Yak. 1:17 (AYT)
Setiap pemberian yang baik dan setiap pemberian yang sempurna datang dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang, pada-Nya tidak ada perubahan atau pertukaran bayangan.
Ayat 17 ini merupakan jawaban-dan-kesimpulan atas pertanyaan: “Siapakah yang harus dipersalahkan ketika saya terjatuh di dalam dosa?” Saya, Si Jahat/Iblis, atau Tuhan? Ketika kita terjatuh di dalam dosa, secara alami kita suka menyalahkan Tuhan. Kita menganggap-Nya harus bertanggungjawab baik secara langsung maupun tidak.
Ketika Adam ditanya apakah ia melanggar perintah Tuhan, ia menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan” (Kej. 3:12). Alih-alih menjawab ya/tidak atas pertanyaan Tuhan, Adam malah menyalahkan Tuhan secara tidak langsung. Seolah-olah jika Tuhan tidak menciptakan Hawa, maka semua ini tidak akan terjadi.
Sikap menyalahkan Tuhan, baik secara langsung maupun tidak, seperti inilah yang dimaksud Yakobus sebagai “sesat”. Allah adalah “Bapa segala terang”. Ia “tidak dapat dicobai (apeirastos) oleh si Jahat dan Dia sendiri tidak mencobai siapa pun”. Kata Yunani “apeirastos” (yang diterjemahkan menjadi “tidak dapat dicobai”) hanya muncul 1x di PB dan hanya digunakan pada Allah. Kata ini menegaskan kalau Allah sama sekali tidak memiliki natur jahat atau pun pernah melakukan apa yang jahat.
Ia kudus (Yes. 6:3, 1 Pet. 1:15-16) dan righteous/ benar-dan-adil (Mzm. 119:137; Yes. 45:19). Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja (Luk. 18:19).
Walaupun segala sesuatu dan setiap peristiwa hanya bisa terjadi karena seijin-Nya dan sepengetahuan-Nya, Ia tidak bisa dipandang sebagai pihak yang menyetujui terjadinya perbuatan dosa (Hab. 1:13; Yoh. 8:38-47). Ia tidak bisa dianggap ikut bertanggungjawab ketika terjadi kejahatan (1 Pet. 1:17).
Di bagian ini Yakobus menunjukkan dengan jelas siapa yang harus dipersalahkan. Tidak lain tidak bukan adalah hawa nafsu/”epithumia” dalam diri kita sendiri. Allah hanya mengijinkan Iblis mencobai kita. Iblis hanya memasang umpan. Namun, kita yang dengan sadar dan sengaja yang memilih untuk “diseret dan dipikat” oleh hawa nafsu/”epithumia” kita sendiri.
Jika Saudara masih mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada hidup Saudara saat ini, maka Saudara adalah orang yang sesat. Seperti Adam, Saudara menolak bertanggungjawab atas pilihan/tindakan Saudara.