Bagaimana Gereja Mengasihi Seperti Kristus
16 April 2023
Artikel oleh Scott Hubbard.
Editor desiringGod.org
Kadang-kadang, saya berpikir saya bisa menjadi sangat kudus jika (setelah melakukan saat teduh) saya hanya berdiam diri di dalam kamar sepanjang hari. Saya menemukan bahwa bersabar, misalnya, secara otomatis menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Juga, termasuk untuk merasa damai. Saya secara umum merasakan adanya kebaikan dan niat baik ketika sedang sendirian. Saya membayangkan sudah siap untuk menanggung bebannya orang lain.
Namun, kemudian saya meninggalkan kamar dan mulai berinteraksi dengan beberapa “orang lain” itu secara langsung. Tak lama kemudian, saya bertanya-tanya kemana perginya kekudusannya saya itu. Kesabaran kini terasa rapuh. Rasa damai menghilang. Kebaikannya saya yang hanya secara teori tersebut mendapati dirinya tidak siap menghadapi gangguan yang nyata. Bahunya saya tampak terlalu lemah untuk menanggung beban yang nyata. Ternyata, orang-orang punya cara yang menjengkelkan untuk menyodok buah rohani di mejanya saya; hanya untuk mengungkapkan berapa banyak apel dan pir yang [sebenarnya hanya] terbuat dari plastik.
Saya mungkin lebih suka kekudusan menjadi urusan yang lebih pribadi; berupa sebuah lingkaran cahaya yang menggantung di atas kepalanya saya. Namun “kekudusan,” John Stott mengingatkan saya, “bukanlah suatu kondisi mistik yang dialami [seseorang karena memiliki hubungan] dengan Allah, tetapi yang terisolasi dari manusia yang lain. Anda tidak bisa menjadi baik dalam ruang yang hampa, tetapi hanya dalam dunia manusia yang nyata” ( Message of Ephesians , 184). Kekudusan sejati mungkin dimulai antara Allah dan jiwa, namun kekudusan ini terwujud sepenuhnya dalam komunitas dengan orang lain – orang-orang yang luar biasa; mulia; membuat frustrasi; dan terkadang menyinggung .
Hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru (PB) berulang kali menggambarkan kehidupan kudus yang sejati dengan menggunakan istilah yang sederhana, yaitu “satu sama lain.”
Satu Sama Lain
Sekitar lima puluh kali dalam PB, Yesus dan para rasul menyuruh kita untuk merasakan; mengatakan; atau melakukan sesuatu “satu sama lain”. Kita harus saling memperhatikan dan menanggung satu sama lain; saling menghormati satu sama lain; bernyanyi satu sama lain; berbuat baik satu sama lain; dan saling mengampuni satu sama lain. Kemudian, ada perintah yang agung, menyeluruh, dan paling sering diulang terkait dengan satu-sama-lain, yaitu perintah yang “sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol. 3:14), yaitu “Kasihilah satu sama lain.”
Prinsip “satu-sama-lain” tidak menghilangkan berbagai kewajiban kita terhadap orang Kristen lainnya (karena banyak perintah komunal yang tidak menyertakan frasa “satu sama lain”), namun semuanya itu memberikan gambaran yang cemerlang tentang kehidupan secara bersama-sama di bawah ke-Tuan-an-Nya Kristus – dan tidak hanya berada di bawah ke-Tuan-Nya Kristus, tetapi juga berada dalam pola-Nya Kristus. Sebab, jika dipahami dengan benar, kehidupan satu sama lain tidak lain tidak bukan adalah kehidupan-Nya Kristus yang bekerja di dalam umat-Nya Kristus demi kemuliaan-Nya Kristus.
Misalnya saja dalam bacaan yang berorientasi komunitas seperti Surat Kolose 3:12-17 (yang mencakup tiga bagian mengenai “satu sama lain”), Paulus tidak bisa berhenti berbicara tentang Yesus. Karakter baru kita — belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. (ay. 12) — mencerminkan “gambar Khaliknya,” yaitu Kristus (ay. 10). Kita mengampuni “sama seperti Tuhan telah mengampuni [kita]” (ay. 13). Kesatuan kita mencerminkan “damai sejahtera Kristus” (ay. 15); perkataan kita berasal dari “perkataan Kristus” (ay. 16). Faktanya, apa pun yang kita lakukan dalam komunitas, kita melakukannya “dalam nama Tuhan Yesus” (ay. 17). Sebab di sini, “Kristus adalah segalanya dan dalam semuanya” (ay. 11, AYT).
Jadi, “satu sama lain” adalah drama duniawi dari realitas surgawi. Itu merupakan kasih-Nya Kristus yang dimainkan dalam sepuluh ribu panggung. Jadi, dengan mengingat pola ini, kita dapat dengan baik mempertimbangkan mengenai “satu sama lain” dalam lima kategori, yaitu memiliki pikiran-Nya; menawarkan penerimaan-Nya; mengucapkan perkataan-Nya; menunjukkan kasih-Nya; dan memberikan anugerah-Nya.
1. Memiliki Pikiran-Nya
Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia; tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri. (Fil. 2:3, AYT).
... Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain... (1 Pet. 5:5).
Kita mungkin dengan mudah saling bertanya-tanya mengenai apa yang harus kita lakukan untuk saudara-saudari kita di dalam Kristus – dan tentu saja, ketika urusan “satu sama lain” ini mendorong kita untuk berbuat banyak hal. Namun, sebelum kita mengatakan atau melakukan apa pun untuk satu sama lain, Allah memanggil kita untuk merasakan sesuatu satu sama lain. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Fil. 2:5). Pikiran yang seperti ini (atau sikap yang seperti ini) dapat diringkas dalam satu istilah: kerendahan hati .
Saya menemukan bahwa ada kemungkinan – yang sangat mungkin terjadi – untuk “menaati” satu sama lain secara lahiriah dengan pikiran yang sama sekali bertentangan dengan Kristus. Kita bisa saling menyapa dengan senyuman yang mengandung kepahitan; menguatkan satu sama lain dengan hati yang mau menguasai-dan-menggombali; dan menanggung beban satu sama lain dengan sindrom mesias. Dengan kata lain, adalah mungkin untuk mengubah satu sama lain menjadi para pelayan yang samar-samar bagi diri kita sendiri.
Namun, kerendahan hati membungkus kita dengan sikap Kristus yang berorientasi pada orang lain. Kerendahan hati menempatkan sepasang kacamata pada jiwa; memungkinkan kita untuk melihat orang lain tanpa mengaburkan sifat egois. Kerendahan hati, dalam bentuknya yang sederhana, mengikuti jejak yang sama yang dialami Kristus ketika Dia “telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (Fil. 2:8). Mengangkat tinggi orang lain bisa dengan merendahkan diri – dan tidak merencanakan bagaimana hal itu sampai terjadi juga bisa untuk mengangkat diri sendiri juga.
Dalam komunitas yang dipenuhi Roh, kita semua (tidak peduli seberapa tinggi kita) memandang satu sama lain, bukan memandang rendah mereka; kita memilih tempat duduk yang paling terakhir-dan-belakang — karena kita ingat bagaimana Yesus melakukan hal yang sama bagi kita.
- 2. Tawarkan Penerimaan-Nya
Hiduplah rukun satu sama lain. … Jangan memikirkan hal-hal yang tinggi, melainkan bergaullah dengan mereka yang dianggap rendah. (Rom. 12:16, AYT)
Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita. (Rom. 15:7)
Tunjukkanlah keramahan satu dengan lainnya tanpa mengeluh. (1 Pet. 4:9, AYT)
Perihal “satu sama lain”, yang awalnya dimulai dengan pikiran yang rendah hati, kini beralih ke mata, mulut, dan tangan yang terulur. “Pikiran Kristus” menuntun Tuhan kita yang agung dan kudus tersebut menuju pada kita, bukan menjauh. Dia datang kepada kita dengan suatu penerimaan; mendekatkan kita melalui pintu hati-Nya yang dipenuhi kerendahan hati. Kasih-Nya adalah kasih yang menciptakan persekutuan, yang mengubah orang asing menjadi saudara (Efe. 2:14–17). Sekarang, kita umat-Nya berjalan dalam kasih yang sama dan menawarkan penerimaan yang sama.
“Terimalah satu akan yang lain” (Rom. 15:7), seperti halnya perihal “satu sama lain” yang lain, secara teori terdengar bagus. Namun penerapan perintah ini dalam kehidupan nyata dapat memperluas preferensi dan kepribadian kita melampaui titik puncaknya. Tentu saja, kata “menerima” lebih dari sekadar urusan “mengangguk dan menyapa”. Frasa “satu sama lain” berarti lebih dari sekadar mengenai “orang lain yang Anda sukai”. Sebaliknya, perintah tersebut memanggil kita untuk merangkul dengan hangat; dengan senang hati bergaul; dan dengan senang hati mengundang semua orang di gereja ke rumah kita — termasuk mereka yang tampak berasal “dari kelas rendahan” (Rom. 12:16); dan mereka yang sangat tergoda untuk kita hakimi atau hina (Rom. 14:3).
Namun, jika Kristus meninggalkan surga untuk menyambut orang-orang berdosa seperti kita, maka kita dapat melintasi serambi gereja untuk menyambut orang-orang kudus yang sulit itu. Jika Dia membuka hati-Nya untuk membiarkan kita sebagai orang asing masuk, maka kita bisa membuka pintu rumah kita untuk orang lain betapa pun anehnya mereka. Jika dia menyapa kita dalam kesesatan kita, maka niscaya kita bisa menyapa orang lain dalam kesendirian mereka.
3. Menyampaikan Perkataan-Nya
Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain… (Kol. 3:16).
…. nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah (1 Tes. 5:11)
… nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari (Ibr. 3:13).
Orang Kristen adalah umat yang berkata-kata; umat yang berbicara. Dihidupkan oleh “firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Pet.1:23), kini kita berusaha untuk menghidupi kehidupan itu kepada orang lain melalui perkataan kita yang dibentuk oleh Firman. Kita menggunakan seluruh rangkaian nada dan pita suara kita untuk melakukan hal tersebut. Kita tidak hanya berbicara, tetapi juga mengajar; menginstruksikan; menegur; menyemangati; menasihati; menghibur; menghormati; membangkitkan semangat; dan bahkan bernyanyi. Baik itu seorang pendeta atau bukan, kita semua adalah penatalayan-Nya Allah yang telah menganugerahi firman yang menghidupi tersebut. Kita semua ingin menyampaikan sesuatu.
Jadi, ketika kita menerima satu sama lain, maka kita mencari kesempatan untuk mengambil sebagian dari firman-Nya Allah dan menerapkannya dengan cara yang sepantasnya “supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efe. 4:29). Kita adalah orang-orang dengan Alkitab yang selalu terbuka di hati kita; siap untuk “saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” dengan perkataan yang disampaikan pada waktu yang tepat (Ibr. 10:24). Jadi, bahkan ketika kita sedang tertawa dan ngalor-ngidul, suatu arus dari niat yang suci mengalir melalui percakapan kita. Kita tahu bahwa Allah bermaksud menggunakan apa yang kita katakan untuk melakukan keajaiban dalam kehidupan satu sama lain.
Artinya, tentu saja, kita juga adalah umat yang mendengarkan. Karena, pertama-tama, seperti yang ditulis Dietrich Bonhoeffer, kita dapat menyampaikan “Firman Allah” dengan setia dan akurat hanya ketika kita mendengarkan “dengan telinga-Nya Allah” ( Life Together , 76) — dengan sabar dan penuh perhatian menelusuri kontur dari hatinya para saudara atau saudari kita tersebut. Kedua, kita juga mendengarkan perkataan orang lain bagi kita. Tak seorang pun di gereja lokal mana pun, termasuk gembalanya, yang hanya menjadi seorang guru , namun [mereka] akan selalu menjadi guru dan [sekaligus] murid; pembicara dan [sekaligus] pendengar; pemberi nasihat dan [sekaligus] yang dinasihati.
4. Menunjukkan Kasih-Nya
Selalu berusahalah melakukan yang baik di antaramu. (1 Tes. 5:15, AYT)
Karena setiap orang telah menerima karunia, pergunakanlah itu untuk melayani satu dengan lainnya… (1 Pet. 4:10, AYT)
Saling menanggung beban, dan dengan demikian memenuhi hukum Kristus. (Gal. 6:2)
Sama pentingnya suatu perkataan bagi komunitas Kristen yang sehat, namun tidak ada komunitas yang hidup hanya dengan perkataan. Yesus tidak hanya berbicara kepada orang-orang selama pelayanan-Nya di dunia. Dia juga menyembuhkan mereka; menjamah mereka; melepaskan mereka [dari yang jahat]; dan makan bersama mereka. Jadi, kita para murid-Nya bukan hanya sekadar mulut bagi satu sama lain, namun juga menjadi tangan, kaki, dan bahu. Kita tidak hanya mengungkapkan kasih-Nya, tetapi juga menunjukkannya.
Nah, pelayanan sering kali terasa seperti bentuk kasih yang menuntut pengorbanan dibandingkan sekadar omongan saja. Mengucapkan kata-kata yang menghibur adalah satu hal. Duduk berjam-jam sebagai kehadiran yang menenangkan adalah hal yang lain. Menyemangati seseorang yang memikul beban berat adalah satu hal. Adalah hal lain ketika Anda menawarkan bahunya Anda untuk ikut memikul beban tersebut. Jenis kasih yang seperti ini bisa mengganggu rencana kita pada hari itu dengan permintaan yang tidak tepat waktu; dan yang mempengaruhi jadwal kita pada malam hari dan akhir pekan.
“Biarkan… hal yang terpenting adalah ketika kehormatan yang terbesar adalah bagi mereka untuk melakukan pelayanan yang memang diperlukan bagi orang-orang kudus yang paling kejam,” tulis John Owen ( Works , 13:81). Dalam Kerajaan-Nya Kristus yang peduli satu sama lain, para gembala menganggap kunjungan pada orang-orang kudus yang dikucilkan adalah suatu kehormatan besar bagi mereka. Para ayah yang sibuk menyiapkan kursi sebelum kebaktian hari Minggu. Para ibu yang lelah menyimak kisah mengenai latar belakang dari kenakalan anak-anak hingga air mata yang diam-diam diteteskan oleh seorang wanita muda. Para mahasiswa merelakan hari Sabtu mereka untuk membantu jemaat gereja untuk pindah rumah.
Kita semua, seperti para wanita dalam Injil Markus 14, dengan senang hati memecahkan buli-buli pualam kita yang berharga – waktu kita; pemberian kita; uang kita; rumah kita – untuk mengurapi tubuh-Nya Kristus.
5. Memberikan Anugerah-Nya
… Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. (Efe. 4:2)
… hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu. (Efe. 4:32)
Pikiran-Nya Kristus yang rendah hati; penerimaan yang hangat dari Kristus; perkataan-Nya Kristus yang menggugah; tangan-Nya Kristus yang menolong – secara menakjubkan semuanya ini menunjukkan mengenai apa yang dapat dilakukan oleh Roh-Nya Kristus dalam sebuah komunitas. Namun, tidak ada satu pun yang memperlihatkan Tuhan kita dengan begitu jelas selain hati-Nya Kristus yang penuh pengampunan. Berbagai komunitas Kristen dibangun, melalui kekecewaan dan kepedihan hati yang hebat, dalam bentuk salib.
Karena itu, kita tidak pernah mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk menunjukkan kemuliaan dari komunitas Kristen selain ketika komunitas Kristen tersebut sedang berada dalam kondisi yang paling susah. Berada cukup dekat dengan sekelompok pendosa yang sedang memulihkan dirinya, maka mereka akan menyodok dan menguji kesabarannya Anda. Mereka akan mengatakan hal-hal yang membingungkan dan menyinggung perasaannya Anda. Mereka akan melukai Anda tanpa menyadarinya. Saat-saat terburuk seperti ini dapat meninggalkan lubang yang berasap dalam jiwa kita. Namun, berbagai hal tersebut juga dapat menjadi landasan bagi sesuatu yang indah dan baru: “… hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efe. 4:32).
Kasih yang seperti ini akan menyakitkan. Oh, kasih tersebut akan menyakitkan. Sepenuhnya mengampuni- berarti tidak memperhitungkan dosanya orang lain; tidak menyimpannya; tidak membiarkannya menjadi lensa yang kita gunakan untuk melihat mereka? Kasih ini, dalam skala kecil, terasa seperti kasih di Kalvari. Kasih itu bersinar dengan keagungan Golgota.
Satu Sama Lain Untuk Dunia
Kita mungkin bertanya, mengapa Paulus, Petrus, Yakobus, dan Yohanes begitu menekankan mengenai komunitas Kristen? Mengapa mereka menumpuk begitu banyak perintah mengenai “satu sama lain” dalam surat mereka; bukannya mendorong mengenai kesalehan yang lebih bersifat pribadi?
Mungkin dikarenakan alasan yang sama, Yesus berkata pada murid-murid-Nya:
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yoh. 13:34–35)
Kita hidup di dunia yang mempunyai berbagai hubungan “satu sama lain”: kehancuran satu sama lain; permusuhan satu sama lain; manipulasi satu sama lain; keegoisan satu sama lain. Berbagai gereja lokal hadir untuk menunjukkan cara hidup yang berbeda – Tuhan yang berbeda bagi kehidupan ini. Tuhan yang ini tidak hanya mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri, tetapi juga [antara kita] dengan satu sama lain; menciptakan kasih yang satu sama lain dari rasa sakit yang satu sama lain.
Ketika berbagai komunitas tersebut menyebar ke seluruh dunia – ke taman, kedai kopi, tim olahraga, dan lingkungan sekitar – dan ketika mereka mengundang orang luar untuk bergabung, maka kemuliaan dari hubungan yang seperti itu tidak akan luput dari perhatian. ”Dengan demikian semua orang akan tahu…” Karena itu, orang Kristen yang berjalan bersama-sama tidak hanya memiliki pikiran-Nya Kristus, menawarkan penerimaan-Nya; mengucapkan perkataan-Nya; menunjukkan kasih-Nya; dan memberikan anugerah-Nya. Mereka juga memajukan misi-Nya.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "The Art of One Anothering How the Church Loves Like Christ."