Yak. 2:5 (AYT)
Saudara-saudara yang kukasihi, dengarkanlah! Bukankah Allah telah memilih orang yang miskin di mata dunia untuk menjadi kaya dalam iman dan mewarisi Kerajaan Allah yang telah Dia janjikan kepada mereka yang mengasihi Dia?
Apakah yang dimaksud Yakobus di sini miskin rohani atau miskin beneran? Jika dibaca keseluruhan konteksnya, maka jelas yang dimaksud Yakobus adalah miskin beneran.
Berapa banyak pendeta yang berani menyampaikan kebenaran ini kepada jemaatnya yang kaya? Seperti orang muda yang kaya itu, mereka mungkin akan segera pergi meninggalkan Saudara karena mereka banyak hartanya (Mat. 19:22).
Yesus sudah menegaskan soal ini dengan menyatakan kalau “lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Luk. 18:25). Karena itu, orang yang hanya kaya materi tetapi tidak memiliki Kristus benar-benar adalah orang yang malang. Dalam kekayaannya, mereka telah memperoleh penghiburannya. Mereka yang sekarang ini kenyang, akan lapar. Mereka yang sekarang ini tertawa, akan berdukacita dan menangis (Luk. 6:24-25).
Jadi, apakah menjadi kaya itu berdosa? Tidak, namun berbahaya. Memang sangat susah bagi hati ini untuk tetap mengandalkan Tuhan ketika kaya. Susah cari Tuhan. Kaya tinggalkan Tuhan. Kaya banget jadi tuhan.
Diam-diam, ia mungkin malah merasa dirinya adalah Tuhan. Banyak orang yang memperlakukannya secara istimewa. Banyak orang yang memperlakukannya sebagai Sumber berkat, alih-alih saluran berkat.
Jadi, kalau saat ini Saudara tidak dianugerahi kekayaan, maka tidak perlu berkecil hati. Ujian iman mereka jauh lebih berat dari yang Saudara kira. Yang penting Saudara sudah dilahirbarukan sebagai anak Tuhan atau belum.
Jika sudah, maka Saudara adalah orang kaya (Efe. 1:3-6). Orang yang memiliki Kristus adalah orang yang paling kaya di muka bumi ini. Saudara telah dipilih Allah “untuk menjadi kaya dalam iman dan mewarisi Kerajaan Allah yang telah Dia janjikan kepada mereka yang mengasihi Dia”.