Sukacita Surga
28 Juni
Artikel oleh .
Pendiri dan Pengajar, desiringGod.org
”Biarlah mata kita tertuju pada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna iman kita, yang demi sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya, rela menanggung salib”
(Ibr. 12:2, AYT)
Iman terkadang melakukan hal-hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
Dalam bukunya Miracle on the River Kwai, Ernest Gordon menceritakan kisah nyata sekelompok tawanan perang yang bekerja di Jalur Kereta Api Burma selama Perang Dunia II.
Pada penghujung hari, alat-alat kerja dikumpulkan dari para pekerja. Dalam suatu kesempatan, seorang penjaga Jepang berteriak bahwa ada sebuah sekop yang hilang dan menuntut untuk mengetahui tahanan mana yang mengambilnya. Dia mulai mengoceh dan membentak; membuatnya [terlihat seperti] seorang yang pemarah-dan-paranoid dan memerintahkan siapa pun yang bersalah untuk melangkah maju. Tidak ada yang bergerak. ”Semua mati! Semua mati!” jeritnya, [sambil] mengokang dan mengarahkan senapannya ke arah para tahanan. Pada saat itu, seorang tahanan melangkah maju dan penjaga [lain] memukuli tahanan tersebut dengan senapannya sampai mati sementara dia berdiri diam. Ketika mereka kembali ke kamp, semua peralatan kerja dihitung lagi dan [ternyata] tidak ada sekop yang hilang.
Apa yang dapat menopang keinginannya Anda untuk mati bagi orang lain ketika Anda tidak bersalah? Yesus dibawa dan ditopang dalam kasih-Nya bagi kita oleh ”sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya”. Dia mengandalkan berkat-dan-sukacita-masa-depan yang mulia. Itulah yang membawa dan menopang-Nya dalam kasih untuk melewati penderitaan-Nya.
Celakalah kita jika kita berpikir kita harus atau dapat dimotivasi-dan-dikuatkan untuk melakukan ketaatan yang radikal-dan-mahal harganya dengan motif yang lebih tinggi daripada sukacita yang telah ditetapkan bagi kita. Ketika Yesus menyerukan ketaatan yang mahal harganya yang akan membutuhkan pengorbanan dalam kehidupan ini, Dia berkata dalam Lukas 14:14 (AYT): ”Kamu akan diberkati karena orang-orang ini tidak dapat membalasmu kembali; kamu akan mendapat balasannya pada waktu kebangkitan orang-orang benar.” Dengan kata lain, kuatkanlah dirimu sekarang dalam segala kerugianmu demi Kristus karena sukacita yang telah ditetapkan bagimu.
Petrus berkata bahwa ketika Yesus menderita tanpa membalas, maka Ia meninggalkan kita suatu teladan untuk diikuti — dan teladan itu termasuk keyakinan-Nya Yesus terhadap sukacita yang telah ditetapkan bagi-Nya. Dia menyerahkan perkara-Nya kepada Allah (1 Pet. 2:21) dan tidak mencoba untuk menyelesaikan berbagai masalah dengan pembalasan. Dia menaruh pengharapan-Nya pada kebangkitan; pada segala sukacita dari penyatuan kembali dengan Bapa-Nya; dan pada penebusan umat-Nya. Kita juga seharusnya seperti itu.
Artikel ini diterjemahkan dari "Enduring When Obeying Hurts."