29 Juli 2020 Wawancara dengan John Piper Pendiri & Pengajar, desiringGod.org
Allah senang bertindak untuk mereka yang menanti-nantikan-Nya. Jadi, bagaimana kita menantikan Allah? Apakah menantikan Allah berarti kita tidak berbuat apa-apa? Kapankah kita berhenti menunggu dan mulai bertindak? Itu adalah pertanyaan penting yang dijawab dalam khotbah Pendeta John tentang Yes. 64:1–4. Sebuah khotbah yang disampaikannya pada tahun 1982. Inilah yang dikatakannya.
Di satu sisi, Allah bertindak untuk semua orang. Dia menerbitkan matahari-Nya bagi mereka yang jahat dan yang baik. Dia menurunkan hujan bagi mereka yang benar dan yang-tidak-benar. Dia menetapkan musim menabur dan menuai, bahkan untuk makhluk pemberontak-Nya (Mat. 5:45). Allah bertindak untuk semua ciptaan-Nya dan semuanya itu dimaksudkan untuk menuntun kita pada pertobatan. Namun, terkait ayat berikut, tindakan Allah yang dimaksud bukanlah anugerah umum yang diberikan kepada semua orang, melainkan anugerah khusus yang hanya diberikan-Nya kepada mereka yang memiliki karakteristik tertentu.
”Tidak ada mata yang telah melihat Allah selain Engkau, yang bertindak bagi mereka yang menanti-nantikan Dia” (Yes. 64:4, AYT).
Tindakan yang dimaksudkan di sini jelas bukan hanya merujuk pada karya penciptaan-dan-pemeliharaan. Bukan hanya mengenai pemenuhan kebutuhan alami yang dilakukan-Nya bagi semua orang. Sebaliknya, ini adalah investasi dari semua kekuasaan Allah yang tak terbatas; kedaulatan kuasa untuk melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan bagi umat-Nya demi kebaikan mereka. Untuk siapa Allah melakukannya? Ia melakukannya untuk mereka yang menanti-nantikan Dia.
Jadi, pertanyaan terbesar bagi kita saat ini adalah: ”Seperti apa itu? Bagaimana melakukannya?” Saya ingin mencoba menunjukkannya dari Nabi Yesaya mengenai bagaimana untuk menanti-nantikan Tuhan.
Nantikan dan Berdoalah
Bangsa yang dibicarakan Yesaya sedang berada di dalam masalah. Mereka berada dalam bahaya dari para musuhnya, yaitu bangsa Asyur dan Babel.
Sekarang, bahaya yang dilihat Allah bukanlah mengenai bangsa Asyur dan Babel, tetapi godaan bagi bangsa Israel untuk lari ke Mesir meminta pertolongan; bukan kepada Allah. Alih-alih menunggu pertolongan-Nya Allah, Yesaya melihat ada godaan yang membayang-bayangi. Mereka akan mengejar pertolongan dari manusia sehingga dia berkata dalam Kitab Yesaya 31:1: ”Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.
Jadi, hal pertama yang dimaksud menantikan Allah adalah: ”Sebelum Anda mengintip upaya bagaimana untuk memecahkan masalahnya Anda sendiri atau menyewa jasa manusia, berdoalah.” Carilah nasihat dari Allah. Bagaimana cara-Nya Dia untuk menyelesaikan masalah ini dan membantu Anda keluar dari masalah? Dinyatakan dalam Kitab Mazmur 106:13, ”Tetapi segera mereka melupakan perbuatan-perbuatan-Nya, dan tidak menantikan nasihat-Nya.”
Oleh karena itu, tindakan pertama saat menanti adalah berdoa—sebelum kita mengambil langkah kecil apa pun untuk menyelesaikan masalah kita. Jika Anda seperti saya, saya tahu kalau Anda mungkin juga telah melakukan ini, setelah mencoba melakukan ini itu dan sesudah satu jam kemudian barulah Anda akan menyadari, ”Saya lupa berdoa.”
Kita perlu berusaha untuk membentuk kebiasaan untuk berhenti sejenak. Lagi, lagi, dan lagi. Saya pikir itulah yang dimaksud Paulus ketika dia berkata, ”Berdoalah tanpa henti-hentinya!” (1 Tes. 5:17, MILT). Sebelum melakukan apa pun, pada setiap kesempatan kecil dalam hidup Anda — setiap wawancara, setiap pertemuan — bisikkanlah sebuah doa. ”Apa yang akan terjadi jika saya mengandalkan Engkau? Apa yang Engkau ingin saya kerjakan?” Barulah kemudian Anda melakukan apa yang dikatakan Tuhan.
Kita ini ibarat seperti pasien. Berdoa itu seperti mengangkat gagang telepon dan menelepon dokter Anda lalu berkata, “Saya sedang berada dalam masalah. Ada rasa sakit di sini. Apa yang harus saya lakukan?” Sebelum Anda menelan obat apa pun atau mulai melakukan jumping jack, hubungilah dokter.
Nah, si dokter mungkin memberitahu Anda, ”Berbaringlah. Jangan lakukan apa-apa.” Atau, dia mungkin memberitahu Anda, ”Minumlah obat. Berolahragalah.” Sekarang, dua instruksi dari Tuhan itu membawa kita dalam dua bentuk penantian yang berbeda. Kita tidak berhenti menanti setelah kita menelepon. Kita tetap menunggu. Ada dua jenis penantian yang berbeda. Mari kita lihat satu per satu di sini.
Nantikan dan Tenanglah
Yang pertama, ketika si dokter berkata, “Berbaringlah.” Kitab Yesaya 30:15–16 menyatakan: ”Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: ’Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.’ Tetapi kamu enggan, kamu berkata: ’Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,’ maka kamu akan lari dan lenyap.”
Dengan kata lain, Allah sedang berkata di telepon, ”Duduk saja dan Aku akan bertindak untukmu. Tenang dan beristirahatlah. Aku akan menjadi kekuatanmu.” Namun, mereka tidak melakukannya. Mereka ingin meraih kemenangannya mereka sendiri demi kemuliaannya mereka sendiri di atas kuda dan kereta. Kadang-kadang, kita harus bersedia ditelepon untuk menerima berita yang membuat kita frustrasi: ”Tenanglah.” Kita perlu diingatkan mengenai apa yang dikatakan Musa kepada bangsa itu saat mereka akan menyeberangi Laut Merah: ”Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN,… TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Kel. 14: 13-14).
Jadi, inilah hal kedua mengenai perihal menantikan Tuhan — setelah Anda menelepon dokter dan dia berkata, ”Tenanglah”, maka tenang dan beristirahatlah.
Nantikan dan Bertindaklah
Namun, ada cara ketiga untuk menantikan Tuhan. Dia mungkin berkata, “Bangunlah, berrolahragalah, dan minum obatmu.” Atau dalam konteks Perjanjian Lama, Dia mungkin berkata, ”Pergilah bertarung dan berperang.”
Dalam keluarga saya, kami sedang membaca Kitab 2 Samuel untuk renungan di pagi hari. Beberapa hari yang lalu, kami sampai di 2 Samuel 5:19. Situasinya saat itu, Daud baru saja mengambil alih kekuasaan setelah matinya Saul dan orang Filistin sedang mengepungnya. Inilah yang dilakukannya: ”Bertanyalah Daud kepada TUHAN.” Dia menunggu. ”Apakah aku harus maju melawan orang Filistin itu? Akah Kauserahkankah mereka ke dalam tanganku?” TUHAN menjawab Daud: ”Majulah, sebab Aku pasti akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.” Jadi, perintah untuk Daud bukanlah ”Diam. Berbaringlah”, melainkan ”Berjuanglah.” Daud tidak mengambil tindakannya sendiri. Dia menunggu.
Namun, inilah intinya. Sekarang, pikirkan dengan saksama karena kita sangat cenderung menganggap bahwa menunggu berarti diam. Begitu kita mulai bertindak—menyiapkan khotbah atau pelajaran, pergi bekerja, menyiapkan laporan, begadang untuk bekerja, bekerja, bekerja— kita pikir kita tidak perlu lagi menunggu. Bukan itu masalahnya. Jika memang ada semangat untuk menunggu di tengah-tengah bekerja, maka hal ini akan mengubah segalanya. Kitab Amsal 21:31 menyatakan: ”Kuda dipersiapkan untuk hari peperangan, tetapi kemenangan adalah milik TUHAN.”
Apakah Anda melihat implikasinya bagi para pejuang? Artinya ketika Tuhan berkata ”Pergi”, dia tidak berhenti menunggu. Dia membawa semangat pengharapan bersamanya ke dalam pertempuran, perasaan bahwa ”Ya, saya akan bertarung dengan sekuat tenaga, tetapi saya harus menunggu Pribadi yang di tangan-Nya sendiri adalah kemenangan.” Tidak peduli seberapa kerasnya Anda bekerja, harus ada semangat menunggu; semangat pengharapan; semangat yang keluar dari-dan-melalui semua aktivitas ini akan datang kilat dari surga untuk melakukan tindakan yang supernatural. Pemazmur menjelaskannya dalam Maz. 33: 16–17, 20–22: ”Raja tidak diselamatkan oleh besarnya pasukan; seorang pahlawan tidak dilepaskan oleh kekuatannya yang besar. Kuda adalah harapan palsu bagi kemenangan; walau dengan semua kekuatannya yang besar, ia tidak bisa menyelamatkan. Jiwa kita menantikan TUHAN. Dia adalah penolong dan perisai kita. Sebab, hati kita bersukacita di dalam Dia; sebab, kita percaya di dalam nama-Nya yang kudus. Biarlah kasih setia-Mu, ya TUHAN, ada pada kami, sebagaimana kami berharap kepada-Mu.”
Jika Tuhan memerintahkan kita untuk mengambil tindakan pencegahan tertentu, seperti mengunci pintu pada malam hari, jangan berpikir bahwa Anda kemudian bisa berhenti untuk menunggu Tuhan. Karena Kitab Mazmur 127:1 menyatakan: ”Seandainya bukan TUHAN yang membangun rumah, orang-orang yang membangunnya bekerja keras dalam kesia-siaan.”
Bahkan, ketika kita hanyalah seorang penjaga yang melakukan tugas kita, kita harus menunggu Tuhan karena Dia sendirilah yang membawa keselamatan. Jadi, bentuk penantian ketiga adalah bahkan ketika Tuhan berkata ”Bertindaklah” maka kita bertindak dengan semangat yang bersandar pada tindakan-Nya. Kita menunggu Tuhan dengan semangat pengharapan bahwa meskipun karyanya kita rentan-dan-sepele, hasil akhir dari semua yang kita lakukan berada di tangan Tuhan. Karena itu, kita menunggu dalam semua karya kita.
Perhatikan Allah Bekerja
Sebagai kesimpulan, izinkan saya menyatakan tiga hal berikut ini:
- Ketika keadaan tampak bersekongkol menempatkan Anda berada di bawah tekanan sehingga Anda merasa ada sesuatu yang harus dilakukan — sesuatu harus dilakukan untuk keamanan atau untuk pelayanan — nantikanlah Tuhan. Berdoalah. Sebelum melakukan hal yang lain, carilah Tuhan; carilah nasihat-Nya. Jika ada, apa yang Dia ingin Anda lakukan?
- Jika Tuhan berkata, ”Duduk dan bersantailah”; jika Tuhan berkata, ”Jangan pergi ke gereja malam ini untuk ikut dalam pertemuan para pengurus. Tinggallah di rumah dan berdoalah. Aku akan bertindak lebih baik dibandingkan argumenmu,” maka tetaplah di rumah.
- Jika Tuhan berkata, ”Pergi dan berargumenlah dengan segenap kekuatanmu,” maka janganlah diam. Pergilah.
Perkenankan saya menekankan poin kedua. Yang saya maksud bukan kita bermalas-malasan dan mengabaikan tugas. Maksud saya, pengalaman yang sangat membuat frustrasi adalah kadang-kadang, ketika Anda sudah sangat siap, ketika Anda berpikir semua tergantung pada Anda, semangatnya Anda sudah berapi-api, Tuhan mungkin berkata, ”Kamu tinggal di rumah saja malam ini dan lihat Aku bertindak.” Anda merasa sedikit frustrasi karena telah merencanakan semuanya. Namun, Tuhan ingin bertindak untuk Anda sehingga Dialah yang beroleh kemuliaan, bukan kita.
Jadi, entah kita berbaring diam dan duduk, entah kita berkarya, marilah kita sama-sama melakukan ini: ”Kita menantikan Tuhan. Kita memiliki semangat pengharapan tidak peduli betapa sepelenya karya kita.” Hasil akhir berada di tangan Tuhan. Dia suka bertindak untuk mereka yang menanti-nantikan-Nya.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'How Do I Wait for God?.'