Iman Saya Kandas: Apakah Saya Binasa?

13 Februari 2023
Wawancara dengan John Piper
Pendiri & Pengajar, desiringGod.org


Transkrip Audio

Pada bulan Oktober tahun lalu, kita membahas tentang iman yang kandas. Khususnya, bagaimana orang membuat iman mereka kandas? Apa yang menyebabkannya? Dan dalam APJ 1849 (catatan: Ask Pastor John episode 1849), Pendeta John, Anda mendefinisikan iman yang kandas sebagai seseorang yang pada awalnya menjalani kehidupan Kristen, tetapi kemudian perlahan-lahan terseret menjauh karena hati mereka semakin memilih dosa daripada Kristus. Ini adalah masalah kecenderungan hati. Hati yang jatuh cinta dengan kekayaan, atau hati yang jatuh cinta dengan dunia pada zaman ini dan segala keinginannya, sehingga menolak hati nuraninya yang murni dan menjadi cemar oleh dosa dunia ini. Pada dasarnya, iman yang kandas adalah keinginan hati yang sudah rusak. Namun, kadang-kadang ketika kita berbicara tentang iman yang kandas, kita menganggap keadaan ini adalah salah satu kehancuran akhir – seperti tidak ada harapan untuk kembali. Semua sudah berakhir. Anda kandas, atau Anda tidak kandas. 

Itu membawa kita pada email hari ini yang dikirim oleh seorang pendengar kita yang bernama Jacob. “Pendeta John, terima kasih untuk semua pelayanan Anda dan untuk semangat Anda terhadap Injil! Pertanyaan saya adalah: Apakah ada harapan bagi mereka yang imannya sudah kandas? Saya yakin saya sudah melakukan apa yang 1 Timotius 1:19 gambarkan terjadi pada mereka yang sudah menolak hati nuraninya yang murni. Saya merasa persekutuan saya dengan Tuhan kering dan terhalang selama hampir 6 bulan karena dosa-dosa pribadi saya. Dapatkah iman yang kandas diselamatkan?”

Saya pikir tidak alkitabiah; tidak beralasan; dan tidak menolong jika saya mengatakan kepada Jacob bahwa tidak ada harapan baginya. Enam bulan hidup dalam dosa, ketidaktaatan dan jauh dari Allah bukanlah tanda yang pasti bahwa tidak ada lagi pengharapan bagi Jacob. Izinkan saya memberikan empat alasan dari Alkitab yang membesarkan hati dan yang saya katakan demi Jacob – dan juga bagi orang lain yang tidak diragukan lagi sedang mengalami kondisi yang sama – dan kita akan menutupnya dengan sebuah wanti-wanti yang serius dan sebuah nasihat yang penuh harapan. 

Diserahkan Untuk Didisiplinkan

Pertama, mari kita perhatikan konteks yang dimaksudkan Paulus dalam 1 Tim. 1:19-20. Konteksnya sangat penuh dengan pengharapan, bukan keputusasaan, ketika dia berbicara tentang iman yang kandas. Dia berkata, ”Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.” 

Paulus mengenal kedua orang ini. Dia mengenal mereka dan berkata bahwa iman mereka kandas dengan cara menolak hati nurani mereka; bahwa Paulus menyerahkan mereka kepada Iblis. Namun, mengapa begitu? Mengapa dia menyerahkan mereka? Tidak dikatakan bahwa dia menyerahkan mereka pada hukuman akhir. Dikatakan bahwa dia menyerahkan mereka pada Iblis supaya mereka ”belajar”. Kata yang dipakai adalah paideuō, yang berarti ”memberi instruksi, melatih, mendisiplin”. Jadi, Paulus menyerahkan mereka untuk diberi instruksi; untuk dilatih; untuk didisiplinkan. Ini bukan sebuah kata penghakiman atau penghukuman akhir.  Ini adalah sebuah kata yang merujuk pada perbaikan, peningkatan dan pengharapan.

Hal lain yang mendukung interpretasi yang baru saya berikan adalah fakta bahwa ada satu bagian lain dalam tulisan-tulisan Paulus ketika dia berbicara tentang orang yang diserahkan kepada Iblis karena mereka berdosa dengan cara yang mengerikan. Dalam 1 Kor. 5:5, Paulus berkata, ”orang itu [yang melakukan dosa seksual yang mengerikan ini]  harus kita serahkan  dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Sekali lagi, tujuan dari menyerahkan orang itu pada Iblis adalah untuk keselamatannya; bukan untuk penghukumannya. Berarti, kandasnya iman yang ditanyakan Anda dalam 1 Timotius bukanlah mengenai kehancuran akhir. Ada harapan untuk mengubah haluan. Itu adalah argumen penuh pengharapan saya yang pertama.

Selamat dari Kapal Kandas

Kedua, mengapa Paulus menggunakan gambaran kapal yang kandas? Dia bisa saja menggunakan gambaran lain untuk menggambarkan kehancuran iman atau kerusakan iman. Mengapa dia menggunakan gambaran itu? Mereka menolak hati nurani. Mereka memilih hidup yang menolak hati nurani mereka; hidup dalam dosa. Karena itu, mereka meninggalkan iman mereka – setidaknya mereka tampak telah meninggalkan imannya – dan mereka telah berpaling. Apa arti kandas dalam pengalamannya Paulus?

Paulus menceritakannya kepada kita. Ini sangat menakjubkan. Saya tidak begitu menyadarinya sampai saya memikirkannya karena pertanyaan ini. Surat 2 Korintus 11:25 (AYT) berkata, ”Tiga kali aku dipukul dengan rotan, satu kali dilempari batu, tiga kali aku berada di kapal kandas, satu malam dan satu hari aku diseret ombak di laut.” Engkau bercanda? ”Tiga kali aku berada di kapal kandas. Itu sebelum terjadinya peristiwa kapal yang kandas dalam kitab Kisah Para Rasul (lihat Kis. 27). Jadi, bisa kita katakan Paulus mengalami kapal kandas setidaknya empat kali. ”Tiga kali aku berada di kapal kandas; satu malam dan satu hari aku diseret ombak di laut.” Paulus pasti berpikir, ”Tuhan, saya harus dianiaya di setiap kota, dan setiap saya naik kapal untuk ketiga kalinya, Engkau akan membuatnya tenggelam?”

Ada banyak kapal kandas dalam kehidupan sesingkat Paulus. Paulus sudah mengalami tiga kali kapal kandas bahkan sebelum apa yang terjadi di kitab Kisah Para Rasul. Salah satu di antaranya jelas membuat dia terseret ombak di laut, berpegangan pada puing-puing kapal selama satu hari dan satu malam, sebelum dia, apa – diselamatkan oleh kapal lain atau sampai di pantai? Saya tidak tahu. Luar biasa, tiga kali kapal kandas! Seolah-olah tidak cukup bahwa dia dianiaya di mana-mana dan mendapat masalah lainnya. 

Namun, ini terkait dengan pertanyaan Jacob. Kapal kandas dalam pengalaman Paulus bukan berarti merujuk pada kematian; bukan berarti merujuk pada penghakiman dan kematian. Itu merujuk pada kehilangan dan penderitaan. Itu bukanlah akhir (setidaknya dalam pengalaman Paulus). Itu bukanlah akhir. Tiga kali dia melewatinya dalam keadaan hidup. Dia tahu orang bisa selamat dari kapal yang kandas. Dia sudah mengalaminya tiga kali. Jadi, tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ketika dalam Surat 1 Timotius dia mengatakan ”kandaslah iman mereka”  maksudnya berarti: ”Itu adalah akhir dari iman. Tidak akan pernah kembali. Tidak bisa bertahan hidup. Tidak bisa bertahan satu hari dan satu malam di air. Tidak ada harapan bagi Himeneus dan Alexander. Tidak ada harapan bagi Jacob.” Tidak mungkin. Bukan itu yang dimaksud Paulus. Anda tidak bisa membantah hal tersebut dari kata kapal kandas.

Dari Tidak Berguna Menjadi Berguna 

Ketiga, salah satu kalimat yang paling indah dalam surat-surat Paulus adalah dalam 2 Tim. 4:11 ketika dia berkata pada Timotius, ”Hanya Lukas  yang tinggal dengan aku [ini adalah surat Paulus yang terakhir, tidak lama sebelum dia dibunuh].  Jemputlah Markus  dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.” Ini indah. Saya tahu bahwa ketika Yohanes Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas, serta menolak untuk melakukan perjalanan misi, kita tidak diberitahu apa alasannya. Kita tidak diberitahu bahwa itu adalah sebuah krisis iman; kapal yang sedikit kandas atau semacamnya. Kita tidak diberitahu detailnya. Kita tidak tahu mengapa Markus berpaling.

Yang kita tahu, Paulus menjadi sangat marah. Dia tidak senang dengan tindakan Markus. Dia menolak – sungguh-sungguh menolak hingga mengorbankan persahabatannya dengan Barnabas teman baiknya sendiri – untuk membawa Yohanes Markus dalam perjalanan misinya yang kedua. Lukas mengatakan hal itu menyebabkan ”perselisihan yang tajam” antara Barnabas dan Paulus (Kis. 15:39). Markus pasti merasa sangat terluka karena rasul yang besar ini. Bayangkan ini: seorang pemimpin Kristen favoritnya Anda berkata, ”Saya tidak akan bekerjasama dengan Anda. Anda mudah menyerah.” Ya ampun. Sungguh memalukan apa yang terjadi pada Yohanes Markus. 

Mungkin itu yang dirasakan Jacob ketika mengajukan pertanyaan ini pada kami. Mungkin dia merasa seperti, ”Aku benar-benar dibuang; seperti yang terjadi pada Yohanes Markus. Aku tidak akan berguna lagi.” Namun, hal yang membesarkan hati adalah bahwa pada bagian ini (di akhir hidupnya Paulus), baik Paulus maupun Markus (kemungkinan Markus) sudah berubah. Ada yang berubah. Markus tidak hanya berguna, tetapi sangat berguna. ”Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.” Saya menyebutkan hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa sudah ada (dan mungkin sudah ada saat ini), perubahan dramatis dalam kehidupan seseorang sehingga dari yang tadinya ditolak dan tidak berguna dapat berbalik dan menjadi diterima dan berguna. Itu alasan yang ketiga.

Tidak Lagi Menjadi Penyangkal

Ini yang keempat. Bayangkan malam di saat Petrus menyangkal Yesus tiga kali. Yesus memperingatkan Petrus bahwa hal ini akan terjadi. Petrus, alih-alih merendahkan dirinya dengan gemetar dan memohon pertolongan – ”Oh, jangan biarkan hal itu terjadi padaku, Yesus. Tolong, jangan biarkan hal itu terjadi padaku!” – dia justru yakin bahwa itu tidak akan terjadi. ”Aku tidak akan menyangkal Engkau – aku bersedia mati bersama-sama Engkau” (lihat Luk. 22:33). Inilah deskripsi Lukas tentang saat terakhir setelah penyangkalan Petrus yang ketiga kalinya. Ini sangat mengharukan.

Saat itu juga, selagi Petrus masih berbicara, ayam jantan pun berkokok. Lalu, Yesus berpaling dan memandang Petrus. Petrus pun teringat akan perkataan Yesus, bahwa Dia berkata kepadanya, “Sebelum ayam jantan berkokok hari ini, kamu sudah menyangkali Aku sebanyak tiga kali.” Kemudian, Petrus keluar dan menangis dengan amat sedih (Luk. 22:60-62, AYT).

Tentu ini adalah sebuah kapal yang kandas. Tiga kali dia menyangkal Tuhan yang mulia setelah tiga tahun lamanya mengalami kemuliaan, keindahan, kasih, dan kesabaran-Nya – tiga kali dalam satu jam penderitaan dan kesendirian-Nya yang terbesar. Petrus tahu kalau Tuhan telah melihat hal tersebut. Dia melihat hal itu terjadi. Hanya saja tidak muncul pertanyaan. ”Yesus tahu apa yang baru saja saya lakukan. Dia melihat saya dan tahu apa yang baru saja saya lakukan.” Karena itu, Petrus pasti merasa sangat bersalah. Rasa malu yang dirasakannya ketika menangis dengan amat sedih pastilah sangat besar. 

Kemudian (seperti yang kita ketahui dari Injil Yohanes), setelah kebangkitan-Nya, Tuhan menemui Petrus dan bertanya tiga kali (bukan kebetulan) pada Petrus, ”Apakah engkau mengasihi aku?” Sesudah Yesus mendengar Petrus menjawab ”ya” setiap kali Dia menanyakan tiga pertanyaan tersebut, Yesus berkata, ”Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15-17). Engkau telah kembali, Petrus – engkau telah kembali. Luar biasa. Betul-betul luar biasa. Kapal imannya kandas. Memang itulah yang terjadi. Namun, tidak betul-betul kandas; bukan akhir dari segalanya. Yesus menyambutnya kembali.

Dia Menyambut Semua yang Datang

Pernyataan saya yang kelima, yang menurut saya akan menjadi peringatan yang serius dan nasihat tentang pengharapan, diambil dari Surat Ibrani 12. Mengenai Esau. Dikatakan, ”Pastikan supaya … jangan ada orang yang berbuat cabul atau tidak suci seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk makanan. Sebab kamu tahu bahwa di kemudian hari, ketika Esau menginginkan warisan berkat itu, ia ditolak …” Saya katakan sekali lagi, karena ini serius. ”Kamu tahu bahwa di kemudian hari, ketika Esau menginginkan warisan berkat itu, ia ditolak dan tidak ada lagi kesempatan untuk bertobat sekalipun ia mencarinya [yaitu pertobatan] dengan mencucurkan air mata” (Ibr. 12:15-17, AYT). Ini peringatan yang serius. Adalah mungkin bagi seseorang ketika imannya menjadi kandas seperti Esau dan tidak pernah diselamatkan. Itu adalah sebuah peringatan yang serius. 

Namun, inilah kebenaran yang penuh harapan dan nasihat dari saya. Ayat ini tidak berkata, ”Meskipun dia bertobat, Allah menahan berkat itu.” Bukan itu yang dikatakan ayat tersebut. Dikatakan Esau mencari pertobatan dengan mencucurkan air mata dan dia tidak dapat menemukannya. Dia tidak dapat melakukannya. Ini adalah kekandasan yang final sehingga di sana tidak ada keselamatan. Kita sudah berdosa sangat lama (atau sangat dalam) sehingga tidak lagi bisa bertobat. Kita tidak bisa. Hati kita menjadi terlalu keras.

Namun, mengenai pengharapannya jelas, bukan? Itu dinyatakan dengan jelas: jika Anda bertobat – jika oleh kasih karunia-Nya Allah hingga Anda dapat berbalik; dan meninggalkan dosa Anda; dan datang pada Kristus; dan menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan dan harta – maka Dia akan menerima Anda. ”Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Rom. 10:13).  Jadi, nasihat untuk Jacob – dan setiap orang yang sedang mendengarkan dan berada di dalam situasi seperti Jacob – adalah: datanglah pada Kristus. Kembalilah. Jika Anda kembali, maka Dia akan menerima Anda.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "I SHIPWRECKED MY FAITH – AM I DOOMED?."

You may also like...

Tinggalkan Balasan