan Israel terlihat dalam disfungsi pernikahan Hosea dengan Gomer; dan memperkuat gambaran mengenai betapa dalamnya dosa Israel telah membekas dalam hati-Nya Allah.

Penderitaan dan keputusasaan muncul dari halaman-halamannya. Namun, seperti dalam banyak kisah berdarah yang lainnya, pada akhirnya kisah ini adalah kisah mengenai penebusan. Ini adalah sebuah idiom tentang bagaimana kita memahami kedaulatan dan pemilihan-Nya Allah, yang begitu penting bagi para rasul, sehingga hanya ada sedikit harapan untuk memahami bahasa dari kedaulatan ilahi (atau yang biasa disebut “Calvinisme”) tanpa memahami patah hatinya Hosea.

Allahnya Hosea adalah Allah yang memilih. Dia yang memilih. Dia yang memulai. Kitab Hosea adalah kitab tentang pernikahan, karena ini adalah kitab tentang pemilihan (Hos. 9:10; 11:1; 13:5).

Pemilihan Tanpa Syarat

Keinginan-Nya Allah yang berdaulat ini, pada kekekalan-masa-lalu, untuk mengumpulkan suatu umat bagi diri-Nya sendiri, adalah apa yang disebut kaum Calvinis sebagai “pemilihan tanpa syarat,” yaitu huruf U dalam [akronim] TULIP. Dari semua orang berdosa yang mengabaikan Allah, maka Allah memilih suatu umat bagi diri-Nya sendiri. Dia adalah ayahnya mereka. Mereka adalah objek cinta abadi-Nya; kasih sayang-Nya; dan kesukaan-Nya. Orang-orang pilihan yang berdosa ini tidak melakukan apa pun untuk mendapatkan tindakan-Nya Allah tersebut. Orang-orang pilihan yang berdosa tersebut tidak “lebih layak” menerima kasih-karunia ini. Itulah sebabnya mengapa disebut tanpa syarat. Tidak ada pilih kasih.

Pemilihan mempunyai bentuk yang sedikit berbeda dalam PL (ketika Allah memilih bagi diri-Nya suatu bangsa secara fisik), dibandingkan dengan Perjanjian Baru/ PB (ketika Allah memilih individu demi individu bagi diri-Nya sendiri sebagai suatu umat rohani). Namun, seperti yang akan kita lihat, kedua hal tersebut sangat saling terkait.

Pada akhirnya, Allah ingin memilih umat pilihan bagi diri-Nya, bukan hanya bangsa Israel, namun juga individu-individu dari bangsa-bangsa kafir (Hos. 1:1–2:23). Untuk membuktikan hal ini, Rasul Paulus mengutip dari Kitab Hosea (Rom. 9:22–26).

Bahasa seperti ini bisa kita temui dalam keseluruhan isi Alkitab. Allah dapat memberikan janji ini kepada orang-orang berdosa: “Aku akan memulihkan mereka dari penyelewengan, Aku akan mengasihi mereka dengan sukarela, sebab murka-Ku telah surut dari pada mereka” (Hos. 14:5, TB). Inilah hati di balik kasih-pilihan-Nya Allah. Mengutip pernyataan dari orang Puritan, Thomas Boston, kasih-Nya Allah yang berdaulat akan membuat sebuah jala untuk menangkap jiwa-jiwa. Dengan lemah lembut, Allah akan mengundang umat pilihan-Nya dengan kedaulatan kasih karunia-Nya yang tiada henti-hentinya (Hos. 2:14-23).

Suka Untuk Mengasihi

Bagi para pembaca PL tema kasih-pilihan-Nya Allah dalam Kitab Hosea dapat ditemukan dalam alur cerita PL dalam berbagai bagian indah yang lainnya, seperti yang berikut ini:

Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya; tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini (Ula. 10:14–15, TB)

Pemilihan Allah dalam Kitab Suci didasarkan pada frasa dasar ini: “hati TUHAN terpikat” kepada umat pilihan-Nya (Ula. 7:7; 10:15, TB). Ini adalah bahasa yang sama yang digunakan dalam Kitab Suci untuk menggambarkan upaya seorang pria untuk mendapatkan seorang wanita untuk menjadi istrinya. Dalam hal pemilihan, bahasa-Nya Allah jelas dan kuat, tulis John Piper, yang memperkuat terjemahan Ulangan 10:15 menjadi makna yang lebih lengkap: “TUHAN suka untuk mengasihi nenek moyangmu.” Terpilih berarti sangat dikasihi oleh Allah (Kol. 3:12; 1 Tes. 1:4–5).

Allah suka untuk mengasihi. Kasih-pilihan-Nya tersebut bersifat sangat pribadi – dengan intensitas yang sebagian besar dari kita hanya dapat melihatnya dalam gambaran ketertarikan romantis yang terbawa ke dalam api pernikahan. Namun, kasih ini berbeda dengan pernikahan kaum ningrat yang dihadiri oleh orang-orang berwajah serius yang tampak kesal karena hari-hari mereka diganggu oleh arak-arakan yang kaku dan menyesakkan. Justru sebaliknya.

PL mengajarkan kita banyak hal tentang kasih-Nya Allah. Kasih-Nya Allah bersifat selektif – kasih-pilihan-Nya tersebut bukanlah kasih yang bersifat umum, melainkan kasih yang eksklusif. Kasih-Nya Allah bersifat sukarela — Dia tidak wajib untuk mengasihi siapa pun (atau semua orang) di suatu wilayah seperti dewa-dewa kafir pada masa itu. Kasih-Nya Allah memburu — mencari mereka untuk masuk ke dalam hubungan yang saling menyenangkan. Kasih-Nya Allah bersifat spontan — “kasih ini tidak disebabkan oleh nilai atau daya tarik apa pun pada objeknya, melainkan menciptakan nilai pada objeknya.”

Dengan kata lain, Allah tidak memilih setiap orang berdosa untuk menjadi pilihan-Nya. Mengapa? Ini adalah pertanyaan yang tidak dapat kita jawab selain menanyakan pertanyaan retorisnya Paulus dalam Roma 9:22–23. Pilihan-Nya Allah adalah hak prerogratif-Nya yang tak terbantahkan. Namun, yang kita tahu, pemilihan-tanpa-syarat itu bersifat sangat pribadi. Allah menaruh kasih-Nya yang tak terbendung tersebut pada orang-orang berdosa yang tertentu. Ini adalah rencana-Nya sejak kekekalan-masa-lalu: Jiwa-jiwa bobrok yang terjebak dalam siklus dosa dan kematian yang tak henti-hentinya akan menjadi objek kasih-Nya (Efe. 1:3–23). Hal ini tidak berarti berbicara mengenai kebaikannya orang berdosa, tetapi tentang keagungan kasih-Nya.

Tindakan yang Murni Dari Kesenangan (untuk Kemuliaan)

Namun, apakah ini sekadar tindakan dari seorang hakim yang memberikan pengampunan yang berada nun jauh di sana; yang berjarak [dengan kita]; dan yang [melakukannya dengan] enggan-hati? Atau apakah Dia benar-benar sedekat ini dengan kita? Apakah Allah benar-benar suka untuk memilih?

Sebuah perikop yang mengkomunikasikan mengenai hakikat-hati-Nya Allah dalam pemilihan ditemukan dalam nubuatan mengenai Perjanjian Baru Yeremia 32:41: “Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.”

Artinya, Allah memilih manusia, bukan hanya karena merasa kasihan atas kebobrokan mereka, melainkan juga sebagai objek kesukaan-Nya. Mereka akan menjadi objek dari kasih-istimewanya.

Dalam sejarah gereja, hanya sedikit teolog yang memahami realitas ini lebih dalam – atau lebih memahaminya – dibandingkan dengan tokoh Puritan Thomas Goodwin. Teolog abad ketujuh belas mendefinisikan pemilihan sebagai “tindakan yang murni dari kesenangan-baik-Nya” Allah. Ia menyemangati orang Kristen untuk “menganggap bahwa Allah, ketika memilih Anda, tidak hanya mengasihi Anda, tetapi juga suka untuk mengasihi Anda. Bukan hanya karena kemauan-Nya saja Dia memilih beberapa orang; atau karena Dia tidak peduli siapa; atau karena Dia acuh tak acuh terhadap hal itu; melainkan itu adalah tindakan-kasih. Bukan hanya karena kasih, tetapi juga karena kesenangan-yang-baik dan dari kesukaan-Nya… Allah bersukacita atas kamu untuk selama-lamanya, karena niat-Nya untuk berbuat baik kepadamu dengan segenap hati dan jiwa-Nya.”

Allah mengasihi sampai seperti ini karena kebahagiaan kita yang dipertaruhkan. Terlebih lagi karena kemuliaan-Nya yang dipertaruhkan. Goodwin bergumul mengenai bagaimana mengungkapkan hal ini dengan baik sehingga akhirnya mengungkapkannya dengan cara seperti ini: “Lihat ke satu sisi, dan Anda mengira Allah mengasihi kita seolah-olah Dia tidak memikirkan hal lain. Lihatlah ke sisi yang lain, maka kemuliaan dari kasih karunia-Nya tampak sedemikian rupa sehingga kita seolah-olah dilupakan dan hanya kemuliaan Allah yang bersinar di dalamnya.”

Rencana rangkap dua ini dirangkai menjadi satu simpul yang mulia. Dari sudut pandang yang satu, sepertinya sorotan perhatian telah terfokus pada orang-orang pilihan, sebagai tindakan yang murni dari kesenangan-Nya Allah untuk memilih orang-orang berdosa tertentu bagi diri-Nya. Dari sudut pandang yang satunya lagi, orang-orang pilihan ini seolah-olah memudar ketika kemegahan dari kedaulatan kasih-karunia-Nya Allah yang menjadi pusat perhatian (1 Pet. 2:9). Kedua sudut pandang tersebut sama-sama benar! Goodwin berada di ambang kebenaran yang luar biasa mulia. Dalam pemilihan-Nya, Allah mengejar kemuliaan-Nya dengan mengundang orang-orang berdosa untuk menikmati Dia untuk selama-lamanya.

Kita dapat menyatukan beberapa bagian di sini. Pemilihan tanpa syarat menyingkapkan tujuan-Nya Allah, termasuk empat maksud berikut ini:

  • Pemilihan adalah tahap pertama dari penyingkapan dari niat-Nya Allah untuk menyenangkan orang-orang pilihan-Nya.
  • Pemilihan adalah langkah pertama dari tujuan-Nya Allah untuk memperbesar kedaulatan kasih karunia-Nya.
  • Pemilihan adalah langkah pertama dari niat -Nya Allah untuk mengundang hati umat-Nya yang rusak tersebut dengan kesenangan yang berpusat pada Allah.
  • Pemilihan adalah tindakan dasar-Nya Allah untuk memastikan kesukaan-Nya terhadap umat pilihan; ekspresi kemuliaan-Nya; dan sukacita dari umat pilihan terjalin menjadi satu tujuan-akhir.

Pada titik ini, dalam sejarah penebusan, pada waktu kekekalan-masa-lalu, Allah telah menempatkan umat pilihan-Nya sebagai suatu nilai yang tak ternilai harganya; memberi mereka nilai yang melebihi seluruh emas dalam alam semesta; melampaui pengorbanan pribadi apa pun untuk menarik mereka kepada-Nya. Meskipun mereka terjatuh; penuh dosa; dan begitu bobrok dalam dosa mereka, umat pilihan-Nya Allah sangatlah berharga bagi-Nya.

Namun, kita sudah mendahului diri kita sendiri.

Gambaran Dari Kasih Karunia

Jadi, bagaimana kita menggambarkan kenyataan ini?

Mungkin kita bisa membayangkan pemilihan-tanpa-syarat seperti halnya suatu perburuan. Seekor beruang grizzly yang lapar sedang duduk dengan gembira dan terfokus pada semak berry. Seorang pemburu, yang sedang menyamar, bersembunyi 100 meter jauhnya di rerumputan yang tinggi-tinggi; mengawasi melalui lensa dari senapan berburunya. Orang-orang berdosa menaruh kesenangannya pada berbagai hal kecil di dunia ketika Allah sedang melacak mereka. Kita tidak mengerti. Kita tidak melihat-Nya. Dia mengenal kita. Dia mengejar kita. Orang-orang pilihan tidak tahu apa-apa; terjebak dalam kepentingan mereka yang serba terbatas itu karena mereka sedang dipojokkan dan diburu.

Namun, semuanya ini terlalu impersonal; terlalu acak.

Apa pun yang kita pikirkan, maka kita terlempar kembali ke metafora mengenai pernikahan.

Pemilihan-tanpa-syarat adalah langkah pertama menuju pernikahan, yang direncanakan dalam kekekalan-masa-lalu, yang tidak dapat dirasakan oleh orang-orang berdosa di dunia. Ini bisa dipahami sejauh mana kisah pernikahan bisa dipahami. Dimulai dari pandangan pertama terhadap seorang wanita dari seorang pria dari seberang ruangan yang ramai sesak. Pandangan tersebut akan berujung pada suatu perbincangan. Perbincangan tersebut akan berujung pada suatu hubungan. Hubungan tersebut akan berujung pada suatu janji pernikahan.

Namun, dalam kasus ini, metafora mengenai pernikahan untuk pemilihan tidak bisa diawali dengan kecantikan dari si mempelai wanita yang menarik itu. Allah mengambil tindakan awal terhadap si mempelai wanita bahkan ketika diri si mempelai tidak menarik secara moral. Dia adalah si Gomer. Dalam bahasa kasarnya, dipilih oleh Allah berarti menjadi si pelacur yang dipilih secara khusus dan dikeluarkan dari rumah bordil. Kita merasa terganggu dengan bahasa sisi gelapnya metafora pernikahan yang indah tersebut. Namun, kita tidak bisa memahami mengenai pemilihan tanpa memahami hal tersebut. Dalam kekekalan-masa-lalu, Allah mengambil keputusan. Dia akan memilih seorang pezinah-rohani yang sudah bobrok tersebut bagi diri-Nya sendiri. Dia akan mengasihi mereka untuk diri-Nya sendiri dan untuk selama-lamanya. Tindakan-kasih yang tidak pantas ini akan membuat bahasa pernikahannya Hosea bersinar dalam kasih-karunia yang cemerlang; dan yang menunjukkan hubungan kasih-pernikahan yang pada akhirnya akan diungkapkan secara lebih terperinci kelak (Efe. 5:22–33).

Melihat kembali pemilihan-Nya Allah pada kekekalan-masa-lalu, maka pengejaran-Nya Allah telah ditetapkan dan diniatkan. Allah mengawali kasih ini dengan spontanitas-Nya yang murni – inisiatif-Nya yang tanpa syarat; dan ditentukan oleh diri-Nya sendiri. Tidak ada sesuatu apa pun [yang berharga] di dalam diri orang-orang pilihan. Tidak ada keindahan; tidak ada nilai kebajikan; tidak ada sesuatu apa pun di dalam diri mereka yang dapat menarik kasih-Nya Allah. Apapun yang diberikan Allah untuk kebahagiaan orang-orang berdosa tersebut sama sekali tidak pantas mereka peroleh. Keberhargaaan umat pilihan-Nya Allah ditentukan oleh kesukaan-Nya Allah untuk mengasihi mereka.

Pada titik ini, hati-Nya Allah dipenuhi dengan kesukaan yang sangat besar untuk menebus suatu umat yang akan menikmati segala sesuatu. Mengetahui kebobrokan totalnya kita, maka kebenaran ini seharusnya membuat kita benar-benar terpana; terkagum-kagum akan kasih-Nya. Allah dengan sungguh-sungguh mengasihi orang-orang yang telah ditentukan-Nya dari sejak semula untuk diselamatkan-Nya. Namun, Dia tidak bisa mengungkapkan kesukaan-Nya tersebut sepenuhnya pada orang-orang pilihan-Nya sebelum mereka diciptakan (dan tentunya tidak bisa sebelum ada peristiwa Kejatuhan) dengan hati yang mati dan terjebak dalam dosa. Kesukaan-Nya Allah terhadap orang-orang pilihan tidaklah lengkap pada titik predestinasi/ penentuan-dari-sejak-semula.

Kita masih jauh dari hari pernikahan. Masih banyak lagi yang bisa dikatakan tentang bagaimana Dia akan melakukan hal ini dan mengapa Dia melakukannya. Namun, rencana pernikahan akan tetap dijalankan. Akan ada pernikahan.

Jadi, bagaimana untuk selanjutnya?

Diperlukan Adanya Tindakan

Anak-anak Allah yang berdosa membutuhkan lebih dari sekadar janji dan rencana. Sama seperti Hosea, Allah tidak hanya mengundang kita dengan kata-kata. Dia akan menarik kita dengan berbagai perbuatan-Nya. Supaya Allah dapat sepenuhnya bersukacita atas anak-anak pilihan-Nya, dan supaya mereka bersukacita atas Dia, maka Ia harus melakukan suatu tindakan-penebusan. Kasih-yang-memilih selalu mewajibkan adanya tindakan-penebusan, seperti halnya tindakan-penyelamatan untuk keluar dari Mesir dan melalui air [yang terbelah] pada peristiwa keluaran/eksodus yang pertama (Ula. 4:37; 7:8).

Untuk saat ini, kesukaan abadi-Nya Allah terhadap orang-orang pilihan-Nya muncul dalam berbagai metafora mengenai pernikahan. Namun, kegelapan dari kebobrokan kita sudah menanti. Rencana-Nya kini bergantung pada tindakan-penebusan yang baru, yaitu eksodus yang kedua.Ketika waktunya tepat, seorang Putra-yang-dipilih akan tiba; seorang Putra yang dipimpin oleh Roh dan yang diberkati oleh Bapa-Nya. Dia akan berjalan keluar dari pasirnya Mesir dan berjalan melangkah melewati air (Hos. 11:1; Yes. 42:1; Mat. 3:16–17).

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Joy Designed."

You may also like...

Tinggalkan Balasan