Artikel oleh Scott Hubbard Editor , desiringGod.org
Selama berabad-abad, orang Kristen menyebut dunia ini sebagai ”lembah air mata”.
Ya, Kristus telah datang. Ya, Dia telah bangkit. Ya, Dia akan datang kembali. Namun, tetap saja kita berduka; merasakan kesakitan; meratap — dan berjalan bersama mereka yang berduka, merasakan kesakitan, dan meratap. Kita berjalan dengan susah payah melewati lembah tersebut dengan hati yang berbeban berat; berduka karena salah satu dari seribu satu alas an, misalnya anak-anak yang depresi; pasangan yang menjauh; harapan yang pupus; orang-orang terkasih yang telah meninggal; dan berbagai dosa kita yang merusak.
Terkadang, kita menangis karena kesedihan hidup menjadi kronis; mengisi hidup kita seperti tamu yang tidak diinginkan yang tidak mau pergi. Di lain waktu, kita menangis karena beberapa kesengsaraan tak terduga yang mendarat seperti meteor dan melubangi jiwa kita. Di lain waktu, kita menangis dan tidak tahu persis mengapa. Kesedihan telah melampaui deskripsi dan analisis.
Untuk para peratap yang seperti itu, pesan Alkitab bukanlah untuk mengeringkan air matanya Anda. Tidak, Alkitab justru menyatakan kalau meratap adalah ciri khas kehidupan seseorang ketika sedang berada di lembah. Pesan Alkitab kepada para peratap jauh lebih simpatik — dan jauh lebih menenangkan.
”Aku Melihat Air Matamu”
Tidak ada seekor burung pipit pun yang jatuh ke bumi di luar kehendak Allah (Mat. 10:29). Demikian juga air matamu.
Ketika Hagar menangis dengan suara yang nyaring di padang gurun Bersyeba, Allah mendekat (Kej. 21:17). Ketika Hana menangis tersedu-sedu di luar Bait Allah, Ia memperhatikan dan mengingatnya (1 Sam. 1:10, 17). Ketika Daud menjadi lesu karena mengeluh, Allah tidak menjadi lelah karena mendengar tangisannya (Mzm. 6:7-10).
Allah, yang merupakan sumber dari segala penghiburan, terus memperhatikan ratapannya Anda. Dia mengumpulkan semua air matanya Anda dan memasukkannya ke dalam kirbat-Nya (Mzm. 56:9). Seperti seorang ibu yang duduk di samping ranjang anaknya yang sakit, Allah memperhatikan setiap keluhan penderitaan dan kesakitan. Tidak peduli berapa banyak penderitaannya Anda yang tidak diperhatikan oleh orang lain, tidak ada satu momen pun yang terluput dari perhatian Allah yang tidak terlelap atau tertidur tersebut (Mzm. 121:4).
Seperti yang Allah nyatakan kepada Raja Hizkia (supaya raja bisa sampaikan pada anak-anaknya kelak), ”Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu” (2 Raj. 20:5).
”Aku Peduli Terhadap Air Matamu”
Banyak dari kita yang merasa malu dengan air mata kita, terutama ketika orang lain melihatnya. Dalam budaya yang menghargai kekuatan dan merasa tidak nyaman dengan kesedihan yang berkepanjangan, banyak dari kita yang menanggapi air mata kita sendiri dengan cepat-cepat menyekanya dengan lengan baju sambil mengatakan ”Sudah, diterima saja.”
Tidak demikian halnya dengan Allah yang belas kasihan kebapaannya memaksa-Nya untuk mendekat kepada orang-orang yang patah hati dan membalut luka-lukanya mereka (Mzm. 147:3). Allah yang berkata ”Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis” (Luk. 6:21) tidak akan mencela Anda karena cucuran air matanya Anda ketika berjalan melewati reruntuhan dunia yang hancur ini.
Ketika Yesus sedang bersama-sama dengan orang banyak di luar kota Nain dan melihat seorang janda menangisi jenazah anaknya, maka ”tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13). Kemudian, ketika Maria tersungkur di kaki Yesus atas kematian saudara laki-lakinya, manusia yang penuh kesengsaraan itu melakukan sesuatu yang agung: ”Maka menangislah Yesus” (Yoh 11:35). Yesus memiliki belas kasihan dan menangis — meskipun Yesus kemudian mengucapkan firman yang membuat kedua orang tersebut kembali dari kematian (Luk. 7:14; Yoh. 11:43).
Hanya karena Yesus mengasihi kita dan tahu bagaimana menyelesaikan masalah kita, bukan berarti Ia akan mengambil jalan pintas untuk mengambil alih kesedihan kita. Orang yang sama yang membangkitkan orang mati, Dialah yang pertama berhenti untuk berlama-lama bersama kita dalam kesedihan kita — untuk turun ke lembah air mata dan berjalan di samping kita.
Yang pasti, tidak semua air mata membangkitkan belas kasih-Nya Tuhan kita. Allah memiliki sedikit kesabaran ketika kita menangis dalam kesengsaraan atas berhala yang Dia singkirkan dari kita, seperti misalnya ketika Israel lebih memilih daging Mesir ketimbang hadirat Allah (Bil. 11:4-10). Namun, setiap air mata yang Anda tumpahkan dalam iman – hancur hati, tetapi percaya; patah hati, tetapi percaya – maka akan ada panji yang menggantung di atasnya: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Maz 34:19).
”Aku Akan Mengubah Air Matamu Menjadi Sorak-sorai”
Beberapa jam sebelum dikhianati, diadili, disesah, dan disalibkan, Yesus berkata pada murid-murid-Nya, ”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh. 16:20). Dukacita dan keluh kesah akan hilang. Air mata akan mengering. Dukacita akan kehilangan cengkeramannya. Demikian pula bagi murid-murid-Nya Yesus, ketika matahari terbit yang menandakan kebangkitan telah membuyarkan bayang-bayang dari hati mereka. Begitu juga kelak bagi setiap anak Allah.
Setiap air mata yang Anda tumpahkan sedang mengerjakan bagi Anda “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2 Kor. 4:17). Setiap tetes penderitaan-dan-duka akan tenggelam ke tanah seperti benih; menunggu untuk bertumbuh menjadi pohon tarbantin gelak tawa.
Mungkin ini terdengar mustahil. Mungkin Anda bertanya-tanya, ”Bagaimana nestapa ini, dukacita ini, kesedihan ini bisa berubah menjadi sukacita?” Tidak apa-apa jika Anda tidak dapat memahami caranya saat ini. Jalan Allah memang sering kali terlalu tinggi dan terlalu menakjubkan untuk kita pahami. Namun, dapatkah Anda percaya — sekalipun tidak ada dasar untuk berharap — bahwa apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah? (Luk. 18:27; Rom. 4:18).
Percaya bahwa Allah akan mengubah air mata kita menjadi sorak sorai bukan berarti kita tidak lagi berduka. Namun, itu berarti bahwa kita berpegang teguh pada-Nya ketika melalui berbagai rasa sakit; membiarkan setiap malapetaka menabrakkan kita ke dalam pelukan-Nya; bahwa kita belajar untuk meratap pada Allah, alih-alih mengutuk nama-Nya.
Kita akan terus membaca Alkitab meskipun kita merasa mati terhadap firman Tuhan. Kita akan terus berseru kepada Allah meskipun Dia sepertinya tidak mendengarkan kita. Kita akan terus bersekutu dengan umat Allah meskipun mereka tidak mengerti apa yang kita alami. Kita akan terus melayani orang lain meskipun kita memikul kesedihan ke mana pun kita pergi. Kita akan terus menabur benih kebenaran dan kasih karunia ke dalam jiwa kita yang tandus; menunggu hari ketika Allah membawa kita pulang.
”Aku Akan Menghapus Segala Air Matamu”
Seperti yang dinyanyikan Andrew Peterson dalam ”After the Last Tear Falls,”
Pada akhirnya, . . . Kita akan melihat air mata yang jatuh Terkumpul di telapak tangan Sang Pemberi kasih dan Sang Kekasih. Dan kita akan melihat kembali air mata ini sebagai cerita lama. Kita mungkin akan meratap semalaman; semalaman yang panjang. Selama kita melakukan perjalanan melalui lembah ini, kita akan tetap rentan terhadap berbagai serangan kehilangan, kekecewaan, dan kematian. Namun, sukacita akan datang pada pagi hari ketika Allah mengubah lembah-air-mata ini menjadi kota-sukacita-abadi.
Pada hari tersebut, Allah sendiri yang akan membungkuk pada setiap anak-anak-Nya yang sedang berduka dan — entah bagaimana dan dengan cara apa — Dia akan mengeringkan air mata kita selamanya. ”Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Why. 21:4).
Kemudian, suaranya Anda yang serak dan lelah akan berubah menjadi sorak-sorai ketika Anda bersaksi bersama-sama dengan laskar besar di surga, ”Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada air mata, dan kakiku dari pada tersandung. Aku boleh berjalan di hadapan TUHAN, di negeri orang-orang hidup” (Mzm. 116:8-9).
Dalam sekejap, air mata hanya akan menjadi penggalan dari sebuah kisah di masa lalu.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "What God Says to Your Tears "