1 Pet. 5:8 (AYT)
Waspadalah dan berjaga-jagalah! Musuhmu, si Iblis, berjalan mondar-mandir seperti singa yang mengaum, mencari mangsa untuk ditelannya.
Salah satu tipu daya Iblis adalah membuat kita mengira seolah-olah ia tidak ada. Ia ingin kita percaya kalau ia tidak ada.
Budaya pop malah suka menggambarkannya sebagai sosok merah bertanduk yang imut dan menggemaskan. Misalnya saja, klub sepakbola Manchester United memilih Iblis sebagai logo bagi klubnya. Bagaimana mungkin kita waspada terhadap figur yang imut seperti itu? Alih-alih melihatnya sebagai musuh, banyak orang malah menganggapnya sebagai sahabat.
Iblis sungguh-sungguh nyata dan ada. Ia adalah Pribadi yang sama nyatanya dengan Pribadi Tuhan Yesus (Mat. 4:10; 16:23; Luk. 22:31). Jika kita percaya Tuhan Yesus itu sungguh-sungguh ada, maka kita juga harus percaya kalau Iblis itu sungguh-sungguh ada.
Untungnya, Iblis tidak mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir seperti Allah. Ia hanyalah malaikat yang telah terjatuh (Yeh. 28:12-15). Ia sama sekali tidak memiliki kemuliaan Pencipta karena ia tetaplah hanya ciptaan.
Tidak setiap orang pernah berhadapan langsung dengan Iblis seperti halnya Tuhan Yesus di padang gurun. Karena Petrus pernah dicobai langsung oleh Iblis, ia mengerti betul apa artinya harus “waspadalah dan berjaga-jagalah” terhadapnya.
Karena kesombongannya, Petrus sepertinya pernah meremehkan daya tipu Iblis (Mat. 26:33-35). Namun, ia sudah belajar harga yang harus dibayar karena tidak “waspadalah dan berjaga-jagalah” terhadap Iblis.
Untunglah, Iblis hanya bisa melakukan sesuatu terhadap manusia tergantung pada apa yang diijinkan Allah (Ayub 1:6-12, 2:1-6; 2Taw. 18:18-22; Luk. 22:31-32). Kadang-kadang, seperti halnya Ayub dan Petrus, kita memang diijinkan Tuhan untuk dicobai Iblis. Dalam kuasa-Nya, Iblis bisa dipakai Tuhan sebagai alat untuk memurnikan kita. Dalam kasus Petrus, Tuhan memang mengijinkan Petrus terjatuh supaya kelak, ketika ia sudah insaf, Petrus bisa menguatkan saudara-saudara seimannya (Luk. 22:32).
Kisah kejatuhan Petrus memberi kita satu perasaan lega. Meskipun Iblis “berjalan mondar-mandir seperti singa yang mengaum, mencari mangsa untuk ditelannya”, namun selama Tuhan tidak biarkan kita terhilang, tidak seorang anak Tuhan pun yang bisa dimangsanya (Yoh. 10:27-29; 17:11-15). Walaupun begitu, bagian kita tetap harus dikerjakan dengan setia, yaitu “waspadalah dan berjaga-jagalah”.
Walaupun sama-sama ciptaan, dibandingkan Iblis kita memang jauh lebih lemah sehingga sangat mudah “untuk ditelannya”. Namun, Allah kita yang Mahakuasa sendiri yang akan melindungi kita. Ia adalah Allah yang baik dan setia. Ia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kemampuan kita. Akan tetapi, bersama dengan pencobaan itu, Ia juga akan menyediakan jalan keluar supaya kamu dapat menanggungnya (1 Kor. 10:13).
Karena itu, larilah berlindung pada Tuhan. Tangan Allah yang kuat sanggup melindungi kita dari yang jahat (Yoh. 17:15). Namun, Saudara harus tetap “waspadalah dan berjaga-jagalah”.