Mengapa Allah Mau Menjawab Pertanyaan yang Paling Sulit
22 November 2019 Artikel oleh Scott Hubbard Editor, desiringGod.org
Jika Anda ingin tahu mengenai apa yang Anda percayai tentang Alkitab, perhatikanlah pertanyaan seperti apa yang Anda ajukan.
Beberapa dari kita menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan karena mungkin menganggap bahwa mempertanyakan sama saja tidak menghormati. Kita membuka halaman Kitab Suci dengan berhati-hati seolah-olah Kitab Suci adalah sebuah museum seni; setiap perikop seolah-olah dipagari dengan seruan ”Jangan disentuh”.
Beberapa orang mengajukan pertanyaan, tetapi dengan rasa gugup dan ragu. Mereka merasa khawatir jika kebenaran Alkitab tidak bisa bertahan di bawah penyelidikan yang cermat. Kita membaca Kitab Suci seperti seolah-olah sedang memegang barang antik yang mungkin akan pecah jika disentuh terlalu keras.
Namun, Alkitab bukanlah sebuah museum atau toko barang antik, melainkan sebuah dunia yang tangguh dan tahan banting; yang dibuat untuk para penjelajah. Saat kita membuka lembaran Alkitab, Allah mengajak kita untuk mendaki gunung kemuliaan-Nya, menyelami lautan misteri-Nya, dan menggali tambang pikiran-Nya yang tak terbatas. Kita tidak bisa terlalu ngotot berlari di bukit-bukit ini atau memandang bintang-bintang hingga terlalu jauh. Kita tidak bisa menguras lautan, membungkam badai petir, atau menghancurkan batuan granit. Kita hanya bisa terpaku; terdiam; hancur; dan terkagum-kagum dibuatnya.
Pertanyaan kita tentang Alkitab tidak akan menimbulkan ancaman bagi dunia ini. Berbagai pertanyaan itu hanya akan membawa kita lebih dalam pada keindahannya.
Menghormati Dengan Cara Bertanya
Tentu saja bagaimana kita mengajukan pertanyaan tentang Alkitab itu sangat penting. Kita akan membahasnya. Namun, sebelum melakukannya, pikirkanlah mengapa kita harus mengajukan berbagai pertanyaan jika tujuan kita memang untuk menghormati Firman Allah sebagaimana seharusnya.
Pertama, pikirkanlah buku seperti apakah Alkitab itu. Di dalam Alkitab kita menemukan sebuah perpustakaan yang berisi pewahyuan ilahi. Ada 66 buku dalam berbagai genre sastra yang ditulis selama ribuan tahun. Terjunlah ke dalam Alkitab secara acak. Mungkin Anda akan membaca puisi atau nubuatan; perumpamaan atau surat; peribahasa atau pewahyuan.
Alkitab tidak hanya memiliki genre sastra yang beragam, tetapi juga gaya sastra yang beragam. Walaupun semua orang yang menulisnya ”berbicara atas nama Allah berdasarkan pimpinan Roh Kudus” (2 Pet. 1:21 AYT), namun Yesaya bukanlah Yeremia; Lukas bukanlah Yohanes. Cahaya kebenaran Allah sampai kepada kita dari sumber yang sama, namun setelah sebelumnya melewati prisma multi segi kepribadian-dan-sudut-pandangnya manusia.
Kedua faktor tersebut sudah menciptakan adanya keragaman dalam Kitab Suci, adanya pertentangan, sehingga kita bisa sepakat dengan apa yang dinyatakan John Piper: ”Jika kita tidak bertanya dengan serius bagaimana teks-teks yang berbeda bisa selaras, maka kita adalah manusia super (yang bisa melihat semua kebenaran secara sekilas) atau manusia yang tidak peduli (yang tidak peduli untuk melihat bagaimana berbagai kebenaran tersebut bisa selaras)” (Brothers, We Are Not Professional, hal. 94-95). Namun, ini belumlah semuanya.
Mencari Kebenaran
Pikirkanlah juga bahwa para penulis Kitab Suci tidak selalu menyampaikan pesannya sesederhana mungkin. Walaupun inti pengajaran Kitab Suci cukup jelas untuk dipahami bahkan oleh anak-anak, tidak semua bagian Alkitab sama jelasnya. Sering kali, Allah tidak ingin menyatakan kebenaran itu begitu saja. Dia ingin kita menyelidikinya (Ams. 25:2). Itulah sebabnya mengapa banyak bagian Alkitab yang dipenuhi kerumitan-yang-disengaja. Seperti misalnya ini: ”Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak” (Ams. 26:4-5).
Seorang pembaca Alkitab yang jeli akan melihat adanya pertentangan seperti ini di seluruh isi Alkitab – tidak hanya antara ayat-ayat yang berdekatan, tetapi juga antara pasal-pasal dalam kitab yang sama; antara kitab-kitab dari penulis yang sama; dan antara tulisan-tulisan dari penulis yang berbeda.
Sebagai contoh, mengapa Allah berkata, ”Aku menyesal karena telah menjadikan Saul sebagai raja”, namun delapan belas ayat setelahnya Samuel menyatakan kalau Allah ”tidak akan menyesal”? (1 Sam.15:11,29 AYT). Atau, bagaimana kita mencocokkan dunia sebab-akibatnya Kitab Amsal yang teratur dengan Kitab Pengkhotbah yang penuh teka teki? Atau, bagaimana kita menyamakan khotbah Paulus yang penuh pengetahuan budaya di hadapan orang-orang Atena (Kis. 17:22-31) dengan komitmennya di Korintus untuk ”tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor. 2:2)?
Setiap pertentangan itu disengaja; bukan kebetulan. Sering kali, manusia yang menulisnya tersebut yang dengan sengaja membuat pertentangan itu. Allah selalu melakukannya. Mengapa? Supaya ketika membaca Alkitab, kita akan ”berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian”; kita akan ”mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam” (Ams. 2:3-4). Dengan kata lain, supaya kita dengan sungguh-sungguh berpikir sambil berdoa. Kita tidak bisa berpikir dengan baik sebelum mempertanyakan ini itu.
Hati Di Balik Pertanyaan Kita
Kita tidak punya pilihan mengenai apakah kita akan mengajukan pertanyaan atau tidak – hanya mengenai bagaimana. Kisah dalam Alkitab mengingatkan kita bahwa bagaimana itu lebih penting dari yang sering kita bayangkan. Maria menerima jawaban yang mulia karena pertanyaannya (Luk. 1:34-38). Zakaria kehilangan suaranya karena pertanyaannya (Luk.1:18-23). Murid-murid belajar tentang akhir zaman karena pertanyaannya (Mrk. 13:4-37). Ahli Taurat pergi dengan malu karena pertanyaannya (Mrk. 11:27-33). Pertanyaan bisa membangkitkan kesenangan atau kemarahan-Nya Allah karena tergantung pada hati di balik pertanyaan tersebut.
Bagaimana seharusnya kita mengajukan pertanyaan tentang Firman Tuhan? Dengan rendah hati; penuh pengharapan; kesabaran.
Bertanya dengan Rendah Hati
Ketika Digory dan Polly bertemu dengan para binatang yang bisa berbicara dalam bukunya C.S. Lewis, The Magician’s Nephew, Paman Andrew menjadi ternganga; ketakutan. Sementara anak-anak mendengar binatang-binatang itu berbicara dalam bahasa Inggris yang bisa dimengerti, Paman Andrew hanya mendengar gonggongan dan geraman dari binatang buas tersebut. Si penceritanya menjelaskan, ”Apa yang kamu lihat dan dengar sangat tergantung pada di mana posisi kamu berdiri. Juga, tergantung pada orang seperti apa kamu” (Magician’s Nephew, 75). Jika pertanyaan kita bermaksud untuk menyingkapkan kemuliaan dalam Firman Tuhan, bukan hanya mengenai urusan tinta di atas kertas, maka kita masing-masing harus menjadi orang yang seperti itu – orang yang rendah hati.
Orang yang paling peka secara rohani di dunia ini bukanlah orang yang memiliki peralatan mental terbaik, tetapi orang yang telah direndahkan hatinya oleh anugerah. Allah menyatakan rencana-Nya bukan kepada ”orang yang bijak dan pandai”, tetapi kepada ”orang kecil” (Luk. 10:21). Sementara orang yang-cerdas-tetapi-sombong mencari Firman Tuhan seperti orang yang mabuk di tengah malam, Allah ”memimpin orang yang rendah hatinya kepada yang benar dan diajarkan-Nya jalan-Nya akan orang yang lemah lembut hatinya” (Maz. 25:9, TL).
Ketika orang yang rendah hati mengajukan pertanyaan tentang Kitab Suci, mereka bertanya sebagai seorang rakyat di hadapan seorang Raja; seorang makhluk di hadapan Sang Pencipta; seorang pendosa yang sudah ditebus di hadapan Yang Kudus. Pertanyaan yang diajukan untuk menguji Allah tidak akan menerima jawaban, tetapi teguran sebagai balasannya (Mat.12:38-42; Rom. 9:19-20). Pertanyaan yang datang dari orang yang rendah hati dan remuk hatinya, yang mencari pengertian dengan sungguh-sungguh – adalah pertanyaan yang disukai Allah (Yes. 57:15).
Bertanya dengan Penuh Pengharapan
Namun, orang yang betul-betul rendah hati tidak hanya mengajukan pertanyaan. Mereka juga berharap bahwa Allah akan menjawab dan ”memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibr. 11:6). Kerendahan hati yang palsu mungkin berpuas diri dengan hanya dengan menepuk air di pinggir pantainya Kitab Suci; berbicara tentang semua misteri di bawahnya. Kerendahan hati yang sejati akan menyelam ke kedalaman; mencari harta yang terpendam.
Dugaan saya, kebanyakan dari kita sering kali mengakhiri pencarian terlalu cepat dengan cara mencari harta terpendam yang sudah ditemukan dalam kelas pendalaman Alkitab dan oleh para penafsir; para pengkhotbah yang berbakat. Tentu saja, Allah sering memberikan jawaban atas pertanyaan kita melalui para pengajar tersebut, baik mereka yang sudah meninggal maupun masih hidup, yang memang sudah diberikan-Nya kepada Gereja (Efe. 4:11). Adalah sebuah kebodohan jika kita membatasi hikmat kita hanya pada apa yang kita sanggup temukan sendiri jawabannya.
Namun, adalah salah jika mengajukan pertanyaan dan secara naluriah mengandalkan orang lain untuk memberikan jawabannya. Kita lupa bahwa pada saat-saat seperti itu ”Tuhanlah yang memberi hikmat” (Ams. 2:6). Apa lagi arti janji seperti itu selain pada saat kita berseru-seru demi pengetahuan; mengangkat suara kita demi pengertian; mencurahkan pikiran dan hati kita pada teks; berpikir lebih keras lebih dari yang kita pikir kita mampu; Allah sendirilah yang kemudian akan menyingkapkan pada kita melebihi dari apa yang kita pikir sanggup untuk diketahui? Kita tidak berani membatasi penemuan yang dapat terjadi dalam dunia Kitab Suci; yang dilakukan oleh pikiran yang sudah ditebus-dan-dipimpin oleh iman dan kasih.
Bertanya dengan Sabar
Akhirnya, terkait kerendahan hati dan pengharapan, kita tambahkan kesabaran. Karena jika kita mengajukan pertanyaan tentang Firman Allah dengan serius, pada akhirnya kita akan mengajukan pertanyaan yang tidak dapat ditemukan jawabannya. Kita sudah bertanya dengan rendah hati. Kita sudah bertanya dengan penuh pengharapan. Namun, setidaknya untuk saat ini, usaha kita hanya menghasilkan debu.
Allah, dalam hikmat-Nya, tidak melihat baik untuk memberikan jawaban atas segala ”hal-hal yang tersembunyi” yang sangat membingungkan kita (Ula. 29:29). Di alam semestanya kita, ada kedalaman bawah tanah dan ketinggian galaksi yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Demikian juga dalam Kitab Suci. Ada kedalaman-dan-ketinggian hikmat-Nya Alah yang tidak bisa kita capai pada masa ini. Namun, sebaliknya, semuanya itu harus didekati dengan kekaguman dalam keheningan.
Tidak semua misteri dalam kehidupan ini akan menjadi jelas. Tidak semua simpul akan terurai. Tidak semua teka-teki akan terpecahkan. Namun, iman Kristen pada akhirnya bukan tentang mengetahui semua hal yang ingin kita ketahui, melainkan lebih mengenai pengenalan akan Yesus Kristus. ”Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:3).
Jawaban, betapa pun mulianya, bukanlah pengharapan terakhirnya kita. Harapan terakhirnya kita adalah Kristus. Ketika pengetahuan kita goyah, hendaknya persekutuan kita dengan Kristus tidak perlu ikut-ikutan goyah. Karena pada saat seperti inilah kita kembali menemukan apa artinya ”percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Ams. 3:5). Kekekalan akan membuktikan bahwa kepercayaan seperti itu bukanlah tanpa dasar meskipun beberapa dari kita sepanjang perjalanan ini harus berseru-seru ”tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mar. 9:24).
Sementara itu, berbagai bagian Alkitab yang belum dipahami masih menunggu kita. Datang dan berlarilah di ladang-ladang pewahyuan ini. Arungilah sungainya. Dakilah gunungnya. Terbanglah ke awan setinggi yang Anda mampu. Ketika Anda melakukannya, berharaplah untuk menemukan harta-yang-terpendam; berharaplah untuk menemukan lebih banyak hal mengenai Allah.
***
Artikel ini diterjemahkan dari desiringgod.org dengan judul 'ASK THE BIBLE ANYTHING Why God Rewards the Hardest Questions.'