13 Juni 1999 Artikel oleh John Piper Kitab Suci: Roma 3:29-30 Topik: Kemuliaan Allah
27Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! 28Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. 29Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! 30Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. 31Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Rom. 3:27-31).
Dasar-Dasar Alkitabiah untuk Proklamasi Publik tentang Kristus
Saya masih membahas Roma 3:27-31 karena apa yang kita bicarakan hari ini dalam kebaktian di luar ruangan dan pawai puji-pujian dengan begitu kuat dibahas dalam teks ini. Tujuan kita hari ini adalah untuk menyatakan kebenaran tentang Allah dengan cara yang lebih umum daripada yang biasanya kita lakukan dalam gedung pada hari Minggu. Tujuan kita adalah untuk bermegah dalam nilai Kristus di hadapan lingkungan dan bangsa di sekitar gedung gereja ini.
Sekarang, ada beberapa dasar yang luar biasa dalam Surat Roma 3:29-30 untuk deklarasi publik ini. Jadi, apa yang ingin saya lakukan dalam beberapa menit ini adalah meletakkan landasan Alkitab di bawah kaki Anda pada pagi ini sehingga Anda tahu mengapa Anda melakukan ini dan dapat masuk dengan tujuan alkitabiah yang jelas dan mendalam.
Satu Allah dan Satu Jalan Keselamatan bagi Semua Orang
Mari kita lihat ayat 29-30. Paulus baru saja menyatakan bahwa kita dibenarkan karena iman terlepas dari perbuatan seseorang melakukan hukum Taurat. Sekarang dia bertanya, ”Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.”
Ada urutan pemikiran di sini. Saya akan menyatakannya untuk Anda dalam urutan terbalik dan kemudian mengambil tiga langkah ini satu per satu dan menunjukkan kepada Anda bagaimana mereka berhubungan dengan apa yang kita lakukan pada hari ini. Pertama, ada penegasan yang kuat dalam ayat 30 bahwa ”Allah adalah satu”. Kedua, ada kesimpulan bahwa karena Dia satu, maka Dia membenarkan orang Yahudi dan bukan-Yahudi dengan cara yang sama; bukan dengan dua cara yang berbeda. Dia ”akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.” Ketiga, karena Dia adalah satu dan membenarkan semua orang dengan cara yang sama, bukan dengan cara yang berbeda, Dia bukan Allah orang Yahudi saja, tetapi Allah bangsa-bangsa lain juga.
Itulah inti dari perikop ini. Anda dapat langsung melihat mengapa hal itu sangat relevan dengan apa yang kita lakukan pada hari ini. Namun, mari kita lakukan selangkah demi selangkah.
Allah adalah Satu
Pertama, dari ayat 30, mari kita fokus pada keesaan-Nya Allah: ”… kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.” Allah adalah satu. Apa artinya ini?
1. Ada Satu Allah yang Benar
Pernyataan Paulus bahwa “”Allah adalah satu” memiliki beberapa implikasi. Pertama-tama, ini berarti hanya ada satu Allah yang benar; bukan banyak allah. Begitulah cara NIV menerjemahkannya: ”there is only one God”. Ini adalah keyakinan yang mutlak diperlukan mengingat apa artinya menjadi Allah. Paulus berkata dalam Roma 11:36, ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Jika itulah artinya menjadi Allah, tidak mungkin ada dua. Jika makna sebenarnya dari keberadaan Allah adalah bahwa Dia adalah sumber tertinggi dari semua yang ada, maka hanya ada satu. Dua wujud tidak bisa menjadi sumber utama dari segala sesuatu. Yang satu akan menjadi sumber utama dari yang lain. Hanya satu yang akan menjadi Allah atau keduanya akan sama-sama menjadi yang utama dan keduanya tidak akan menjadi sumber dari segala sesuatu. Demikian juga yang bukan Allah, menurut definisi Paulus. Hanya ada satu Allah, Pencipta dan Pemelihara atas segala sesuatu yang berada di luar Allah.
Hal ini lebih relevan dalam situasi kita daripada yang terlihat sebelumnya. Pada hari Senin, saya naik taksi selama tiga puluh menit dengan seorang Sikh dari sebelah utara India. Orang Sikh adalah monoteis yang terletak terutama di Punjab di sebelah utara India. Ketika saya mencoba untuk membagikan iman saya dengan pria ini, menjadi jelas bahwa dia bahagia karena saya memiliki Allah saya dan dia memiliki allahnya. Tidak masalah apakah mereka berbeda secara drastis. Baginya, yang penting adalah apakah saya pria yang baik dan peduli pada orang lain. Allah bisa satu atau banyak.
Sebentar lagi, kita akan berbaris di samping orang-orang Muslim, Hindu, Yahudi, ateis, animisme, Kristen. Beberapa dari mereka akan percaya, dengan cara yang agak kabur, bahwa ada beberapa allah dan Anda dapat memilih yang mana yang Anda inginkan selama Anda tulus-dan-baik. Orang lain akan percaya bahwa Allah yang satu itu begitu tidak terbatas sehingga Dia dapat dikenal melalui hampir semua gagasan tentang Dia.
2. Kesatuan dan Koherensi Allah
Hal ini membawa kita kepada implikasi kedua dari pernyataan Paulus dalam Roma 3:30 bahwa ”Allah adalah satu”. Bagi Paulus, keesaan Allah bukan sekadar pernyataan bahwa hanya ada satu Allah yang benar, tetapi juga pernyataan bahwa Allah ini memiliki kesatuan dan koherensi dengan identitas-Nya. Artinya, Dia adalah Dia apa ada-Nya dan bukan mengenai apa yang kita buat tentang Dia. Dia adalah apa ada-Nya Dia dan bukan sesuatu yang lain. Dia memiliki identitas dalam diri-Nya. Dia memiliki atribut tetap. Dia tidak berubah. Dia konsisten dan bukanlah penderita skizofrenia. Dia tidak memiliki kepribadian yang kontradiktif. Semua karakteristik-Nya menyatu dalam satu Wujud yang menyatu. Dia membuat diri-Nya dikenal sebagai siapa Dia. Dia adalah satu.
Hal ini memiliki implikasi yang luar biasa bagi pluralisme agama di Minneapolis, Chicago, New York, London, Yerusalem, Sao Paulo, Delhi, Tokyo, Sydney, Jakarta, Kairo dan Pretoria. Ini menyiratkan, misalnya, bahwa tidak semua agama itu benar dan mengarah ke surga. Ini juga menyiratkan bahwa mereka yang mengenal Allah yang benar karena wahyu-Nya yang murah hati harus mencoba mengajak orang lain untuk mengenal dan memercayai satu-satunya Allah yang benar. Itu menyiratkan bahwa, karena Allah yang benar dalam Alkitab adalah Allah yang hanya dikenal melalui iman dan bukan paksaan dari luar, tanpa kekerasan atau paksaan yang akan digunakan untuk menuntut atau membatasi kepercayaan agama.
Yang berarti, menariknya, bahwa keunikan dan keesaan dari satu Allah yang benar dalam Alkitab merupakan ancaman sekaligus perlindungan bagi pluralisme agama. Kita perlu memperjelas hal ini karena kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik. Klaim mutlak Allah dalam Alkitab atas semua orang dan semua agama merupakan ancaman spiritual terhadap pluralisme agama karena hal itu menyerukan pertobatan dari semua agama yang palsu dan seruan untuk beriman kepada satu Allah yang benar melalui Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Namun, satu-satunya Allah yang benar dalam Alkitab ini adalah perlindungan bagi pluralisme agama karena Ia melarang tujuannya dipercepat dengan pedang atau dengan paksaan dari luar. Yesus berkata kepada Pilatus, ”Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini” (Yoh. 18:36). Orang Kristen dipanggil untuk mengasihi musuhnya dan menderita ketidakadilan alih-alih membalas kejahatan dengan kejahatan.
Karena itu, Kekristenan sejati merupakan ancaman sekaligus dukungan bagi pluralisme agama. Ini adalah suatu ancaman spiritual dan dukungan politik. Kekristenan sejati tidak akan mendukung pemusnahan orang Muslim, pembunuhan besar-besaran terhadap orang Yahudi, atau melegalkan permusuhan terhadap orang Hindu. Kekristenan sejati tidak berkembang melalui pedang atau pistol. Kekristenan sejati berkembang melalui proklamasi, ajakan, doa, kasih, dan dengan dianiaya, bukan menganiaya.
Kita harus membuat kedua hal tersebut jelas.
1. Kepercayaan kita pada satu Allah yang benar, yang telah menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus dalam sejarah, berarti bahwa kita tidak menganggap semua agama sama benarnya atau sama menyelamatkannya. Kekristenan adalah iman misionaris, atau itu berarti salah di hadapan fondasinya sendiri. Itu satu hal yang harus kita perjelas. Ini akan sangat mahal harganya. Orang akan menyebutnya sebagai sesuatu yang arogan, lancang dan menyinggung.
2. Jadi, hal lain yang juga harus kita jelaskan adalah bahwa memohon kepada orang-orang untuk mengenal-dan-memercayai satu-satunya Allah yang hidup melalui Yesus Kristus adalah hal yang penuh kasih. Penyebaran iman kita bukanlah dengan kekerasan atau paksaan. Itu akan merugikan diri kita sendiri. Tidak ada yang diselamatkan oleh tindakan paksa. Kita menyebarkan iman kita dengan proklamasi, ajakan, doa dan kasih.
3. Bukan Tiga Allah, melainkan Satu
Ada implikasi ketiga dari pernyataannya Paulus, ”Allah adalah satu”, tetapi kita akan membahasnya di lain kesempatan dalam pelajaran kita tentang Kitab Roma (yaitu keilahian Kristus dan Roh Kudus tidak membuat orang Kristen menjadi politeis). Kita tidak menyembah tiga Allah, tetapi hanya satu Allah. Misteri Trinitas adalah batu sandungan bagi Muslim, Hindu, Yahudi, dan sekularis. Hal itu selalu dan akan selalu begitu. Namun, tidak mengherankan bahwa satu-satunya Allah yang benar akan ada dari segala kekekalan dengan cara yang mendorong pikiran kecil kita kepada batas maksimalnya. Lebih lanjut tentang itu akan dibahas nanti. Cukuplah untuk mengatakan sekarang bahwa wahyu Allah melalui Yesus Kristus adalah: ”Yesus adalah Allah; Roh Kudus adalah Allah; Bapa adalah Allah; dan hanya ada satu Allah.”
Itu adalah langkah pertama dalam ayat 30: ”Allah adalah satu.”
Tuhan punya Satu Cara Menyelamatkan Manusia
Langkah kedua, Allah yang satu ini memiliki satu cara untuk menyelamatkan manusia, yaitu pembenaran oleh iman di dalam Yesus Kristus. Ayat 30: ”…karena Allah, yang membenarkan orang-orang bersunat karena iman dan orang-orang yang tidak bersunat karena iman, adalah satu.” Keesaan Allah terhubung dengan keesaan cara-Nya menjadikan orang benar melalui diri-Nya sendiri.
Salah satu cara untuk mengatakan ini adalah bahwa Allah mengancam pluralisme agama dengan kebebasan kasih karunia yang mulia. Dia menghampiri setiap agama dunia dan setiap pribadi beragama atau tidak beragama dan seolah-olah berkata, ”Aku menawarkan kabar baik bahwa Anda mungkin memperoleh pengampunan atas dosa-dosa Anda dan didamaikan dengan Pencipta Anda dan memiliki hidup yang kekal oleh kasih karunia saja melalui iman saja di dalam Anak-Ku Yesus Kristus. Aku telah bertindak dalam sejarah untuk menghilangkan murka-Ku dan menghilangkan rasa bersalah manusia. Jika Anda mau memilikinya sebagai harta yang Anda cintai dan terpercaya, maka pengampunan itu menjadi milik Anda.”
Jika Anda mau, Anda dapat menyebut hal tersebut sebagai ”kesombongan” dan ”kelancangan”. Namun, sebutan yang lebih baik untuk itu adalah ”kasih”. Ya, hal itu memang menghancurkan pluralisme agama – seperti cara antibiotik menghancurkan pluralisme penyakit bakteri; cara vitamin C menghancurkan gejala pluralistik penyakit kudis.
Kekristenan tidak mendatangi sistem agama lain dan mencoba mengganti satu cara berbuat bagi Allah dengan cara lainnya. Kekristenan datang dengan deklarasi amnesti. Satu-satunya Allah yang benar telah membuat gencatan senjata dengan mengorbankan nyawa Anak-Nya. Dia menawarkan pengampunan pada setiap orang secara cuma-cuma; sukacita abadi bagi mereka yang mau memercayai Anak-Nya.
Keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu jalan menuju keselamatan; bukan jalan perbuatan, melainkan jalan iman. Karena itu adalah jalan iman, maka jalan itu melintasi semua hambatan etnis, politik, bahasa dan budaya. Ayat 30: ”… yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman.” Kata ”sunat” berarti merujuk pada sifat agama atau etnis apa pun yang menurut Anda akan memuliakan Anda di hadapan Allah. Kata “”tidak bersunat” berarti merujuk pada sifat apa pun, atau sifat yang hilang, yang menurut Anda dapat menjauhkan Anda dari Allah.
Injil Yesus Kristus datang dan seolah-olah berkata, ”Pembenaran (menjadi benar karena Allah) adalah dengan iman, bukan perbuatan.” Karena itu, memiliki keunggulan etnis atau agama tertentu terbukti tidak ada gunanya. Tidak memiliki keunggulan etnis atau agama tertentu terbukti tidak merugikan. Alasannya adalah karena iman dalam Kristus, pada hakikatnya, berpaling dari perbedaan (positif atau negatif) yang Anda miliki dalam diri Anda, dan memandang kepada kasih karunia Allah yang cuma-cuma untuk dibenarkan dan memiliki hidup yang kekal.
Keesaan Allah berarti bahwa hanya ada satu jalan keselamatan bagi semua orang. Karena Allah yang satu ini adalah Allah yang berdaulat, Allah yang berkecukupan yang tidak dapat dipengaruhi oleh pekerjaan manusia, tetapi berlimpah dalam kasih karunia, maka satu-satunya jalan keselamatan adalah oleh kasih karunia melalui iman. Itu bukan dari diri kita sendiri, tetapi adalah pemberian Allah; bukan hasil pekerjaan kita, jangan ada orang – budaya, ras, atau kelompok etnis apa pun – yang memegahkan dirinya (Efe. 2:8-9).
Itulah langkah kedua. Karena Allah adalah esa, Dia membenarkan orang Yahudi dan bukan Yahudi dengan cara yang sama, bukan melalui dua cara yang berbeda. Dia membenarkan orang yang bersunat (Yahudi) karena iman dan orang yang tidak bersunat karena iman (bukan-Yahudi).
Dia adalah Allah bagi Bangsa-Bangsa
Akhirnya, langkah ketiga. Karena Allah adalah satu, membenarkan semua orang dengan cara yang sama – hanya dengan iman di dalam Kristus saja – bukan dengan cara yang berbeda, sehingga Dia bukan Allah bagi orang Yahudi saja, tetapi Allah bagi bangsa-bangsa lain juga. Ayat 29 menyatakan: ”Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” Kata “”bukan-Yahudi” merujuk pada semua jenis kelompok etnis.
Jadi, apa artinya bagi kita hari ini untuk mengatakan kalau Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa; Allah dari setiap kelompok etnis yang pernah Anda lihat di lingkungan Elliot Park dan Phillips? Ini setidaknya berarti empat hal.
1. Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa berarti Allah yang menciptakan semua bangsa. Kisah Para Rasul 17:26: ”Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi.” Perbedaan etnis adalah perbuatan-Nya Allah. Berhati-hatilah terhadap prasangka Anda. Datanglah kepada Allah karena kasih yang Dia miliki bagi bangsa-bangsa.
2. Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa berarti Dia yang akan menebus suatu umat bagi diri-Nya sendiri dari setiap bangsa. Wahyu 5:9: ”Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.” Allah berarti memiliki orang-orang yang ditebus dari setiap kelompok etnis. Karena itu, tidak ada yang boleh dihina, tetapi dikasihi dan diikuti dengan kasih karunia.
3. Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa berarti Dia siap untuk membenarkan siapa pun, di mana pun, dari bangsa mana pun melalui iman saja di dalam Yesus Kristus. Hanya ada satu jalan keselamatan bagi semua bangsa. Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa karena Dia telah membuat jalan bagi mereka semua – jalan yang sama dan itu adalah jalan kasih karunia.
4. Allah adalah Allah bagi bangsa-bangsa berarti Allah ingin dikenal oleh semua bangsa. Mazmur 96:1-4: ”Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah.”
Sampai titik inilah teks ini membawa kita pada sore ini. Kita menceritakan kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa – dan di lingkungan sekitar. Untuk itulah gunanya berbagai spanduk, pamflet, lagu, doa, dan kehadirannya Anda. Tetaplah bersama kami dan biarkan perjalanannya Anda menjadi bagian dari penggenapan teks tersebut pada hari ini.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "One God and One Salvation for All the Nations"