Duduk di Kaki Mereka yang Sedang Berdukacita

Akhir Hidup Seperti Apa Mengajarkan Mereka yang Masih Hidup

 

2 Maret 2023
Artikel oleh Jon Bloom
Staf penulis, desiringGod.org

Hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.

Saya menyadari bahwa ini adalah cara yang mendadak untuk memulai sebuah artikel, namun begitulah caranya si pengkhotbah memulai Kitab Pengkhotbah pasal 7. Tidak memaksa masuk. Dia hanya mendorong kita ke titik terdalamnya kolam-eksistensial. Jadi, di sinilah kita. Apa pendapat Anda tentang pernyataannya si pengkhotbah? Apakah Anda setuju dengannya? 

Pernyataan ini menjadi lebih meresahkan ketika kita menyadari bahwa si pengkhotbah tidak berbicara tentang kematian kita , tetapi mengenai kematian orang-orang yang kita kenal dan cintai – kematian yang kita alami sebagai kehilangan. Dia berbicara tentang kematian kakek-nenek, orangtua, saudara kandung, pasangan, anak-anak, anggota keluarga besar, teman, kolega, dan tetangga kita. 

Pikirkanlah hal itu sejenak. Apakah si pengkhotbah – dan Allah melalui si pengkhotbah – benar-benar mengatakan bahwa hari ketika kita menangisi kematian orang yang kita kasihi lebih baik daripada hari kita tertawa kegirangan atas bayi yang baru lahir dari orang yang kita kasihi? Ya, memang benar seperti itu. Namun, yang dimaksudkannya dalam arti yang terbatas-dan-spesifik.

Apa yang Dinyatakan Oleh Kematian

Kita dapat melihat apa yang dimaksud oleh si pengkhotbah dengan membaca lebih jauh konteksnya:

Nama yang harum baik lebih baik dari pada minyak yang mahal, 
dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran. 
Pergi ke rumah duka lebih baik 
dari pada pergi ke rumah pesta, 
karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; 
hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. 
Bersedih lebih baik dari pada tertawa, 
karena muka muram membuat hati lega.  
Orang berhikmat senang berada di rumah duka,  
tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria (Pkh. 7:1–4)

Hal ini memperjelas maksudnya si pengkhotbah. Hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran dalam arti bahwa kematian berbicara kepada kita dengan cara yang tidak dilakukan oleh kelahiran. Karena kematian berkata,

“Anda juga akan mati bahkan mungkin lebih cepat dari yang Anda kira.” Demikian pula setiap orang yang Anda kasihi dan setiap pelayat yang memberikan penghormatan kepada orang yang Anda kasihi yang akhir hidupnya telah tiba tersebut. Jika Anda berhikmat, maka Anda akan mengingat hal ini dan menjalani hidup dengan memikirkan tujuannya Anda. 

Itu bukanlah pesan yang didengar siapa pun ketika berlangsungnya perayaan bagi seorang wanita yang sedang hamil tua (baby shower).

Caranya Hikmat-Kebijaksanaan yang Berlawanan dengan Intuitif

Ketika kita membaca literatur hikmat dalam Alkitab, kita melihat motif yang aneh ini: kita memperoleh hikmat dengan memberikan perhatian yang cermat; dan belajar untuk menerima hal-hal yang sebenarnya ingin kita hindari. 

  • Kita lebih suka menghindari ketidaknyamanan yang memerlukan disiplin/didikan, namun kita melihat bahwa “siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan” (Ams. 12:1). 
  • Kita lebih memilih untuk menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan dan merendahkan hati ketika dikoreksi, namun kita melihat bahwa “siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran memperoleh akal budi” (Ams. 15:32). 
  • Kita tentunya lebih suka memilih untuk menghindari teguran yang lebih menyakitkan hati, namun kita mendengar orang bijak berkata, “Biarlah orang benar memalu dan menghukum aku; itulah kasih; tetapi janganlah minyak orang fasik menghiasi kepalaku!…” (Maz. 141:5). 
  • Kita sebenarnya lebih suka menghindari jenis penderitaan apa pun, namun kita mendengar orang bijak lainnya berkata, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku mempelajari ketetapan-ketetapan-Mu” (Maz. 119:71).

Jalan hikmat-kebijaksanaan sering kali memang berlawanan dengan intuisi. Kita harus belajar untuk mencintai didikan dari guru yang secara intuitif kita takuti karena mereka mempunyai pelajaran yang kita tidak dapat hidup tanpanya. Itu sebabnya, ketika berhubungan dengan acara baby shower dan pemakaman, si pengkhotbah mengatakan, “Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria” (Pkh. 7:4). 

Namun, bukan berarti kita bodoh ketika merayakan kelahiran bayi. Karena si pengkhotbah juga berkata, “Untuk segala sesuatu ada masanya,” yang berarti termasuk “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal” dan Allah “telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pkh. 3:1–2, 11 ). Ada saatnya untuk menikmati indahnya hidup yang baru. Namun, si pengkhotbah bermaksud untuk mengatakan bahwa kita adalah orang-orang bodoh jika (karena kita takut akan kematian) kita menghindari untuk mendengarkan berbagai didikannya yang menyedihkan dengan membiarkan diri kita teralihkan-dan-terhibur dalam rumah-rumah yang penuh kegembiraan. Karena orang bijak akan menemukan bahwa sumber kehidupan yang penting mengalir dari apa yang kita pelajari di rumah duka.

Akhir Seperti Apa yang Terungkap

Si pengkhotbah juga ingin kita tahu bahwa kita adalah orang yang bijaksana untuk mendengarkan dengan cermat tidak hanya mengenai apa yang diajarkan oleh kematian kepada kita, tetapi juga mengenai apa yang diajarkan oleh setiap titik akhir yang signifikan kepada kita. Itu sebabnya ia memperluas fokusnya dari kematian dengan mencakup berbagai titik akhir secara umum: “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya…” (Pkh. 7:8).

Dia mengatakan hal ini bukan hanya karena setiap titik akhir yang penting dalam hidup kita membawa gaung pesan kematian, namun juga karena titik akhir dari suatu hal menyingkapkan apa yang awalnya tersembunyi . Meskipun sebuah permulaan membuat kita penuh pengharapan dengan menjanjikan masa depan yang lebih baik, kita hanya akan mengetahui ketika sudah sampai di titik akhirnya apakah janji tersebut (atau pembuat janji tersebut) benar-benar layak menerima pengharapan yang kita miliki. Akhir yang signifikan juga sering mengungkapkan keadaan rohani hati kita yang sesungguhnya — apa yang benar-benar kita percayai; apa yang benar-benar memberi kita pengharapan; dan apa yang benar-benar kita hargai. 

Inilah salah satu contoh akhir-yang-mengungkapkan sesuatu.

Kematian Dari Sebuah Janji

Suatu hari, bertahun-tahun yang lalu, ketika saudaranya saya dan saya sedang mencuci jendela untuk melanjutkan kuliah (saya) dan seminari (saudara laki-laki saya), kami bekerja di rumah sepasang suami istri lanjut usia yang kaya. Si suami telah mencapai kesuksesan karir yang luar biasa sebagai pendiri sebuah perusahaan yang mengelola jaringan supermarket besar yang kemudian diserahkan kepada anak-anaknya ketika ia pensiun. Dia telah mencapai impian Amerika. 

Namun, ternyata dia adalah seorang pria yang masam, depresi, pemarah, dan getir. Pada suatu saat, setelah dia mengatakan sesuatu yang kasar kepada kami dan berjalan dengan susah payah, istrinya datang dan meminta maaf. Ternyata, si istri justru sebaliknya: ceria, ceria, ramah, dan baik hati. Saat kami berbincang, kami mengetahui bahwa dia adalah seorang saudari dalam Kristus dan memiliki iman yang sungguh-sungguh dan bersemangat. Dia diam-diam menceritakan kepada kami rasa sakit hatinya yang mendalam atas penolakan suaminya terhadap Kristus dan keprihatinannya atas depresi berat yang dialami suaminya; yang terjadi ketika kapasitas dan kesehatan suaminya yang menurun tersebut memaksa suaminya untuk melepaskan kepemimpinan dan pengaruhnya di perusahaan yang dicintainya. Ketika kariernya berakhir, begitu pula tujuan-yang-berarti dalam hidupnya. Ketika kami kelar membersihkan jendelanya, kami berdoa bersamanya dan untuknya. 

Tahun berikutnya, ketika wanita itu mempekerjakan kami lagi, dia sudah sendirian. Suaminya, yang tidak punya [tujuan] apa-apa lagi baginya untuk menjalani hidup, telah meninggal. Dia sedang berdukacita. Namun, pengharapannya pada Kristus itu kuat; dan kedamaiannya melampaui pemahamannya manusia. 

Tak diragukan lagi, si suami mengawali kariernya dengan energi penuh pengharapan akan masa depan yang menjanjikan. Namun, pada akhirnya terungkap bahwa tanggal berakhirnya janji ini sama dengan tanggal berakhirnya kariernya. Ketika hal itu berakhir, sisa kemakmuran dan prestisenya menjadi kosong; tidak memiliki masa depan dan pengharapan.

Apakah Anda Memperhatikan?

Si pengkhotbah mengetahui betapa tertariknya kita pada nyanyian sirene penuh pengharapan yang terdengar dari rumah-rumah kegembiraan; dan betapa jijiknya kita terhadap nyanyian menakutkan yang berasal dari berbagai rumah duka. Namun, ia juga mengetahui betapa menipunya nyanyian sirene tersebut; dan bagaimana berbagai nyanyian menakutkan tersebut justru dapat membawa kita kepada Sang Sumber mata air kehidupan.

Jadi, dalam Kitab Pengkhotbah pasal 7, ia mendorong kita ke titik terdalamnya kolam dengan menyatakan bahwa hari kematian lebih baik daripada hari kelahiran; dan akhir suatu hal lebih baik daripada permulaannya. Dengan kata lain, “Sebaiknya Anda memperhatikan dengan cermat apa yang diceritakan oleh akhir ceritanya Anda, terutama ketika Anda menghadapi kematian. Instruktur yang menakutkan ini akan membuat Anda bijaksana jika Anda mendengarkan mereka. Namun, jika Anda mengabaikannya, maka Anda akan menanggung risikonya sendiri. 

Si pengkhotbah meninggalkan sebuah pertanyaan implisit untuk dijawab oleh kita masing-masing: Apa yang diungkapkan oleh akhir ceritanya Anda? Karena ketika kita memberikan perhatian yang cermat, maka berbagai hal tersebut akan mengungkapkan kepada kita mengenai apa yang benar-benar kita yakini; apa yang benar-benar menjadi sumber pengharapan kita; dan apa yang sebenarnya merupakan harta terbesar kita. Itu adalah pelajaran yang penting untuk dipelajari. Karena apa yang akan kita bawa setelah kematian hanyalah iman, pengharapan, dan kasihnya kita.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Sit at the Feet of Loss: What Endings Teach the Living."

You may also like...

Tinggalkan Balasan