Matius 1:18-25 (Bahasa Indonesia)

Ketahui cara penggunaan skrip pemuridan ini.

Baca bahan sebelumnya: Matius 1:1-17.

Melalui silsilah di Mat. 1:1-17, Matius membuktikan kalau Yesus sungguh-sungguh adalah Anak Daud. Orang Yahudi meyakini kalau Sang Mesias, Sang Raja, sudah pasti merupakan keturunan dari Daud; tunas Isai (nama ayahnya Daud); Anak Daud. Karena Yesus adalah Sang Mesias, maka penting bagi Matius untuk membuktikan kalau Yesus adalah Anak Daud.

Meskipun begitu, orang Yahudi sama sekali tidak punya pemahaman/konsep kalau Sang Mesias adalah Allah yang menjadi daging (manusia). Sang Mesias diyakini hanyalah seorang manusia biasa seperti Daud dahulu. Kebudayaan kuno menganggap daging (tubuh) ini jahat. Roh manusia dianggap terkurung dalam ”penjara” (tubuh) yang serba terbatas ini. Kebudayaan saat itu justru berpikir bagaimana roh manusia bisa melepaskan diri dari ”penjara” ini. Lah, ini mengapa Allah Yang Mahakuasa malah mau menjadi manusia?

Karena itu, pernyataan Matius di ayat 18 kalau Maria ”mengandung dari Roh Kudus” adalah hal yang begitu ”sulit” untuk bisa diterima orang Yahudi, bahkan sampai dengan hari ini. Matius kembali menegaskan soal ini di ayat 20, melalui percakapan malaikat dengan Yusuf, kalau ”anak yang di dalam kandungannya [Maria] adalah dari Roh Kudus.” Melalui Mat. 1:18-25 ini, kelahiran Yesus dinyatakan Matius secara tegas sebagai karya supranatural. Karena itu, Yesus sungguh-sungguh manusia (truly man) dan sungguh-sungguh Allah (truly God) sehingga Ia kekal dan tanpa natur dosa sama sekali (Yoh. 1:14; 2 Kor. 5:21; 1 Tim. 3:16; Ibr. 4:15; 1 Pet. 2:22; 1 Yoh. 3:5). Karena tidak melibatkan sperma pria, Yesus tidak dikandung dalam dosa sehingga tidak punya natur dosa (Ibr. 7:26). Natur dosa, secara tersirat, dinyatakan Alkitab sepertinya diturunkan melalui pria (Rom. 5:12,17, 19). Kelahiran-melalui-perawan (virgin birth) ini yang sepertinya, entah bagaimana, memungkinkan Yesus, sebagai Allah-yang-menjadi-manusia, bisa dikandung tanpa dosa dan dilahirkan tanpa natur dosa.

Pertama, terkait kelahiran-melalui-perawan, Matius dengan tegas menyatakan kalau tidak ada sperma pria yang terlibat dalam kehamilan Maria. Dalam ayat 16, Yusuf disebut sebagai ”suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” Yusuf tidak pernah dinyatakan sebagai ”Yusuf memperanakkan Yesus”. Jadi, kehamilan Maria tidak melalui proses biologis seperti halnya manusia lain.

Kedua, Maria dinyatakan sudah mengandung sebelum ia dan Yusuf ”hidup sebagai suami istri” (ay. 18). Perkawinan orang Yahudi saat itu terdiri dari dua tahap, yaitu kiddushin dan nissu’in. Kiddushin adalah tahap di mana dilakukan perjanjian nikah dan pembayaran mōhar (mas kawin) kepada mempelai perempuan. Ikatan tersebut merupakan kontrak perkawinan yang sah dan hanya dapat dibatalkan secara hukum melalui perceraian. Pada tahap pertama ini, kedua mempelai telah resmi sebagai suami istri, namun belum hidup dalam satu rumah dan tidak boleh melakukan hubungan seksual. Biasanya, setelah satu tahun berlalu barulah tahap nissu’in akan berlangsung.

Ketika Maria mengandung, mereka masih berada di tahap kiddushin ini. Pernyataan kalau Yusuf kemudian ”mengambil Maria sebagai istrinya [melangsungkan nissu’in], tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki” menegaskan soal ini (Mat. 1:24-25).

Ketiga, pola “the formula-quotations” yang dipakai Matius juga menegaskan keperawanan Maria ketika mengandung Yesus.

Mat 1:22 = “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi”
Mat. 1:23 = Kutipan dari Yesaya 7:14.

Dalam Yes. 7:14, kata ”perempuan muda” diterjemahkan dari kata Ibrani ”alma.” Walaupun kata ”alma” ini lebih tepat diterjemahkan sebagai ”perawan” (virgin), LAI menerjemahkannya sebagai ”perempuan muda”. Sebagai perbandingan, Alkitab versi ESV dan NIV sudah menerjemahkan ”alma” sebagai ”virgin” (perawan). Terjemahan ”perempuan muda” memberi ruang untuk kesalahan persepsi karena perempuan muda belum tentu masih perawan.

Dalam Injilnya, Matius memakai kata Yunani ”parthenos” sebagai terjemahan bagi ”alma.” ”Parthenos” tidak mungkin bisa disalahartikan selain berarti ”perawan.” Itulah mengapa LAI menerjemahkan kata ”alma,” yang dikutip dari Yes. 7:14, di Mat. 1:23 sebagai ”anak dara.”

Kelahiran-melalui-perawan adalah salah satu dasar iman bagi orang Kristen. Jika Saudara tidak 100% meyakini kelahiran-melalui-perawan ini, maka Saudara mungkin diam-diam sudah meragukan keilahian Yesus Kristus. Keyakinan 99,9% mengenai hal ini tidak memadai (sufficient), harus 100% percaya. Entah Saudara percaya 100%, atau tidak sama sekali.

Kalau kelahiran-melalui-perawan ini tidak benar, maka Yesus pasti punya ayah biologis seperti halnya kita semua. Kalau Yesus punya ayah biologis, berarti Yesus bukan Allah. Kalau Yesus bukan Allah, maka seluruh isi Perjanjian Baru (PB) adalah dongeng belaka. Itu hanyalah sebuah mitos.

Banyak pihak yang berusaha menggoyang iman Kristen dengan berusaha membuktikan kalau kelahiran-melalui-perawan ini bukanlah fakta sejarah, namun semata-mata merupakan hasil imajinasi Matius sendiri. Sejak abad pertama, orang-orang Yahudi sepertinya juga sudah mengembuskan kabar bahwa Yesus adalah anak yang lahir dari perzinahan (Yoh. 8:41) Bahkan sempat ada pandangan yang menyatakan kalau Maria diperkosa oleh tentara Romawi sehingga terpaksa melahirkan Yesus.

Semua ini adalah upaya Iblis untuk meruntuhkan iman orang percaya. Jika Saudara bisa dibuat ragu-ragu mengenai kelahiran-melalui-perawan ini, maka Saudara akan mulai meragukan kebenaran Alkitab di bagian lainnya. Satu bagian runtuh, maka semua bagian akan ikut runtuh.

Misi Yesus di dunia ini jelas. Dari namanya, sejak pasal 1 di Injil Matius, misi-Nya sudah dinyatakan dengan terang-terangan yaitu untuk ”menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”. Nama ”Yesus” berasal dari bahasa Latin ”Iesus”, yang merupakan terjemahan dari kata Yunani ”Iesous”. Kata Yunani ini diterjemahkan dari kata Ibrani ”Yeshua”, yang merupakan variasi dari nama ”Yosua”. Dari akar katanya, nama “”Yesus” berarti “Allah menyelamatkan” (”Yahweh is salvation” atau ”O save, Yahweh”).

Hanya Allah-yang-menjadi-manusia yang bisa melakukan misi ini. Manusia biasa, rabi seagung apa pun, tidak bisa menjalani misi seperti ini. Manusia biasa tidak mungkin pernah bisa menjadi Allah. Namun, mengapa kita membatasi Allah dengan menganggap-Nya tidak mungkin bisa menjadi manusia? (Kej. 18:14; Yer. 32:27; Zak. 8:6). Bukankah berdaulat berarti suka-suka Dia? (Mzm. 115:3; Ams. 21:1; Dan. 4:35).

Jadi, anak siapakah Yesus? Anak Allah. Yesus adalah Allah Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal. Yesus sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Yesus adalah Allah-yang-menjadi-manusia. Mat. 1:1-17 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh manusia (truly man). Mat. 1:18-25 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh Allah (truly God). Mat. 1:1-25 membuktikan kalau Ia sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah (truly man, truly God).

PERTANYAAN PENUNTUN
1. Mengapa Saudara harus percaya 100% tentang kelahiran-melalui-perawan?

2. Mengapa Saudara harus percaya kalau Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah?

Unduh dokumen Skrip Pemuridan ini.

Baca versi Bahasa Inggris.

You may also like...

Tinggalkan Balasan