Ketika Badai Terburuknya Anda Tiba

16 Juli 2019
Artikel oleh Jon Bloom
Staf penulis, desiringGod.org

Pada 16 Juli 1999, dua puluh tahun yang lalu, pesawat-bermesin-satunya John F. Kennedy Jr., Piper Saratoga, jatuh ke Samudra Atlantik di wilayah lepas pantainya Martha’s Vineyard. John (38), istrinya Carolyn (33), dan saudarinya Carolyn, Lauren (34) terbunuh dalam musibah ini. Hasil penyelidikan menyimpulkan kalau musibah ini disebabkan oleh fenomena yang dikenal sebagai ”disorientasi spasial”.

Disorientasi spasial/ruang terjadi ketika seorang pilot terbang dalam kegelapan atau kondisi cuaca yang menghalanginya melihat cakrawala atau tanah. Titik pandang yang biasanya menuntun pengindraannya telah hilang. Persepsi pengindraannya menjadi tidak bisa diandalkan. Dia tidak lagi tahu mana atas dan mana bawah. Bahaya dari disorientasi seperti ini sudah jelas. 

Itulah sebabnya mengapa kebanyakan pesawat dilengkapi dengan berbagai peralatan navigasi yang dirancang untuk menginformasikan arah, ketinggian, dan kecepatan angin pada penerbang. Jika seorang pilot sedang terbang dalam kondisi gelap atau berawan ketika penginderaan spasial alaminya menjadi tidak bisa diandalkan, dia bisa ”terbang dengan mengandalkan berbagai peralatan navigasinya”. 

Disorientasi Spasial

Belajar untuk lebih mengandalkan peralatan navigasinya pesawat ketimbang pengindraan dan intuisi kita sendiri, bagaimanapun, membutuhkan latihan. Ketika pikiran kita merasakan adanya potensi bahaya, terutama yang bisa mematikan, biasanya akan segera memerintahkan kita untuk banting ke kanan. Sementara itu, peralatan navigasi malah memerintahkan kita untuk banting ke kiri. Karena itu, adalah hal yang sulit bagi seseorang untuk bisa mengandalkan peralatan navigasi. Terkait musibah Kennedy ini, seorang pakar menyatakan: ”Anda harus terlatih dengan baik untuk mengabaikan apa yang dikatakan otaknya Anda… dan hanya terbang dengan mengandalkan peralatan navigasi.”  

John belum mendapatkan pelatihan ini. Dia hanya terlatih untuk terbang dalam kondisi ketika ia bisa dengan jelas membedakan langit dan daratan. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju Martha’s Vineyard, dia terbang melewati kabut yang tebal pada malam hari sehingga mengalami disorientasi spasial dan memilih untuk mengandalkan persepsinya untuk menuntunnya. Tiga hari kemudian, para penjaga lepas pantai menemukan puing-puing pesawat beserta jenazah para penumpangnya yang masih muda-muda tersebut di dasar Samudra Atlantik. 

Hal semacam ini ada kemiripannya dengan urusan rohani. Saya sudah mengalaminya. Pada musim semi Mei 1997, saya terbang memasuki kabut-iman yang sangat gelap. Saya mulai kehilangan pandangan terhadap titik pandang yang dalam kondisi normal bisa menuntun saya terbang dengan baik. Saya mengalami disorientasi secara rohani dan mulai terpuruk. 

Kehilangan Pengindraannya Saya 

Istilah Kristen yang lebih familiar untuk merujuk pada pengalaman saya tersebut adalah ”krisis iman” atau ”masa kelamnya jiwa”. Saya sering menyebutnya sebagai ”gerhana-Nya Allah”. Sejak pertama kali menjadi hakul-yakin pada Kristus, Dia tiba-tiba menjadi hilang dari pandangan rohaninya saya.   

Ini bukan sekadar hanya kabut. Ini adalah badai yang dahsyat. Pencobaan terhadap rasa ragu saya kali ini tidak seperti yang pernah saya alami sebelumnya. Rasa ini bertumbuh begitu gelap dalam jiwa saya. Angin puting ketakutan bertiup dengan kekuatan penuh. Goncangan keputusasaan terasa keras sekali. Saya tidak lagi bisa membedakan arah ke atas atau ke bawah. Saya tidak lagi bisa merasa pasti mengenai apa pun yang saya percaya mengenai Allah, dunia, ataupun jiwanya saya. Saya sudah kehilangan pengindraannya saya. 

Banyak hal yang dipertaruhkan. Jika saya salah memilih, maka hanya akan ada bencana. Salah memilih berarti akan menerbangkan ”pesawat kehidupannya” saya menuju arah yang salah; yang cepat atau lambat akan berakhir tragis. Memahami bahaya tersebut, otak saya segera meneriakkan berbagai perintah penting (yang seringkali bertentangan).  Saya memutar ke depan dan ke belakang; membanting ke satu arah dan kemudian ke arah lain; mencoba mendapatkan arah yang bisa diandalkan. 

Terbang Dengan Iman

Suatu hari, setelah menghabiskan berbulan-bulan yang panjang dalam badai, sebuah pikiran muncul dengan suatu kejelasan yang tidak lazim: ”Jon, terbanglah dengan mengandalkan peralatan navigasi.”

Pikiran ini mengingatkan saya mengenai apa yang harus dilakukan para pilot ketika mereka sedang tidak bisa mengandalkan penglihatannya. Mereka harus memaksakan diri untuk berhenti mengandalkan persepsi subjektifnya dan menaruh iman mereka pada berbagai peralatan navigasi yang secara objektif memandu mereka. Mereka harus terbang dengan imannya, bukan dengan penglihatannya. 

Badai ini merupakan badai yang tergelap dan paling membingungkan yang pernah saya alami. Namun, bukan berarti itu adalah badai pertama dalam hidup saya. Pada tahun-tahun sebelumnya, Allah telah melatih saya dengan berbagai cara untuk percaya pada janji-Nya alih-alih pada persepsinya saya. Saya selalu menyadari kalau janji-Nya memang lebih bisa diandalkan. Jadi, selama berlangsungnya badai yang dahsyat ini, ketika segala sesuatu tampak tidak pasti, ketika saya mengalami disorientasi dan hampir panik, saya bisa memilih untuk percaya pada persepsi saya akan kenyataan yang sedang terombang-ambing atau percaya pada janji-Nya Allah.  Saya sudah pernah dilatih. Kini, hidup saya sangat tergantung pada bagaimana saya menerapkan pelatihannya saya. 

Ketika langit tampak cerah dan kaki kita berdiri teguh di tanah, ketika kita membayangkan diri sedang terbang melewati badai seperti itu, mudah untuk membayangkan diri kita dengan tenang mengandalkan peralatan navigasi – terbang dengan iman. Namun, setiap pilot yang sudah mengikuti pelatihan untuk terbang mengandalkan peralatan navigasi akan bersaksi kalau pengalaman di lapangan tidak seperti yang kita bayangkan. Kita biasanya tidak menyadari betapa tergantungnya kita pada persepsi kita sampai peralatan navigasi kita bertentangan dengannya. Pada saat itulah kita mengalami disorientasi yang membingungkan. Semua impuls yang kuat dan meyakinkan, juga ketakutan, menguasai kita. Saat itulah kita akan merasa sinting jika sampai membiarkan diri kita mengandalkan peralatan navigasi. 

Fokus Pada Panel Instrumen

Dalam malam terkelamnya jiwa saya, saya memutuskan untuk terbang dengan mengandalkan peralatan navigasi – untuk diarahkan sesuai petunjuk Alkitab sampai saya memiliki cukup bukti kalau peralatan navigasi itu tidak lagi layak diandalkan. Keraguan dan ketakutan hanya membawa saya semakin kebingungan dan menuju tempat yang lebih gelap. Janji-Nya Allah selalu memberi saya lebih banyak terang dan pengharapan dibandingkan apa pun yang pernah saya tahu. Pelatihan saya yang sebelumnya mendorong saya untuk meragukan keraguannya saya.

Masih saja sulit. Saya tetap harus melindungi diri saya terhadap rasa takut. Hal itu memakan lebih banyak waktu ketimbang yang saya perkirakan. Seringkali, saya harus melawan godaan untuk mengabaikan peralatan navigasi itu dan mulai mengandalkan pada apa yang saya pikir benar. Namun, saya sudah memiliki cukup pengalaman dan mengenal Alkitab dengan baik untuk tahu apa yang bisa diberikan oleh ”apa yang saya pikir benar” tersebut, yaitu omong kosong belaka. 

Jadi, saya memilih berfokus pada panel instrumennya saja. Saya terus mencari Allah dalam Alkitab; terus berdoa; terus menghadiri kebaktian di gereja dan pertemuan kelompok kecil. Saya terus melakukan semuanya itu terlepas dari apakah semua hal itu sanggup membantu atau tidak pada saat itu (yang memang seringkali tidak). Saya terus melakukan pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan pada saya. Saya membuka hati untuk percaya pada sahabat dan mentor. Saya meminta dikonseling. Pada satu titik, John Piper berkata pada saya, ”Batu karang kebenaran yang diinjakmu sebentar lagi tidak akan terasa seperti pasir.” Saya membatin, ”Saya berharap Anda benar. Namun, saya meragukan hal itu akan terjadi.” 

Keraguan saya kemudian terbukti salah. Bahkan, janji-Nya Tuhan kembali terbukti sebagai instrumen yang bisa diandalkan. Rasa takut saya kembali terbukti tidak bisa diandalkan. Saya tidak hancur. Allah telah menghilangkan awan kegelapannya saya dengan terang-Nya. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana Ia melakukannya. Gerhana telah berakhir. Allah, matahari terbesar dalam hidupnya saya kembali bersinar; menyinari dunianya saya (Mzm. 36:9).  

Kini, saya bersyukur pada Allah untuk setiap menit yang pernah saya alami dalam badai yang begitu dahsyat itu. Peristiwa itu mengajarkan saya jauh lebih banyak mengenai apa artinya ”hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan” (2 Kor. 5:7, AYT). Peristiwa itu memengaruhi hampir semua yang saya tulis dan khotbahkan. 

Selalu Terbang Dengan Mengandalkan Peralatan Navigasi 

Karena sebelumnya saya pernah menceritakan kisah ini, saua menyadari deskripsi metafora yang saya gunakan tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama bagi mereka yang mengalami hal yang serupa. Banyak orang yang menghubungi saya untuk menanyakan hal yang lebih spesifik. Apa yang menjadi natur bagi krisisnya saya tersebut? Apa penyebabnya? Berapa lama hal itu berlangsung? Bagaimana Allah melepaskan saya dari situasi tersebut? Saya mengerti mengapa mereka bertanya. Mereka juga sedang mencari pengharapan di tengah-tengah penerbangan mereka menembus badai yang dahsyat. Saya sungguh mengerti. 

Bukan hanya kisah lengkapnya terlalu panjang untuk diceritakan, namun rinciannya memang tidak terlalu penting dan terbukti tidak membantu jika pengalaman seseorang berbeda dengan pengalamannya saya. 

Nyatanya, bagi mereka yang mengalaminya, natur dan penyebab krisis tersebut (atau berbagai malam kelam tersebut) berbeda antara satu dengan yang lainnya. Itu seperti halnya terkait kondisi cuaca yang berbeda variasi dan gradasinya yang membuat penerbangan seseorang menjadi sukar dan berbahaya. Badainya Anda sangat mungkin berbeda dengan badainya saya. 

Jika ada yang perlu diingat, sangat penting untuk memahami kalau Yesus memahami seperti apa kegelapan badainya kita (Ibr. 4:15). Badai-Nya Yesus, dari Getsemani hingga Golgota, jauh lebih buruk dari apa yang Anda dan saya pernah ketahui. Dia dengan sukarela memasuki badai tersebut supaya bisa menyelamatkan kita semua dari badai, terutama dari badai terdahsyat, yaitu murka Allah terhadap dosanya kita. Itulah sebabnya Yesus datang ke dunia ini. Badainya itu menghancurkannya sehingga badainya kita bisa menebus kita. 

Membandingkan badai bukanlah apa yang kita perlukan. Apa yang diperlukan ialah membagikan berbagai prinsip dan protokol yang krusial yang bisa membantu pesawat kita terbang dalam berbagai kondisi disorentasi yang sedang kita alami. Satu hal yang ingin saya bagikan pada Anda: ”Ketika persepsi Anda memberitahu sesuatu yang bertentangan dengan janji Allah, maka Anda selalu, selalu, dan selalu mengandalkan janji-Nya Allah ketimbang persepsinya Anda.” 

Ada terlalu banyak kisah mengenai orang-orang yang karena disorientasi spasial rohaninya telah membuat mereka mengalami kecelakaan yang tragis karena mereka tidak mengandalkan peralatan navigasinya. Ketika Anda sedang mengalami disorientasi dan kebingungan, ingatlah untuk selalu terbang dengan mengandalkan peralatan navigasi.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'When Your Worst Storm Comes.'

You may also like...

Tinggalkan Balasan