Senang Memuji Allah

Sukacita Surga
22 Agustus


Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org

”Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu”

(Maz. 67:4, 6)

Mengapa Allah menuntut kita harus memanjatkan puji syukur pada-Nya?

C.S. Lewis:

Sama seperti para pria yang secara spontan memuji apa pun yang mereka hargai, demikian pula mereka secara spontan mendesak kita untuk ikut turut serta dalam memuji sesuatu: ”Bukankah dia cantik? Bukankah itu hebat? Tidakkah menurutmu itu luar biasa?”

Pemazmur menunjukkan kepada semua orang untuk memuji Allah dengan melakukan apa yang dilakukan semua pria ketika mereka berbicara tentang apa yang mereka pedulikan. Secara umum, kesulitan saya tentang memuji Allah bergantung pada penyangkalan kita yang tidak masuk akal, sehubungan dengan Yang Sangat Berharga; mengenai apa yang kita suka lakukan; mengenai apa yang memang tidak bisa kita lakukan; mengenai segala hal lain yang kita hargai.

Saya pikir kita senang memuji apa yang kita nikmati karena pujian itu tidak hanya mengekspresikan, tetapi juga melengkapi kenikmatan tersebut. Puji syukur adalah penyempurnaan yang telah ditetapkan. Sepasang kekasih terus saling mengatakan betapa cantik/tampannya mereka bukan karena mereka ingin memuji satu sama lain. Kesenangan tidak lengkap sampai hal itu diungkapkan.

Inilah jawabannya — solusi untuk hal yang tampak seperti egomania-Nya Allah ketika menuntut kita untuk memuji-Nya! Ini adalah tuntutan untuk kebahagiaan terbesar kita. Kita memuji apa yang kita nikmati karena kenikmatan itu tidak akan lengkap sampai bisa diungkapkan melalui puji-syukur. Jika kita tidak diperbolehkan untuk berbicara tentang apa yang kita hargai; dan merayakan apa yang kita kasihi; serta memuji apa yang kita kagumi, maka sukacita kita tidak akan lengkap. 

Jadi, jika Allah cukup mengasihi kita hingga membuat sukacita kita penuh, maka Dia tidak hanya harus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Allah juga harus memenangkan puji-syukur dari hati kita — bukan karena Dia perlu menopang beberapa kelemahan dalam diri-Nya; atau untuk mengimbangi beberapa kekurangan-Nya, melainkan karena Dia mengasihi kita dan mencari kepenuhan sukacita kita yang hanya dapat ditemukan dengan mengenal dan memuji-Nya (yaitu Dia yang paling agung dari semua makhluk).

Jika Dia bersungguh-sungguh [melakukan sesuatu] untuk kita, maka Dia pasti [melakukannya] untuk diri-Nya sendiri! Allah adalah satu-satunya Pribadi di seluruh alam semesta yang ketika mencari pujian bagi diri-Nya sendiri adalah tindakan yang paling penuh kasih. Bagi Allah, meninggikan diri-Nya sendiri adalah nilai kebajikan yang tertinggi. Ketika Ia melakukan segala sesuatu ”untuk memuji kemuliaan-Nya” (Efe. 1:14), maka Allah sedang memelihara kita; dan menawarkan kepada kita satu-satunya hal di dunia ini yang dapat memuaskan keinginan kita.

Allah ada untuk kita! Dasar dari kasih ini adalah Allah sudah; sedang; dan akan selalu ada untuk diri-Nya sendiri.


Artikel ini diterjemahkan dari "Pleased to Praise."

You may also like...

Tinggalkan Balasan