Bahagia Hingga yang Seperti Itu

Mata Berseri-serinya Orang dalam Mazmur 1

 


9 Juli 2023
Artikel oleh Marshall Segal.
Staf Penulis, desiringGod.org

Ketika saya mendaftar ke seminari, saya memiliki pemikiran yang naif bahwa saya akan lulus (hanya dalam waktu empat tahun) dan sudah memahami isi Alkitab. Tentu saja, saya tahu bahwa saya akan terus membaca Alkitab seumur hidupku, bahkan setiap hari. Namun, saya pikir pada saat itu saya hanya perlu mengingat-ingat kembali mengenai apa yang telah saya lihat; tidak lagi perlu untuk mendaki gunung.

Kurang dari seminggu memasuki semester pertamanya saya, gagasan yang naif itu akhirnya rusak; terbawa air; dan tenggelam. Dari dakam kuburnya, ada rasa lapar yang baru muncul; ada kesadaran yang membahagiakan bahwa saya tidak akan pernah bisa menghabiskan kitab ini. Bahwa jika saya terus membaca, maka saya akan melihat lebih banyak dari tahun ke tahun, bukan lebih sedikit. Bukan saja saya tidak dapat menguasai buku ini dalam waktu empat tahun, namun saya menyadari bahwa saya tidak dapat menguasainya dalam waktu empat puluh tahun — atau empat ratus tahun , dalam hal ini, jika Tuhan memberi saya waktu berabad-abad. Tidak, masa-masanya saya di seminari memang merupakan pendidikan yang serius tentang bagaimana saya bisa menguasai Sang Kitab. Saya siap untuk dibangunkan,;dihajar; dinasihati; dan digetarkan olehnya selama saya hidup.

Puncak dari gunung es tempat kenaifannya saya terhempas dan tenggelam adalah pada salah satu orang paling bahagia yang pernah saya temui, yaitu seorang gembala yang telah melayani selama beberapa dekade dan mengabdikan hidupnya untuk mengajar orang-orang yang naif seperti saya untuk belajar,; menghidupi; dan mengajarkan firman-Nya Allah. Sekarang, setelah satu dekade lulus dari seminari, saya merasa sangat yakin bahwa tidak ada yang saya pelajari yang lebih berharga daripada menyaksikan, minggu demi minggu, Tom Steller yang rendah hati; penuh sukacita; dan dengan mata terbelalaknya membuka Alkitab bersama-sama dengan kami.

Bahagia Hingga yang Seperti Itu

Ketika saya mulai masuk seminari, saya telah menghafal Mazmur 1:1–2, namun pertemuan dengan Pendeta Tom membawa dua kata secara khusus menjadi sesuatu yang lebih hidup hingga penuh dan nyata, yaitu kata berbahagia dan kesukaan.

Berbahagialah orang  yang tidak berjalan menurut nasihat  orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh; tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Menelusuri Kitab Suci bersama Pendeta Tom, ayat demi ayat, bahkan frasa demi frasa, bagaikan mencicipi madu untuk pertama kalinya. Ketika Raja Daud berkata bahwa hukum-hukum Tuhan itu “lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah,” maka kita tahu bahwa madu itu memang manis meskipun kita belum pernah meminumnya. Namun, sebenarnya, mencicipi madu untuk diri kita sendiri yang membuat ayat seperti Mazmur 19:11 (TB) benar-benar bernyanyi. Itulah yang terjadi ketika saya melihat Tom Steller menikmati Surat Efesus. Dia adalah (dan hingga sekarang!) orang yang berbahagia dan kesukaannya terhadap kata itu hampir nyata. Dia menikmati kebahagiaan yang dimaksud [dalam Kitab Mazmur pasal 1] itu. 

Siapa yang tahu berapa kali dia telah membaca Efesus dalam hidupnya? Bahkan, ini bukan pertama kalinya dia mengajarkan mengenai isi surat tersebut. Namun, dia datang ke kelas dengan penuh semangat sambil duduk di ujung kursinya seperti seorang anak berusia lima tahun tepat sebelum penjual es krim tiba. Anda keluar dari kelasnya dengan keinginan untuk membaca Alkitab lebih banyak karena Anda ingin melihat lebih banyak ketimbang apa yang dilihatnya; merasakan apa yang dirasakannya; ingin bisa menjalani hidup dan menggembalakan seperti dia.

Rendah Hati Hingga yang Seperti Itu

Seiring berjalannya waktu, sambil menggali pasal demi pasal bersama Tom, perlahan-lahan kami mengungkap rahasia tersembunyi dari kesukaannya dalam membaca Alkitab: kerendahan hati . Bahkan setelah membaca ayat-ayat ini selama bertahun-tahun; mempelajari ayat-ayat ini selama bertahun-tahun; bahkan mengajarkan ayat-ayat ini selama bertahun-tahun, dia datang ke kelas untuk belajar — untuk melihat apa yang belum dia lihat (atau untuk mengoreksi apa yang dia pikir telah dilihatnya). Jangan salah, dia mempunyai keyakinan yang dalam-dan-kokoh. Namun, dia memegang keyakinan itu dengan kerendahan hati yang sama dalam-dan-kokohnya.

Tidak ada ayat yang terlalu familiar. Tidak ada pertanyaan yang tampak mengancam. Tidak ada terjemahan atau penafsiran alternatif yang dibuang terlalu cepat. Di usia lima puluhan, dia merasakan kegembiraan yang sama besarnya atau bahkan lebih besar dengan wawasan yang didapatnya dari usia dua puluhan. Dia ingin melihat segala sesuatu yang bisa dilihat dalam pasal-pasal ini. Dia tidak peduli bagaimana dia melihatnya atau siapa yang pertama kali melihatnya. Apakah itu sesama gembala atau profesor; salah satu muridnya; atau siswa kelas dua. Dia lebih menghargai apa yang dilihatnya ketimbang bagaimana dia terlihat.

Melalui kebebasan-dari-rasa-sombong yang langka ini, ia mencontohkan mengenai apa yang dikatakan John Piper tentang pembacaan Alkitab yang supernatural dan menggugah jiwa:

“Ketika Roh bekerja dalam pembacaan Kitab Suci, maka kita direndahkan dan Kristus dimuliakan. Preferensi lama kita untuk meninggikan diri digantikan dengan hasrat untuk meninggikan Kristus. Semangat baru ini adalah kunci yang membuka ribuan jendela dalam Kitab Suci untuk membiarkan terangnya kemuliaan Allah masuk ke dalam”

(Membaca Alkitab Secara Supranatural, 248)

Seperti itulah suasana kelasnya Tom, yaitu dibanjiri terang [kemuliaan Allah]. Setiap minggu, lebih banyak jendela yang muncul sehingga membuka pandangan yang segar-dan-jelas tentang Allah. Karena dia tidak pernah berasumsi bahwa dia telah melihat semuanya, bahkan dalam pasal dan ayat favoritnya, maka dia melihat lebih dari yang bisa dilihat kebanyakan orang. Lebih banyak lagi pada keesokan harinya.

Manusia yang Tidak Berbahagia

Untungnya, saya bertemu dengan pendeta yang kedua pada minggu pertama dalam seminari itu, yaitu seorang pendeta emeritus yang melayani di kantin tempat saya bekerja. Meskipun dia baik dan murah hati, dia dan Tom adalah gembala (dan orang Kristen) yang sangat berbeda. Ketika mengenal mereka, saya belajar bahwa perbedaan mereka yang banyak-dan-beragam tersebut berakar pada satu perbedaan yang mendasar.

Pada suatu hari di kantin, setelah para staf selesai membaca pasal hariannya Alkitab kami secara bersama-sama, saya sedang berbicara dengan pendeta emeritus tersebut tentang sesuatu yang kami baca pada pagi itu. Pada suatu titik dalam percakapan tersebut, saya menanyakan seperti apa pembacaan Alkitab baginya pada tahap kehidupannya saat ini. Saya membayangkan bahwa masa pensiun mungkin akan memberikan lebih banyak waktu [baginya] untuk menenangkan diri; merenungkan; dan menikmati Kitab Suci. Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia katakan selanjutnya (dan di mana saya duduk ketika dia mengatakannya):

“Oh, saya tidak lagi banyak membaca Alkitab, hanya beberapa hari saja ketika saya berada di kantin sini. Saya sudah membacanya berkali-kali sebelumnya. Sekarang, saya sudah pensiun. Saya bisa fokus pada hal lain.”

Inilah orang yang telah mengabdikan kehidupannya dalam pelayanan Kristen. Namun, Alkitab sudah menjadi usang baginya; tidak lagi menarik baginya; bahkan sudah tidak diperlukannya lagi. Allah sendiri telah berbicara mellaui tinta, kertas, dan keajaiban. Namun, entah bagaimana dia merasa sudah cukup melihatnya.

Ketika Pendeta Tom terbangun, hari demi hari, di depan jendela yang baru dan lebih lebar, pria yang satu ini malah menutup tirainya. Jika mata cerahnya Tom adalah mercusuar pengharapan-dan-upah yang menjulang tinggi bagi para calon pendeta, maka mata redup pria ini adalah awan peringatan yang tidak menyenangkan.

Hanya Beberapa Menit dari Pegunungan

Pendeta emeritus itu mencemarkan nama baiknya sendiri; menyingkapkan ketidakpeduliannya yang memalukan dan sombong tersebut – apalagi dia bukan orang asing dalam hidupnya saya. Kita mungkin tidak mengatakan dengan lantang apa yang ingin dikatakannya. Namun, kita mengkhianati diri kita sendiri setiap kali kita terburu-buru ketika sedang membaca Al-Kitab. Iblis berdiri di samping semua jendela kita; mengalihkan perhatian kita; menyela kita; mengejek kita; menyenangkan kita. Lensanya yang menyimpang membuat lautan Kitab Suci tampak seperti thimble; dan singa seperti anak kucing. Dia mengubah gunung-gunung yang menakjubkan menjadi sarang tikus.

Namun, bahkan dalam kondisi terbaiknya untuk membinasakan, Iblis masih harus berjuang dengan keras. Kecemerlangan dan keindahannya Alkitab bersinar bahkan melalui tirai yang paling tebal sekalipun. Jika kita memperlambat kecepatan untuk melihat apa yang ada di sana, dengan bantuan dari Roh Kudus, maka kita hanya akan berjarak beberapa menit saja dari sinar matahari dan keagungan; dari realitas dan vitalitas; dari pengharapan dan kegembiraan. Hikmat menjanjikan pembacaan Alkitab seperti ini kepada mereka yang rendah hati dan lapar:

“… jikalau engkau berseru kepada pengertian  dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak,  dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN.” 

(Ams. 2:3–5, TB)

Saya berharap Anda memiliki Tom Steller di suatu tempat dalam hidupnya Anda, yatiu seseorang yang membukakan jendela bagi Anda dalam pembacaan Alkitab; seseorang yang tidak akan berhenti untuk melihat, bertanya, dan menyimak; seseorang yang membantu Anda untuk melewati rintangan berat, keluar dari perjalanan yang sukar, menembus hutan belantara; seseorang yang suka ketika Anda bisa melihat lebih banyak — dan [ia juga] bisa melihat lebih banyak melalui Anda.

Seperti saya, maka saya berharap Anda bisa menjadi orang yang berbahagia hingga yang seperti itu.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "That Kind of Happy The Wide Eyes of a Psalm 1 Man."

You may also like...

Tinggalkan Balasan