Anda Tidak Dapat Menjamin Kesalehan Anaknya Anda

 

1 November 2017
Artikel oleh Marshall Segal
Staf penulis, desiringGod.org


Jika  para orangtua Kristen dapat memilih untuk mengendalikan satu hal mengenai masa depan anak kita, bukankah kita semua akan memilih hal yang sama? Di setiap bangsa, setiap budaya, di generasi mana pun, ada satu hal yang paling didoakan oleh setiap orang tua Kristen, mengalahkan permintaan lain yang mungkin kita buat untuk putra atau putri kita yang berharga: kita ingin mereka mengenal, menaati, dan menikmati Yesus.

Tentu kita ingin mereka panjang umur dan sehat. Tentu saja kita ingin mereka belajar dan menjadi dewasa selama masa sekolahnya tanpa menyerah pada tekanan teman sebaya. Tentu kita ingin mereka sukses dalam berkarir baik ketika mereka bekerja di kantor maupun di rumah. Tentu saja kita ingin mereka menikah, jika Allah menghendaki, dan memberi cucu pada kita. Meskipun kita ingin mempunyai cucu – jauh melebihi urusan mempunyai cucu – kita ingin anak-anak kita mengasihi Tuhan kita dengan segenap hati; segenap jiwa; segenap kekuatan; dan segenap akal budi (Mat. 22:37).

Kita tidak akan ragu-ragu menukar masa delapan puluh tahun kesehatan bebas kanker prestasi summa cum laude ketika lulus kuliah; stabilitas keuangan dan keamanan; dan seluruh bayi laki-laki dan perempuan jika kita tahu itulah yang diperlukan untuk melihat putra dan putri kita mengasihi Yesus. Bukankah begitu?

Ayah yang Baik

Saya membaca kisah mengenai Yotam dan putranya Ahas dengan semangat yang baru akhir-akhir ini karena sekarang saya membacanya sebagai seorang ayah. Kakeknya Ahas, Uzia, memerintah umat Allah selama 52 tahun, dan sebagian besar dari tahun-tahun itu, “ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN” (2 Taw. 26:4). Namun, pada akhirnya, Uzia mengecewakan seluruh bangsa; mempermalukan keluarganya; menolak Allah; dan terjatuh ke dalam dosa yang hebat (2 Taw. 26:16).

Alih-alih terjatuh ke dalam dosa ayahnya; atau menyalahkan kelemahan dan kegagalannya sendiri pada ayahnya ataupun pada ayahnya Ahas, maka Yotam, justru “melakukan apa yang benar di mata TUHAN tepat seperti yang dilakukan Uzia, ayahnya, hanya ia tidak memasuki Bait TUHAN…” (2 Taw. 27:2). Yotam mengikuti teladan ayahnya dalam kesalehan, namun menolak untuk mengulangi banyak kegagalan ayahnya.

Ayahnya Ahas ini tidaklah sempurna, namun tidak seperti kebanyakan raja dalam Perjanjian Lama (PL), catatan yang kita miliki tentang pemerintahannya [Yotam] adalah kisah mengenai kesetiaan, bukan kefasikan. Penulis Kitab Tawarikh mengatakan, “Yotam menjadi kuat, karena ia mengarahkan hidupnya kepada TUHAN, Allahnya” (2 Taw. 27:6).

Anak dari Ketidaktaatan

Yotam meninggal muda pada usia 41 tahun dan rakyat mengangkat putranya menjadi raja. Ahas berumur dua puluh tahun. Selama dua puluh tahun, Ahas menyaksikan ayahnya memimpin dengan iman. Lalu, bagaimana tanggapannya terhadap teladan ayahnya yang baik dan saleh tersebut?

Ahas berumur dua puluh tahun pada waktu ia menjadi raja dan enam belas tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Ia tidak melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya, tetapi dia hidup menurut kelakukan raja-raja Israel… (2 Taw. 28:1–2).

Kata “tidak” dalam ayat ini tidaklah terkait dengan ketidaktaatannya. Ahas tidak bertumbuh tanpa ayah dalam keluarga dengan orangtua tunggal. Ayahnya bukanlah contoh yang nominal atau apatis sebagai orang yang beriman. Ayahnya tidak sekadar mengajarkan apa yang benar di mata Tuhan, melainkan telah melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Namun, Ahas menolak semuanya itu – [dan memilih untuk] menjadi seorang budak dosa; anak durhaka; anak yang harus dimurkai (Rom. 6:16; Efe. 2:2-3).

Dia membuat patung-patung tuangan untuk dewa palsu Baal (2 Taw. 28:2). Dia melakukan pengorbanan dan persembahan kepada dewa-dewa asing “di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun” (2 Taw. 28:4) — di seluruh tanah yang telah dijanjikan-dan-diberikan Allah kepada umat-Nya. Ketika Allah mengirimkan gelombang musuh melawan bangsa itu karena dosanya, maka Ahas pergi ke Asyur, dan bukan pada Allah, untuk meminta pertolongan (2 Taw. 28:16-18). Dia bahkan mencuri dari Bait Allah untuk menyuap raja Asyur (2 Taw. 28:21). Kemudian, dia menghancurkan perkakas-perkakas untuk beribadah; membanting dan menutup pintunya bait TUHAN; dan membuat mezbah di seluruh Yerusalem tempat dia menyembah dewa-dewa penakluk dari berbagai bangsa (2 Taw. 28:22-25).

Upacara Aborsi

Ahas sangat jahat karena dia bahkan membakar anak-anaknya sendiri sebagai persembahan kurban (2 Taw. 28:3) — serangkaian upacara aborsi setelah dia menggendong bayi-bayi tersebut. Yotam tentu saja telah membesarkan Ahas untuk menyayangi dan melindungi anak-anaknya dan dengan tekun mengajari mereka, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ula. 6:4–5).

Namun, alih-alih memperkenalkan putra-putranya kepada “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa” (Kel. 34:6–7), Ahas malah mengurbankan anak-anaknya kepada ilah yang tidak dapat berbicara, mendengar, mencium, atau merasakan (Maz. 115:5-7); ilah yang tidak berharga dan tidak membawa manfaat apa-apa (Yes. 44:9). Dia membunuh cucu-cucunya Yotam untuk hal yang sia-sia .

Menyaksikan Ahas lari dari iman selalu menjadi hal yang sulit bagi saya. Namun, menjadi seorang ayah justru membuat hal tersebut semakin menyulitkan. Saya tiba-tiba dapat membayangkan putranya saya menolak Yesus dan memilih untuk berdosa setelah saya meninggal; menolak untuk memberi tahu cucu-cucunya saya tentang kekuatan, keindahan, kebijaksanaan, dan keberhargaan-Nya Juruselamat kita. Saya dapat menghabiskan setiap hari selama dua puluh tahun ke depan untuk berbagi; mengajar; menjadi teladan; mengajak; dan membujuk – selama 7300 hari – dan pada hari ke-7301, dia mungkin masih akan pergi [meninggalkan itu semua].

Hatinya saya tidak cukup kuat untuk memikirkan hal tersebut lama-lama.

Apa yang bisa kita lakukan?

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh seorang ayah? Allah tidak meminta seorang ayah (atau ibu) untuk mendikte apa yang terjadi pada hari ke-7301 anak kita – atau pada hari pertama mereka terkait dengan hal ini. Pola asuhnya dari orangtua tidak pernah secara mutlak menentukan nasib seorang anak. Yotam tidak bisa setia mewakili Ahas. Dia hanya bisa setia di hadapannya Ahas.

Anda tidak dapat menanggung kesalahan anaknya Anda di hadapan Tuhan. Hanya Kristus yang bisa (Rom. 3:23-25). Anda tidak dapat memberikan karunia pertobatan dan iman pada putrinya Anda. Hanya Allah yang sanggup (2 Tim. 2:25). Anda tidak dapat mengerjakan pekerjaan baik yang direncanakan Allah untuk anaknya Anda. Hanya Allah yang dapat melakukannya, melalui anak-anaknya Anda (Fil. 2:12-13; Efe. 2:10), sebagai buah dari iman mereka sendiri kepada- Nya (Yak. 2:26). Meskipun rentan dan berbahaya, kita tidak bisa menjamin kesalehan anak kita.

“Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok…” (Yak. 4:13–14). Sedang kamu tidak tahu . Terlepas dari apa yang kita rasakan hampir setiap hari, Anda dan saya tidak bisa mengontrol atau mendiktekan mengenai rincian final apa pun dalam kehidupan anak-anak kita. Kita hanya dapat dengan setia menyediakan; mempengaruhi; mendisiplinkan; mengajar; dan melatih mereka di bawah pengawasan kedaulatan-Nya Bapa yang jauh lebih baik.

Pengasuhan Anak yang Sukses

Kita tidak dipanggil untuk melakukan serangkaian langkah rumit yang menjamin hasil tertentu dalam hatinya anak kita. Meskipun teknik mengasuh anak itu tampak memberatkan dan mustahil, kedagingan kita dengan bodohnya lebih memilih untuk mempercayakan anak-anak kita kepada orang lain. Tidak, keberhasilan dalam mengasuh anak tidak terletak pada pelaksanaan suatu proses yang cermat. Kesuksesan sejati dalam mengasuh anak adalah dengan mengambil langkah hari ini dalam ketaatan yang teguh terhadap firman-Nya Allah; dengan ketergantungan yang penuh doa pada kekuatan-Nya Allah; dan dengan iman yang berserah diri terhadap rencana-Nya Allah — dengan selalu menyerahkan hasil jangka pendek dan jangka panjang (bahkan yang kekal) kepada kehendak-Nya Allah.

Kita semua menyukai gagasan tentang iman yang berserah diri terhadap rencana-Nya Allah – sampai hal itu meliputi rencana anak-anak kita yang mungkin tidak percaya kepada-Nya. Ironi dalam ketegangan itu tidak kentara, namun kental. Apakah saya cukup memercayai Allah sehingga membiarkan Dia memutuskan apa yang diyakini anaknya saya mengenai Allah? Menjadi seorang ayah, sejujurnya, rasanya lebih mengintimidasi ketimbang disiksa; atau menjadi martir karena imannya saya di suatu tempat di Timur Tengah.

Namun, jika kita mau memercayakan masa depan anak-anak kita kepada Allah, maka kita dapat berfokus pada mengasuh anak dengan setia pada saat ini; sambil memohon kepada-Nya untuk menggerakkan hati mereka dan menuntun mereka kepada-Nya.

Ayah Sejati dari Anaknya Anda

Akta kelahiran mungkin menyatakan bahwa putra dan putri kita secara hukum bergantung pada kita, namun pertama-tama dan terutama mereka adalah milik-Nya Allah. Kita tidak bisa memberikan anak-anak kita kepada-Nya, karena mereka selalu adalah milik-Nya — yang diimpikan dalam imajinasi-Nya yang tak terbatas; yang dirajut secara halus oleh tangan-Nya (Maz. 139:13-15); ditempatkan oleh-Nya di belahan dunia ini pada saat ini dalam suatu titik dalam sejarah (Kis. 17:26); yang setiap hari direncanakan oleh-Nya bahkan ketika sebelum ada satu hari pun (Maz. 139:16). Kita mungkin terbangun pada suatu hari dan menyadari bahwa kita dapat memercayai Dia dalam mengurus anak-anak kita. Namun, kenyataannya, Dia tidak pernah berhenti mengasuh mereka.

Sebelum Yotam benar-benar bisa menjadi ayah yang saleh bagi Ahas, ia harus menyerahkan Ahas kepada Allah. Seperti Abraham, yang mengantar Ishak yang berharga ke atas gunung, maka kita harus percaya bahwa apa pun panggilan Allah bagi kita untuk dilakukan atau ditanggung dalam mengasuh anak, maka Dia akan menyediakannya. Dia mungkin tidak memilih apa yang akan kita pilih untuk anak-anak kita; atau memberikan apa yang kita minta, tetapi Dia tidak akan salah memilih. Dia akan memberikan semua yang kita butuhkan.

***

Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul "You Cannot Guarantee Your Child’s Godliness."

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *