Empat Kebohongan Tentang Produktivitas

8 Desember 2015
Artikel oleh Tim Challies
Blogger di www.challies.com

Bukanlah kita semua mulai sedikit bosan dengan berbagai buku dan artikel tentang produktivitas? Namun, kita tertarik pada semua itu karena kita tahu bahwa kita ada di bumi untuk sebuah tujuan. Berbagai bahan itu menjanjikan bantuan bagi kita untuk menemukan-dan-menghidupi tujuan tersebut.

Namun, hanya sedikit sekali bantuan yang bisa didapatkan darinya. Kita membacanya, menjadi bersemangat, lalu dua bulan kemudian kita menyadari kalau kita sebenarnya belum melihat banyak perubahan yang bertahan lama.

Saya sudah menginvestasikan banyak usaha untuk mengerti tentang produktivitas dan menjadikannya sebagai prioritas dalam hidup saya. Akhirnya, saya bisa berdamai dengan hal itu. Namun, saya hanya bisa berdamai sesudah saya menemukan beberapa kebohongan umum tentang produktivitas.

Kebohongan #1: Produktivitas Adalah Sebuah Pengejaran yang Tidak Kristiani

Rak-rak di toko buku mengerang menahan berat buku-buku tentang produktivitas yang tak terhitung banyaknya. Setiap beberapa bulan sekali, kita mendengar akan ada buku bagus yang berikutnya, tren besar yang berikutnya, rencana besar yang berikutnya. Selalu ada seseorang yang ingin sekali menjual sesuatu yang baru dan belum ada sebelumnya. Namun, kebanyakan buku-buku tersebut memandang produktivitas dari sudut pandang yang egois. Buku-buku itu mengajarkan kita untuk memimpikan hidup seperti yang kita inginkan; mendefinisikan sukses dengan cara kita; dan menggambarkan tujuan tersebut hingga bagaimana caranya kita bisa mencapainya. Buku-buku tersebut mengajarkan bahwa produktivitas adalah cara untuk mendapat kepuasan hidup sesuai dengan yang kita inginkan.

Sebagai orang Kristen, kita tahu yang lebih baik. Kita tahu bahwa produktivitas bisa menjadi penyembahan berhala yang menyesatkan. Hal itu bisa menyesatkan kita dengan cara menjanjikan kehidupan yang kita pikir kita inginkan; kehidupan yang kita yakini akan membawa kepuasan. Sebagai orang Kristen, kita perlu menolak sebagian besar buku-buku ini (dan memang seharusnya demikian). Sebaliknya, tidak ada gunanya ketika kita membuang hal yang tidak baik, hal yang baiknya juga ikut terbuang. Kita tidak perlu menolak mengenai produktivitas – kita hanya perlu menolak mengenai bentuk-bentuk yang salah arah itu. 

Sebagai orang Kristen, kita bergantung pada hikmat yang berasal dari luar dunia ini. Kita bergantung pada firman Tuhan yang sempurna-dan-kekal. Melalui Alkitab, Allah mendefinisikan produktivitas untuk kita. Dia berkata, ”Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan  Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). Ini adalah cara-Nya Allah mendefinisikan apa artinya menjadi produktif – memuliakan Allah melalui perbuatan baik. Produktivitas tidak akan membawa kedamaian di dalam hati; tidak akan membawa kepuasan. Sebaliknya, kepuasan mengalir dari kedamaian-dan-kepuasan yang sudah kita miliki di dalam Kristus.

Jika benar bahwa tujuan dari produktivitas adalah memuliakan Allah dengan jalan melakukan perbuatan baik, maka produktivitas bukanlah sebuah pengejaran yang tidak kristiani, tetapi justru pengejaran orang Kristen yang paling dalam. Itu adalah sebuah pengejaran yang seharusnya memberi arah bagi kehidupan kita; hari-hari kita; dan waktu kita.

Kebohongan #2: Produktivitas Hanya Untuk Para Profesional

Hampir seluruh buku mengenai produktivitas ditulis untuk para profesional yang sibuk. Buku-buku itu dipasarkan kepada CEO yang sukses dan agen properti yang sedang kebingungan. Adalah gampang untuk percaya bahwa produktivitas merupakan sesuatu yang hanya perlu dikejar oleh para profesional sehingga kita tidak perlu direpotkan dengan berbagai hal seperti itu. 

Namun, begitu kita mendefinisikan produktivitas sebagai perbuatan baik untuk memuliakan Allah, maka hal ini menjadi sesuatu yang perlu dikejar oleh setiap orang Kristen. Produktivitas berlaku untuk para profesional dan pelajar, pendeta dan tukang pipa, ayah yang bekerja dari rumah dan ibu yang tinggal di rumah. Produktivitas juga berlaku untuk mereka yang sedang mencari pekerjaan; mereka yang sedang bekerja; dan mereka yang sudah pensiun dari pekerjaan mereka.

Ini adalah panggilan umum bagi semua umat Allah: Yesus ”yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Apakah Anda rajin berbuat baik? Jika ya, bagaimana Anda mengatur hidupnya Anda untuk memastikan kalau Anda sedang melakukan yang terbaik? 

Kebohongan #3: Produktivitas Hanya Tentang Pekerjaan Anda

Berbagai buku tentang produktivitas cenderung berfokus pada tempat kerja. Mereka mendorong kita untuk menjadi produktif pada area kehidupan yang paling kelihatan dan menghabiskan sebagian besar waktunya kita. Namun, buku seperti ini jarang berbicara tentang kaitannya dengan kehidupan berkeluarga atau dengan siapakah kita ketika sedang sendirian. Dalam pandangan mereka, produktivitas hanyalah mengenai urusan jam kantor.

Namun, jika produktivitas adalah perbuatan baik, itu hanya akan dimulai ketika kita meninggalkan kantor atau ruangan kelas. Kita bisa berbuat baik dalam seluruh aspek kehidupannya kita. Sebenarnya, kita dipanggil untuk berbuat baik dalam seluruh aspek kehidupan kita. ”Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Kor. 10:31). Jika makan dan minum saja bisa dilakukan untuk kemuliaan Allah, berapa banyak lagi yang bisa dilakukan untuk memuliakan-Nya dalam hubungan pertemanan kita; dalam urusan mengasuh dan mendidik anak; dalam mentoring dan pemuridan. ”Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal. 6:10).

Produktivitas adalah tentang bagaimana secara efektif mengelola berbagai karunia, talenta, waktu, tenaga, dan antusiasnya kita dalam melakukan perbuatan baik dan memuliakan Allah. Anda bisa melakukan hal ini di tempat kerja Anda, tetapi Anda bisa juga melakukan hal ini untuk keluarganya Anda; untuk teman-temannya Anda; untuk tetangga-tetangganya Anda. Anda bisa melakukan hal ini di depan mata orang banyak. Anda bisa melakukan hal ini ketika sedang sendirian. Produktivitas adalah pengejaran seumur hidup yang mencakup setiap area mengenai siapa kita dan apa yang kita lakukan.

Kebohongan #4: Produktivitas Berarti Menyelesaikan Banyak Hal

Kebanyakan dari kita cenderung untuk mengukur produktivitas melalui banyaknya aktivitas kita; melalui sejumlah hal yang bisa dicentang dari daftar-yang-harus-dikerjakan pada penghujung hari. Namun, yang terpenting dari produktivitas bukan tentang menyelesaikan berbagai macam hal, tetapi mengenai menyelesaikan hal-yang-benar. Pertanyaan berikutnya sudah jelas: Apakah hal yang benar itu? Hal yang benar itu adalah apa pun yang memenuhi panggilan Allah dalam melakukan perbuatan baik dan memuliakan-Nya.

Panggilan tersebut kemudian memanggil kita untuk mengevaluasi hidup kita dengan jujur, teliti, dan teratur untuk menanyakan pada diri kita sendiri apakah kita benar-benar telah melakukan apa yang benar-dan-terbaik. Apakah Anda telah mengalokasikan waktunya Anda dengan tepat? Apakah Anda telah menggunakan karunia dan talenta pemberiannya Allah untuk saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik? (Ibr. 10:24). Apakah Anda mengarahkan tenaga, bahkan antusiasnya Anda, pada hal-hal yang Allah ingin Anda kerjakan? Apakah Anda menjalani hidup sedemikian rupa sehingga produktif?

Lakukan Dengan Lebih Baik

Sebagai orang Kristen, kita dapat memandang produktivitas dengan cara yang terbaik-dan-tertinggi. Kita bisa termotivasi untuk hidup bagi kebaikannya orang lain dan kemuliaan-Nya Allah serta mengatur hidup kita untuk melakukan hal ini.

Hidup ini terlalu pendek untuk disia-siakan. Hidup ini terlalu berharga bagi kita untuk melakukan hal yang lain selain untuk mengelola berbagai karunia, talenta, waktu, tenaga, dan antusiasnya kita dalam melakukan perbuatan baik dan memuliakan Allah. 

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'FOUR PRODUCTIVITY LIES.

You may also like...

Tinggalkan Balasan