Anda Bisa Memercayai Janji-Janji Allah, Namun Tetap Saja Tersesat

27 Mei 2015
Artikel oleh John Piper
Pendiri & Pengajar, desiringGod.org

Adalah mungkin untuk memercayai janji-janji Allah; mendapat jaminan keselamatan, namun tetap saja tersesat untuk selama-lamanya.

Mengaku orang Kristen dengan Keyakinan Palsu

Kemungkinan ini tersirat dalam Matius 7:22, ”Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Orang-orang ini percaya bahwa mereka aman dalam hubungannya dengan Kristus. Mereka memanggil-Nya ”Tuhan”. Mereka memiliki kekuatan supernatural demi nama-Nya.

Bahkan mereka mungkin mempunyai lebih banyak ”jaminan keselamatan” dibandingkan kebanyakan orang Kristen yang bergumul pada saat ini (mereka yang benar-benar diselamatkan) karena kekuatan supernatural mengalir melalui tangan mereka. Jadi, ketika mereka membaca janji: ”Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yos. 1:5), mereka percaya itu benar tentang mereka. Namun, ayat itu bukan tentang mereka.

Itulah sebabnya mereka akan terkejut ketika Yesus berkata kepada mereka, ”Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Mat. 7:23). Mereka tersesat. Namun, mereka pikir mereka selamat.

Nah, poin-Nya Yesus pada bagian ini adalah kehidupan dosanya mereka telah bersaksi tentang ketersesatan mereka. Namun, saya ingin menunjukkan poin lain di balik perbuatan dosa mereka tersebut. Saya ingin tahu apa jaminan palsu mereka yang memberitahu kita tentang bagaimana cara untuk benar-benar memercayai janji Allah.

Kita percaya Alkitab mengajarkan kita ”dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” (Rom. 3:28). Jadi, ketika Yesus menolak mereka karena mereka adalah ”pembuat kejahatan”, kita tahu bahwa masalah yang lebih dalam adalah mengenai iman-yang-rusak. Jika kita dihukum karena perbuatan dosa kita pada penghakiman terakhir, hal itu akan terjadi karena itu adalah bukti dari iman yang tidak nyata.

Iman-yang-Menyelamatkan dan Iman-yang-Mati

Jadi, pertanyaan saya adalah ini: Jika kita dapat memercayai setidaknya sebagian dari janji-janji Allah, seperti yang dilakukan orang-orang ini, dan masih saja tersesat, apa yang membuat percaya-akan-berbagai-janji-Allah ini menjadi sesuatu yang benar-benar menyelamatkan?

Charles Hodge memberi kita sebuah petunjuk. Pada 1841, Hodge menulis sebuah buku pendek yang populer tentang kehidupan Kristen berjudul The Way of Life. Dalam bab tentang ”Iman”, Hodge menunjukkan bahwa Alkitab menggunakan kata iman untuk merujuk pada berbagai gagasan yang berbeda, termasuk kematian. ”Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26).

Sekarang, apa perbedaan antara iman-yang-mati dan iman-yang-menyelamatkan? Saya tidak bertanya bagaimana kedua jenis iman ini membuktikan diri mereka berbeda. Itulah poinnya Yakobus (dan poin-NYa Yesus dalam Matius 7:21-23). Kedua iman tersebut membuktikan diri mereka berbeda dari buahnya. Saya ingin membahas sesuatu yang lain: Bagaimana kedua iman ini berbeda dalam esensi mereka? Seperti apa itu pengalaman iman yang sejati dan seperti apa itu pengalaman iman yang salah?

Inilah yang dikatakan Hodge: ”Kita mungkin percaya pada kesaksian orang-orang yang kejujuran dan penilaiannya kita percayai, bahwa seseorang yang tidak kita kenal memiliki keunggulan moral yang baik. Namun, jika kita melihat sendiri  tampilan keunggulannya tersebut, kita percaya untuk alasan lain, dan dengan cara yang berbeda” (154, yang saya cetak miring).

”Cara yang berbeda” inilah yang membuat suatu percaya menjadi sejati; percaya-yangmenyelamatkan. Tidak ada yang salah dengan memercayai Kristus atau memercayai janji-janji-Nya berdasarkan kesaksian orang lain. Faktanya, begitulah kita semua menjadi percaya. Kita mengandalkan kesaksian para rasul dan nabi. Namun, diyakinkan bahwa kebaikan, kelayakan, keindahan Kristus, dan janji-janji-Nya adalah sesuatu yang nyata bukanlah iman-yang-menyelamatkan.

Itulah sebabnya orang-orang yang mengaku Kristen akan terkejut pada hari-hari terakhir ketika mereka mendengar Yesus berkata, ”Aku tidak pernah mengenal kamu!” Mereka akan memprotes, ”Tuhan, Tuhan.” Yang pasti, percaya bahwa Kristus dan janji-janji-Nya adalah benar, berdasarkan kesaksian, adalah bagian penting dari iman. Namun, itu bukanlah inti dari iman-yang-menyelamatkan.

Pemahaman Rohani tentang Kebenaran

Apa yang membuat iman sebagai iman-yang-menyelamatkan adalah mengenai ”cara yang berbeda” untuk mempercayai; yang berasal dari cara yang berbeda (bukan alternatif, atau kontradiktif) dalam memahami kenyataan yang diyakini. Cara yang berbeda inilah yang disebut Hodge sebagai ”pemahaman rohani tentang kebenaran”. Dia berkata, ”Ini adalah iman yang bersandar pada perwujudan oleh Roh Kudus, tentang keunggulan, keindahan, dan kesesuaian kebenaran…. Iman itu muncul dari pemahaman rohani tentang kebenaran, atau dari kesaksian Roh dengan dan oleh kebenaran di dalam hati kita” (156).

Untuk mengilustrasikan jenis pemahaman rohani ini, yang merupakan bagian penting dari iman-yang-menyelamatkan, Hodge mengutip tiga ayat:

  • Lukas 10:21, Allah telah ”sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Baik orang bijak maupun orang kecil mendengarkan pembela yang sama dan melihat bukti yang sama. Namun, ada perbedaan. Yesus mengatakan perbedaannya adalah sesuatu yang Allah ”nyatakan”. Dengan kata lain, hal itu melampaui apa yang kita lihat dengan mata fisik; dengar dengan telinga fisik; dan simpulkan dengan alasan ilmiah.
  • Matius 16:17, ”Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Banyak yang melihat apa yang Simon Petrus lihat, tetapi tidak melihat ”Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat. 16:16). Penglihatan ini adalah sesuatu yang berbeda.
  • 2 Korintus 4:6, ”Sebab Allah… yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” Ada pengetahuan tentang kemuliaan Allah di dalam Injil yang berbeda dengan sekadar percaya pada fakta-fakta; atau bahkan ketika kita percaya bahwa fakta-fakta itu akan menyelamatkan kita. Di sanalah apa yang Paulus gambarkan dalam 2 Korintus 4:4: ”melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus.” Itu bukan mengenai cahaya fisik. Itu adalah keindahan yang dilihat oleh mata hati (Efe. 1:18).

Dengan kata lain, meskipun penting untuk menggunakan pikiran dan indra untuk mendengar, melihat, dan menafsirkan kesaksian Yesus tentang kebenaran, namun, diyakinkan dengan pikiran bahwa sesuatu itu benar tidak sama dengan memahami keindahan dan nilai kebenaran itu. Tanpa itu semua, keyakinan kita mungkin tidak lebih dari jaminan sia-sia dari Iblis bahwa Yesus adalah Sang Jalan, Sang kebenaran, dan Sang Hidup. Bahkan dia juga “percaya” itu. Namun, Iblis tidak melihat Yesus sebagai hal yang indah; berharga; dan sangat istimewa untuk mencapai  tujuan yang baik-dan-suci.

Apa Artinya Memercayai Janji?

Lantas, apa arti realitas ini bagi keyakinan kita bahwa memercayai janji-janji Allah adalah hal yang penting dalam iman yang menyelamatkan-dan-menguduskan? Inilah argumen saya dalam buku Future Grace: Iman-yang-menyelamatkan (yang juga menguduskan) bukan hanya pandangan sekilas ke belakang pada berbagao dasar iman dalam karya-Nya Yesus. Iman-yang-menyelamatkan juga merupakan pandangan ke depan dalam keyakinan bahwa anugerah masa depan, yang dibeli Kristus, sesungguhnya akan menjadi kenyataan — bagi dunia dan saya.

Namun, sekarang kita melihat bahwa lebih banyak yang perlu dikatakan tentang iman yang berorientasi pada masa depan ini. Sekarang kita melihat bahwa iman itu harus mencakup pandangan rohani tentang keindahan Allah dan rencana-Nya dalam membuat janji-janji ini — keindahan yang akan kita nikmati sepenuhnya saat janji-janji itu menjadi kenyataan.

Dengan kata lain, iman-yang-menyelamatkan dalam janji-janji Allah mencakup kenikmatan rohani dari Allah akan berbagai janji itu. Saya tidak ingin melebih-lebihkannya. Saya hanya mengatakan bahwa iman-yang-menyelamatkan harus meliputi kenikmatan ini. Kenikmatan akan kemuliaan Allah bukanlah keseluruhan dari apa yang dimaksud iman itu. Namun, tanpa itu, iman sudah mati.

Mendefinisikan Iman sebagai Sandaran Tidaklah Cukup

Bahkan tidak cukup untuk mengatakan bahwa memercayai janji-janji Allah adalah bersandar di dalam Tuhan dan pertolongan-Nya. Kita harus memperjelas sifat rohani dari sandaran ini, untuk membedakannya dari “sandaran” yang menyesatkan dalam Matius 7:22. Mereka yang mengaku Kristen memiliki semacam ”sandaran” dalam jaminan Allah. Apa yang harus kita katakan tentang sandaran adalah bahwa untuk menjadi sandaran-yang-menyelamatkan memang harus ada rasa aman dari neraka, tetapi juga ada rasa puas akan keindahan Allah (Maz. 16:11). Kita bersandar dalam sebuah jaminan dan sebuah kenikmatan.

Kepuasan ini hilang dari hati orang-orang yang mengaku Kristen dalam Matius 7:22. Jika kenikmatan akan Allah sendiri memang ada di sana, mereka akan bersukacita di bumi dalam keagungan ilahi yang didahului kenikmatan tersebut. Namun, mereka sebaliknya malah menjadi ”pembuat kejahatan”.

Implikasi Cara Mengatasi Dosa

Kenyataan ini memiliki implikasi yang sangat besar. Hal ini berarti bahwa bukan hanya jaminan akan janji-janji yang membebaskan kita dari motif untuk berbuat dosa. Itu juga merupakan kenikmatan hati akan manisnya janji Allah. Ketika kita melihat-dan-menikmati keindahan rohani dari apa yang dijanjikan itu, kita tidak hanya dibebaskan dari rasa tidak aman akan keserakahan dan ketakutan yang memotivasi terjadinya begitu banyak dosa, tetapi kita juga dibentuk dalam nilai-nilai kita oleh apa yang kita hargai dalam janji itu (1 Yoh. 3 :3).

Pengaruh inilah yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang mengaku Kristen dalam Matius 7:22 dan mengapa perilaku mereka sangat tidak selaras dengan Allah. Mereka mencintai kekuasaan. Mereka mencintainya karena Allah memberi mereka kekuasaan. Namun, mereka tidak mencintai Allah.

Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa dalam semua perbuatan dari iman-yang-menyelamatkan, Roh Kudus memungkinkan kita tidak hanya untuk memahami-dan-menerima kebenaran faktual saja, tetapi juga untuk memahami-dan-menerima keindahan rohani itu. ”Menerima keindahan rohani” merupakan inti penting dari iman-yang-menyelamatkan. Penerimaan inilah yang akan membentuk hidup kita yang paling dalam dan menerima pujian ”baik sekali” [Mat. 25:21] pada hari terakhir. 

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "You Can Believe the Promises of God and Be Lost."

You may also like...

Tinggalkan Balasan