Apakah Anda Berdoa Seperti Seorang Ateis?

3 Agustus 2017
Artikel oleh David Mathis
Editor Eksekutif, desiringGod.org

Meminta bantuan dari Sang Ilahi tidak membuat Anda menjadi seorang Kristen, tetapi itu hanya berarti Anda adalah manusia.

Menurut Tim Keller, manusia dalam sepanjang sejarah dan di seluruh penjuru dunia telah membuktikan dirinya memiliki ”naluri untuk berdoa”.

Doa merupakan salah satu fenomena paling umum dalam kehidupan manusia. Bahkan orang-orang yang tidak religius sengaja berdoa pada waktu-waktu tertentu. Penelitian telah menunjukkan bahwa di negara-negara sekuler, doa terus dipraktikkan tidak hanya oleh mereka yang tidak memiliki pilihan agama, tetapi bahkan oleh banyak dari mereka yang [mengatakan] tidak percaya pada Allah.

Keller mencatat bahwa satu studi menemukan bahwa ”hampir 30 persen ateis mengakui bahwa mereka ‘kadang-kadang’ berdoa, dan yang lain menemukan bahwa 17 persen orang yang tidak percaya kepada Allah berdoa secara teratur.”

Ada banyak orang yang tidak berdoa bahkan pada saat-saat yang sangat berbahaya. Namun, meskipun doa bukanlah fenomena universal secara harfiah, berdoa adalah fenomena global; ada di semua budaya dan melibatkan sebagian besar orang di beberapa titik dalam hidup mereka. Upaya untuk menemukan budaya, bahkan di tempat yang sangat terpencil dan terisolasi, tanpa adanya suatu bentuk agama dan doa telah gagal. (Prayer, 36)

Kekristenan tidak berbeda karena kita juga memanggil yang ilahi. Namun, mereka yang mengikuti Alkitab akan berdoa dengan cara yang benar-benar unik; terpisah dari semua jenis seruan lainnya ke langit — dan implikasinya sangat besar terhadap cara kita berdoa setiap hari.

Panggil Allah dengan Nama-Nya

Di seluruh isi Perjanjian Lama (PL), frasa ”memanggil nama TUHAN” berfungsi sebagai semacam bahasa kode untuk doa. Frasa itu muncul pertama kali dalam Kejadian 4:26, kemudian empat kali lagi dalam Kitab Kejadian (12:8; 13:4; 21:33; 26:25) dan beberapa kali dalam kitab narasi sejarah, mazmur, dan para nabi. Penting untuk dicatat bahwa pengulangan itu bukan sekadar bahwa umat Allah memanggil-Nya, tetapi bahwa mereka ”memanggil nama TUHAN.” Ini lebih dari sekadar naluri khasnya manusia untuk berdoa.

Memanggil nama TUHAN bukan sekadar permohonan yang lazim untuk bantuan ilahi. Memanggil nama TUHAN bukanlah mencari Allah sebagai dewa yang jauh di sana. Memanggil nama TUHAN bahkan bukan penghormatan yang mengagumkan dari imam-raja kuno Melkisedek, raja kebenaran, yang memberkati Abraham dalam nama ”Allah Yang Mahatinggi” (Kej 14:18-23), melainkan karena tampaknya ia mengetahui nama pribadi-Nya Allah, yaitu Yahweh. Ini bukanlah ”Allah yang tidak dikenal” yang dipuja di Athena dan dirujuk oleh Paulus dalam khotbahnya di Areopagus. ”Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu” (Kis. 17:23).

Apa yang dimulai dalam Kitab Kejadian 4, muncul kembali di berbagai bagian kunci dalam Kitab Suci Ibrani, dan muncul kembali dalam Perjanjian Baru (PB), adalah ketika umat pilihan dari Allah-yang-benar tersebut memanggil Dia. Mereka memanggil Dia dengan nama-Nya. Mereka mengenal-Nya. Tidak seperti para penyembah berhala (atau ateis!) yang meminta pertolongan ilahi, umat Allah mengenal-Nya karena Dia telah mengungkapkan diri-Nya kepada mereka; dan berjanji kepada mereka.

Memanggil nama TUHAN berarti berdoa kepada Yahweh sebagai orang yang mengenal nama-Nya dan menikmati adanya suatu hubungan perjanjian dengan-Nya. Mazmur 116 merayakan, dalam istilah yang luar biasa, apa artinya mengenal satu-satunya Allah yang benar, tidak hanya dalam konsep, tetapi dengan nama. Hanya dalam sembilan belas ayat, pemazmur menyebut Yahweh dengan nama sebanyak enam belas kali— tiga kali secara eksplisit menyebutkan ”memanggil nama” Yahweh (Maz. 116:4, 13, 17).

Para nabi pun melakukan hal serupa. Bahkan Naaman yang adalah orang kafir dengan tepat berasumsi bahwa Elisa, sebagai seorang nabi, mengenal Allah secara pribadi dan memanggil nama-Nya (2 Raj. 5:11). Umat pilihan Allah tidak hanya memanggil Tuhan, tetapi memanggil-Nya dengan nama-Nya, sebagai seseorang yang mereka kenal (Zak 13:9; Zef 3:9), seperti yang dilakukan Elia dalam pertempuran kekuatan besar di Karmel dengan para nabi Baal. ”Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” (1 Raj 18:24). Ketika Yahweh menjawab, Elia memanggil-Nya dengan nama-Nya tiga kali lagi (1 Raj. 18: 36-37) dan orang-orang mengikutinya (1 Raj. 18: 38-39).

Panggil Dia sebagai seorang Kristen

Namun, kita hidup di zaman gereja, bukan di zaman Elia. Yahweh sendiri telah datang ke dunia dalam pribadi Kristus. Sekarang, saat kita memanggil Allah semesta alam dengan nama-Nya, kita memiliki setidaknya dua nama yang bahkan lebih penting, dan bahkan lebih intim, ketimbang Yahweh.

Yang pertama adalah Bapa. Anak Allah sendiri yang memelopori (Mar. 14:36) dan kita mengikuti-Nya oleh karena Roh-Nya: ”Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ’ya Abba, ya Bapa’” (Rom. 8:15). ”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ’ya Abba, ya Bapa’” (Gal. 4:6). Banyak orang mengenal saya berdasarkan nama, tetapi hanya anak-anak saya yang memanggil saya Bapa. Mengetahui nama pribadi Allah adalah Yahweh itu memang berharga. Namun, jauh lebih berharga untuk dapat memanggil-Nya Bapa.

Nama kedua yang juga menutupi nama Yahweh dalam PB ketika Ia menyatakan diri-Nya kepada kita secara klimaks dalam Anak-Nya (Yoh 1:14; Ibr 1:1-2). Ketika Rasul Paulus menulis ”kepada jemaat Allah di Korintus,” ia berbicara kepada ”mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita” (1 Kor. 1:2). Sejak Kristus datang, memanggil Allah dengan nama-Nya berarti mengenal Dia di dalam dan melalui Yesus. Umat perjanjian lama-Nya Allah adalah mereka yang memanggil nama Yahweh. Umat perjanjian baru-Nya adalah mereka yang memanggil nama Yesus.

Kenali Dia, Panggil Dia

Doa orang Kristen memang jauh melebihi naluri manusia. Kita tidak berdoa seperti orang kafir, atau bahkan ateis, dengan memanggil Allah yang tidak dikenal. Sebaliknya, kita berbicara pada Pribadi yang telah mengambil inisiatif; mengungkapkan diri-Nya; dan berjanji kepada kita. Kita tidak memaksakan suara kita pada makhluk tertinggi hipotetis dengan kekuatan kosmik, tetapi luar biasanya kita berdoa dengan keyakinan kepada Allah yang kita kenal nama-Nya.

Kita berdoa bukan hanya sebagai teis, monoteis, atau bahkan sebagai orang-orang kudus dalam PL, tetapi sebagai orang-orang yang sekarang mengenal Bapa kita di dalam dan melalui Tuhan kita Yesus. Hampir terlalu mencengangkan untuk diucapkan: kita mengenal pribadi yang kepada-Nya kita memanjatkan doa, bukan karena kecerdasan kita, pendidikan kita yang tinggi, atau penelitian yang saksama, tetapi karena Dia yang mendekati kita; berbicara dalam sejarah; dan membuat diri-Nya dikenali oleh kita. Jadi, kita memanggil-Nya sebagai Bapa, dan dalam nama Yesus, dengan Alkitab kita yang terbuka, sebagai tanggapan atas apa yang telah dijanjikan-Nya dalam hubungan perjanjian dengan kita.

Sebagai orang Kristen, yang paling menarik bukanlah bahwa kita mengetahui nama Allah adalah Yahweh, tetapi kita sekarang dapat memanggil-Nya Bapa. Juga, bahwa kita mengenal nama Yesus.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "Do You Pray Like an Atheist?."

You may also like...

Tinggalkan Balasan