Mengapa Roti dan Anggur?

 

Menikmati Perjamuan Di Atas Semua Perjamuan

1 September 2022
Artikel oleh Scott Hubbard
Editor, desiringGod.org


Pada malam Dia dikhianati, Tuhan Yesus ingin memberikan sebuah tanda kasih perjanjian-Nya pada para murid-Nya. Sebagaimana Allah pernah meyakinkan Nuh dengan pelangi; dan melayangkan pandangan Abraham pada bintang-bintang; dan menguduskan hari Sabat bagi Israel, maka sekarang Yesus ingin memberikan pada para murid-Nya (dan kita) beberapa bukti yang jelas dari janji-janji-Nya; beberapa jaminan yang bisa dilihat dari kasih setia-Nya. Jadi, Dia memecahkan sepotong roti dan menuangkan secangkir anggur.

Roti dan anggur; potongan roti dan cawan.  Melalui dua unsur yang biasa ini, Tuhan kita yang tersalib, bangkit, dan berkuasa untuk memerintah tersebut telah menyatakan kemenangan-Nya pada kita. Dia memberitahu kita mengenai siapakah diri kita. Dia memberi kita gambaran tentang kerajaan-Nya yang akan datang ketika Dia akan kembali memimpin perjamuan. Kali ini tanpa akan ada kesedihan yang menghampiri.

Namun, jika kita akan menerima kasih perjanjian Kristus dalam perjamuan ini, dan bukan hanya roti-dan-anggur — atau biskuit dan jus (seperti yang mungkin terjadi) — kita memerlukan makna yang dari unsur-unsur tersebut dengan jelas dalam pikiran kita. Seperti yang ditulis oleh John Calvin, ”Pastinya ini adalah hal yang paling utama dalam semua sakramen, agar firman Allah tampak terukir di sana, dan agar suara yang jelas terdengar.”

Lalu, kata apa yang diukir Yesus pada roti dan cawan? Suara apa yang terdengar dari Perjamuan ini?

Roti dan Anggur

Ketika Yesus mengambil roti dan cawan Perjamuan Malam Terakhir, Dia memegang benda-benda yang sangat terkait erat dengan masa lalunya bangsa Israel. Roti dan anggur muncul secara teratur, baik bersama-sama dan terpisah, selama dalam masa Perjanjian Lama (PL) dan pelayanannya Yesus sendiri. Ini adalah mengenai roti yang sudah lama matang dan anggur yang sudah tua.

Pada tingkat yang paling mendasar, roti dan anggur menopang kehidupan umat Allah (Kej. 27:28; Ima. 26:26). Keduanya merupakan makanan pokoknya orang Israel— roti karena kemudahan dan ketersediaan biji gandum; anggur karena air bisa sangat langka di dunia Timur Tengah kuno.

Karena alasan tersebut, roti dan anggur juga merupakan hadiah yang berharga untuk persahabatan dan keramahtamahan. Pertama, dari Allah pada manusia (Maz. 104:15). Kemudian, dari manusia pada sesamanya (Kej. 14:18; Rut 2:14). Dengan cara yang sama, roti dan anggur mencerminkan berkat dan kutuk dalam perjanjian Allah dengan Israel. Ketika bangsa itu berjalan dekat dengan Allahnya, maka mereka makan roti dan minum anggur dengan berlimpah (Ula. 7:13). Ketika mereka mengikuti ilah lain, maka paceklik melanda ladang dan kebun anggur mereka (Hos. 2:9).

Akhirnya, roti dan anggur bisa menjadi simbol pengharapan eskatologis Israel, ketika Allah akan menelan maut dan mengadakan pesta perjamuan untuk semua bangsa (Yes. 25:6–8; 55:1–2). ”Sesungguhnya, waktu akan datang,” kata Tuhan melalui Amos,

….bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai
      dan pengirik buah anggur penabur benih;
gunung-gunung akan meniriskan anggur baru,
      dan segala bukit akan kebanjiran. 
(Amos 9:13; lihat juga Yer. 31:12)

Lebih banyak keterkaitan yang dapat disebutkan, tetapi ini sudah memadai untuk memberikan pemahaman terhadap latar belakang yang luas tentang penggunaan roti dan anggur oleh Yesus sendiri. Bukan kebetulan bahwa dalam pelayanan-Nya, Yesus melipatgandakan keduanya (Yoh. 2:1–11; 6:1–14); menyamakan diri-Nya dengan kedua hal tersebut (Yoh. 6:35; 15:1); menyucikan keduanya untuk melayani seperti gereja-Nya dalam perjamuan perjanjian (Luk. 22:14–20); dan menjanjikan keduanya akan tersedia di masa yang akan datang (Luk. 22:18; Why. 2:17). Sebagai penopang hidup, pemberi karunia, pembuat perjanjian, pembawa akhir zaman, maka Yesus adalah Allah Israel yang menjadi manusia.

Namun, kita bisa lebih spesifik. Ketika Yesus mengambil roti dan cawan, Dia tidak hanya mengambil permadani yang luas dari sejarah dan wahyu dari PL, tetapi juga beberapa benang merah khusus yang sekarang diperjelas dan digenapi dalam diri-Nya.

Roti Paskah

Yesus menetapkan Perjamuan Tuhan pada hari yang sudah dipenuhi dengan makna yang luar biasa, yaitu Paskah Yahudi (Luk. 22:11). Selama berabad-abad, para keluarga Yahudi akan berkumpul pada hari Paskah untuk menyantap daging domba sembelihan; dengan sayur pahit dan roti tidak beragi; dan untuk mengingat-ingat kembali malam ketika darah korban melindungi mereka dari murka Allah (Kel. 12:7-13, 42). Allah telah mengayunkan lengan-Nya ke tanah Firaun, menghakimi musuh-musuh-Nya, dan menyelamatkan umat-Nya melalui pembebasan eksodus yang luar biasa. Maka, setiap tahun, bangsa Israel harus mengingat meskipun mereka pernah menjadi budak, namun kini mereka telah menjadi orang-orang yang ditebus Allah.

Namun pada Paskah ini, ketika Yesus berkumpul dengan para murid-Nya di ruang atas, Dia tidak melihat ke masa lalu, tetapi ke masa kini. Dia mengarahkan pandangan mereka bukan pada kurban anak domba, tetapi pada diri-Nya sendiri. Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya, ”Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu” (Luk. 22:19).

Dengan memposisikan Perjamuan-Nya ke perayaan Paskah Yahudi, Yesus melakukan sesuatu yang luar biasa. Dia memberi bagian-bagian yang mudah dikenali pada para murid-Nya untuk memahami perjamuan perjanjian-Nya bahkan ketika Dia memperluas bagian-bagian tersebut jauh melampaui keyakinan mereka. Seperti perjamuan Paskah Yahudi, maka Perjamuan Tuhan mengenang pembebasan di masa lalu dari perbudakan dan menyatakan barangsiapa yang ikut memakannya telah menjadi umat tebusan-Nya Allah. Berbeda dengan Paskah Yahudi, bagaimanapun juga, domba Perjamuan ini adalah Tuhan sendiri; yang darah-Nya melindungi kita tidak hanya untuk satu malam, tetapi untuk selama-lamanya (Ibr. 9:12). Kematian-Nya adalah sekali untuk selamanya – tidak terulang dan tidak dapat diulangi (Ibr. 9:26). Penebusan eksodus yang dikerjakan-Nya bukan menyelamatkan kita dari Firaun, melainkan dari dosa, maut, dan neraka (Kol. 1:13-14).

Setiap kali umat Allah memakan roti, maka kita mengatakan hal yang sama dengan Paulus, ”Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.” (1 Kor. 5:7). Kita merayakan hari raya berkat Allah yang tidak akan pernah berakhir (1Kor. 5:8).

Cawan Perjanjian

Cawan Perjamuan Tuhan, seperti halnya roti, juga memiliki kaitan dengan perjamuan Paskah Yahudi. Meskipun demikian, hal itu juga membawa kita ke adegan lain segera setelahnya. Setelah Israel meninggalkan Mesir, melewati Laut Merah, dan mendengar hukum Allah di Sinai, Musa memerciki mereka dengan darah kurban (Kel. 24:8). Mereka sekarang menjadi umat Allah berdasarkan perjanjian. Elohim sendiri yang menjadi Allahnya mereka (Kel. 6:7).

Yesus, mengingat peristiwa perjanjian tersebut, memberikan darah-anggur merah pada para murid-Nya dan berkata, ”Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk. 22:20). Pada bagian ini, sekali lagi, Yesus menjelaskan Perjamuan Tuhan dengan bagian-bagian yang sudah dikenali — dan pada bagian ini, sekali lagi, Dia memperluasnya secara menakjubkan. Karena darah dan perjanjian-Nya jauh-jauh lebih baik.

Dalam cawan ini, kita tidak menerima darah kambing dan anak sapi, ”yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa” (Ibr. 10:11), tetapi ”darah yang mahal, yaitu darah Kristus” itu sendiri (1 Pet. 1:19). Darah Yesus tidak hanya menyucikan tubuh, tetapi juga membersihkan hati nurani (Ibr. 9:14); tidak hanya menutupi dosa untuk sementara waktu, tetapi juga mengampuninya untuk selama-lamanya (Efe. 1:7; 1 Yoh. 1:7). Darah-Nya ”berbicara lebih kuat dari pada darah Habel” (Ibr. 12:24) karena darah-Nya tidak memohon pembalasan, tetapi belas kasihan. Dengan darah-Nya, Yesus menjamin kekekalan bagi umat-Nya: suatu ”kelepasan yang kekal” yang menghasilkan ”wasiat” yang terikat dalam ”perjanjian yang kekal” (Ibr. 9:12,16; 13:20).

Atau, seperti yang dikatakan Yesus, menyinggung Yeremia, darah-Nya membeli ”perjanjian baru” (Luk. 22:20; Yer. 31:31) – dan memang yang ”lebih baik”, ””yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi” (Ibr. 8:6, AYT). Di bawah perjanjian yang baru, Allah menulis hukum-Nya bukan di atas batu, melainkan di dalam hati. Dia akan dikenali baik oleh yang paling besar maupun yang paling kecil. Dia bersumpah untuk perjanjian-untuk-melupakan yang sama mulianya dan sekaligus ilahi: ”… Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” (Yer. 31:33–34).

Semua itu karena Yesus, Tuhan kita yang begitu berharga, telah merebut cawan penghakiman dari bibir kita dan menukarnya dengan cawan berkat-Nya sendiri. Di atas kayu salib, Dia minum ”dari tangan TUHAN isi piala kehangatan murka-Nya,” yang mengerikan ”cangkir yang memusingkan!” (Yes. 51:17,22), sehingga (di tangan kita) itu bisa menjadi “cawan berkat” (1 Kor. 10:16, AYT). Oh, betapa penuh melimpahnya (Maz. 23:5).

Bagian-dan-Cawan Kita

Roti dan anggur; potongan roti dan cawan. Keduanya tidak bisa lagi terlihat biasa-biasa saja, tetapi juga tidak bisa lagi memuat lebih banyak kemuliaan. Keduanya cukup kecil untuk digenggam di dalam telapak tangan, namun cukup besar untuk menggenggam dunia. Kita memakan dan meminumnya dalam sekejap, tetapi momen ini yang membungkus keduanya. Masa lalu dan masa depan dalam genggamannya (1 Kor. 11:26).

Kata apa yang kita temukan terukir pada unsur-unsur ini? Suara apakah yang terdengar dari Perjamuan ini? Singkatnya: di dalam Yesus Kristus, Roti Hidup dan Anggur sejati kita, Allah telah melindungi kita dari murka-Nya; membebaskan kita dari dosa dan Iblis; dan mengikat kita pada diri-Nya dalam sebuah perjanjian yang tidak akan pernah dapat dilanggar.

Maka, ambilah dan makanlah. Ambil dan minumlah. Kecaplah perjanjian akan kasih Kristus.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Why Bread and Wine?
 Enjoying the Meal Above All Meals
."

You may also like...

Tinggalkan Balasan